Dari Jalur Sutera menuju Panggung Dunia: Perjalanan Inspiratif Gerakan 100 CTFP
- 27 Jul 2026 14:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Natalia Tjahja membangun gerakan 100 CTFP untuk menggalang dukungan global bagi atlet difabel.
- Dukungan datang dari penyair China Cao Shui hingga Presiden IPC Andrew Parsons.
- Gerakan 100 CTFP kini melibatkan 643 tokoh dunia dari berbagai latar belakang.
SEBUAH gerakan besar sering kali lahir dari langkah kecil yang dijalani dengan ketulusan. Kisah itulah yang kini tergambar dalam perjalanan gerakan 100 CTFP menuju panggung dunia.
Menjelang Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, dukungan bagi atlet difabel terus berdatangan dari berbagai negara. Gerakan yang dirintis Natalia Tjahja perlahan menjelma menjadi ruang yang mempertemukan kemanusiaan, olahraga, dan harapan.
Di antara banyak dukungan itu, hadir pesan dari penyair ternama China sekaligus Honorary Chairperson gerakan 100 CTFP, Cao Shui. Ia memandang olahraga bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang untuk menunjukkan kekuatan batin setiap manusia.
"Saya berharap para atlet yang bertanding pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 mampu menunjukkan seluruh potensi terbaiknya melalui semangat yang penuh makna. Asia adalah tempat matahari terbit, dan saya yakin kalian akan memancarkan kekuatan serta harapan baru," dikutip dari keterangan tertulis kepada RRI.co.id, Senin, 27 Juli 2026.
Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak selalu diukur melalui medali semata. Keberanian untuk bangkit dan terus melangkah juga menjadi kemenangan yang layak dirayakan.
Bagi Natalia Tjahja, dukungan tersebut bukan sekadar rangkaian ucapan penyemangat dari berbagai tokoh dunia. Baginya, setiap pesan menjadi penguat bahwa perjuangan kecil mampu menghadirkan perubahan besar.
Perempuan yang mendirikan Maria Monique Last Wish Foundation itu mengaku perjalanan gerakan tersebut dibangun dengan kesabaran panjang. Ia meyakini ketulusan akan menemukan jalannya meski dimulai dari langkah yang sederhana.
"Saya berharap semakin banyak figur publik dunia bergabung mendukung gerakan 100 CTFP. Kehadiran mereka diharapkan menginspirasi para atlet difabel di berbagai belahan dunia," katanya.
Natalia juga berharap dukungan itu semakin luas, terutama dari tokoh-tokoh populer Asia yang memiliki pengaruh besar. Menurutnya, pesan sederhana dari seorang figur publik mampu membangkitkan semangat ribuan atlet difabel.
Perjalanan tersebut kemudian memasuki babak baru ketika dunia mulai memberikan pengakuan secara terbuka. Momentum itu hadir saat President of the International Paralympic Committee (IPC), Andrew Parsons, merayakan satu tahun kampanye 100 CTFP.
Pada 11 Juli 2026, Andrew Parsons meluncurkan video resmi sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan tersebut. Baginya, misi 100 CTFP sejalan dengan upaya IPC membangun dunia yang semakin inklusif melalui olahraga.
"Selamat atas satu tahun perjalanan Kampanye 100 CTFP dan Maria Monique Last Wish Foundation. Saya merasa terhormat mendukung gerakan ini karena sejalan dengan misi IPC membangun dunia yang lebih inklusif melalui olahraga difabel," ujarnya.
Apresiasi itu menjadi pengakuan penting bagi gerakan yang tumbuh tanpa sorotan besar sejak awal. Natalia mengaku tidak pernah membayangkan perjuangannya akan mendapat perhatian dari pimpinan IPC.
Ia kemudian mengenang kembali masa ketika semua dimulai dengan sumber daya yang sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu tidak pernah mengurangi keyakinannya untuk terus melangkah.
"Puji Tuhan atas setiap penyertaan dalam perjalanan ini. Terima kasih kepada President IPC, Andrew Parsons, yang mengapresiasi perjalanan saya sejak awal, ketika semuanya dimulai tanpa keuntungan dan tanpa anggaran," katanya.
Kini, perjalanan panjang tersebut telah berkembang menjadi gerakan yang melibatkan ratusan tokoh dari berbagai negara. Semangat yang dahulu lahir dari sebuah mimpi sederhana telah melampaui batas bahasa, budaya, dan wilayah.
Hingga saat ini, sebanyak 643 tokoh dunia dari berbagai profesi telah bergabung dalam gerakan 100 CTFP. Angka tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap atlet difabel mampu menyatukan banyak orang melalui nilai kemanusiaan.
Bagi Natalia, perjalanan itu belum mencapai garis akhir, melainkan baru memasuki babak berikutnya. Ia berharap semakin banyak tangan yang terulur agar para atlet difabel terus melangkah dengan keyakinan menuju panggung dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....