Keliling Dunia Jalur Beasiswa: Kisah Akademik Menag Nasaruddin Umar

  • 28 Feb 2026 17:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik jubah kebesaran seorang Menteri Agama, tersimpan memori tentang aroma tanah basah di sebuah desa terpencil di Bone, Sulawesi Selatan. Masa kecil Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang perjuangan menulis di atas papan batu karena kertas adalah barang langka.

Setiap hari, ia harus membagi waktu antara bangku sekolah dengan tugas menggembala ternak di bawah terik matahari. Tak jarang, ia juga harus mencangkul sawah di tengah rasa lapar saat menjalankan ibadah puasa Ramadan yang begitu syahdu.

"Saya masih ingat betul bagaimana rasanya menulis di atas papan batu itu, yang harus dihapus setiap kali pelajaran berganti," kenang Prof. Nasaruddin dalam Podcast Pro3 Siniar yang tayang di kanal YouTube RRI Pro3, Sabtu, 28 Februari 2026. Ketebalan debu kapur di jemarinya justru menjadi saksi bisu lahirnya tekad untuk menaklukkan dunia melalui jalur pendidikan.

Langkah kakinya yang semula berpijak di lumpur sawah, perlahan mulai menapaki koridor-koridor megah universitas elit di mancanegara. Ia berhasil menembus ketatnya seleksi beasiswa di Universitas McGill, Kanada, untuk mendalami studi Islam dalam perspektif yang lebih luas.

Dunia akademik membawanya berkelana lebih jauh ke jantung Eropa, tepatnya di Universitas Leiden, Belanda, sebagai seorang Visiting Student. Di sana, ia membedah metodologi penelitian sosial dengan standar ketat yang membentuk ketajaman berpikirnya sebagai seorang calon profesor.

Semangatnya yang haus akan ilmu kemudian mengantarkannya ke Universitas Sorbonne di Prancis, sebuah kiblat intelektual yang sangat prestisius. Ia menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan buku tua untuk memahami hubungan kompleks antara agama dan negara modern.

Tidak puas hanya di Eropa, Nasaruddin terbang ke Amerika Serikat untuk menjadi Visiting Fellow di Universitas Georgetown, Washington D.C. Fokusnya saat itu adalah merajut dialog perdamaian antarperadaban yang sangat krusial bagi stabilitas dunia di masa depan.

Perjalanan intelektualnya pun menyentuh Negeri Sakura saat ia terpilih menjadi peneliti tamu di Universitas Sophia, Tokyo. Di Jepang, ia tidak hanya belajar teknologi riset, tetapi juga menyerap etos kerja dan kedisiplinan yang sangat luar biasa.

Sebagai penyeimbang ilmu Barat, ia kembali ke akar keilmuan Islam klasik melalui pengayaan riset di Universitas Al-Azhar, Kairo. Perpaduan antara kutub pemikiran Timur dan Barat inilah yang membuat sosoknya dikenal sebagai ulama yang sangat moderat.

"Peluang beasiswa selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mempersiapkan diri melampaui rata-rata," tuturnya dengan nada penuh motivasi. Kini, sang anak desa telah bertransformasi menjadi Guru Besar dan dipercaya memimpin Kementerian Agama Republik Indonesia di bawah kabinet terbaru.

Bagi Nasaruddin, jabatan menteri bukanlah sekadar kekuasaan, melainkan amanah untuk memastikan setiap anak desa memiliki kesempatan yang sama. Ia ingin membuktikan bahwa papan batu di masa lalu bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan yang mendunia.

Kisah hidupnya adalah pengingat bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki iman dan ketekunan. Di tangan dingin sang Profesor, harapan besar disematkan agar Indonesia menjadi oase kedamaian dan kemajuan intelektual yang membanggakan.

Penasaran bagaimana getaran suara dan ketulusan Prof. Nasaruddin Umar saat menceritakan masa kecilnya yang menyentuh hati? Jangan lewatkan kisah lengkap perjuangan sang Menteri Agama dari desa terpencil hingga menaklukkan kampus dunia hanya di kanal YouTube RRI Pro 3. Klik di sini untuk menonton video lengkapnya!"

Rekomendasi Berita