Perjalanan Menag Nasaruddin Umar dari Anak Desa Terpencil Menembus Dunia

  • 01 Mar 2026 07:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenang masa kecilnya yang dihabiskan di Desa Ujung, sebuah desa terpencil di Bone, Sulawesi Selatan. Ia menyebut desanya seolah di ujung dunia, jauh dari hiruk-pikuk kota, harus menyeberangi danau atau gunung menujunya.

Ia mengingat kembali saat duduk di sekolah dasar, hanya punya satu guru yang mengajar semua kelas. Karena situasi perang gerilya antara Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DTI) membuat para guru lain mengamankan diri masing-masing.

Namun, ayahnya yang seorang guru memutuskan untuk tetap mengajar meski berada di tengah ancaman yang nyata. Ia menjadi pengajar tunggal, berani bertahan demi masa depan anak-anak di desanya.

“Bapak saya sendiri karena kita warga di sana, apapun yang terjadi pokoknya jika mati, mati syahid. Daripada ratusan anak di sana tidak sekolah, maka diajar,” ujarnya saat Podcast bersama Pro3 Siniar di Jakarta, Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia mengenang bagaimana ayahnya menegosiasikan keamanan sekolah agar tetap berjalan, bahkan untuk anak-anak dari kedua pihak yang bertikai. “Anda silahkan berperang tapi jangan ganggu sekolah kami, ini masa depan anak-anak kita,” ujarnya, menirukan keteguhan ayahnya.

Tidak ada taman kanak-kanak saat itu, sehingga ia mulai belajar langsung ketingkat Sekolah Dasar (SD). Setelah tamat SD, ia belajar di pesantren As’adiyah Sengkang, kemudian ke Fakultas Syariah Makassar, sebelum akhirnya menapaki pendidikan di Jakarta.

Ia menekankan bahwa semua kesempatan yang didapatnya ditempuh melalui beasiswa karena berasal dari keluarga miskin dengan delapan bersaudara. “Saya dari beasiswa ke beasiswa,” katanya.

Tapi semua itu tidak berjalan dengan mulus, banyak tantangan menghadang di perjalanan pendidikannya. Perjalanan studinya sempat terhambat ketika orang tua menasihati agar ia tidak melanjutkan pendidikan ke Mesir saat itu.

Kedua orang tuanya menginginkan anak sulung dari delapan bersaudara ini menjadi seorang dosen, untuk membantu menyelesaikan studi adik-adiknya. “Demi adik-adik saya dan orang tua, saya batalkan sementara ke Mesir dan fokus menjadi dosen dulu,” ujarnya.

Setelah menunaikan tanggung jawab itu, ia kembali menata langkah untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Kesempatan beasiswa di Tokyo, Kanada, Belanda, Prancis, Inggris, Mesir, hingga Amerika membuka jalan baginya menimba ilmu lebih luas.

Ia menekankan bahwa semua itu bisa tercapai berkat tekad, kerja keras, dan bantuan beasiswa yang menjadi kunci perjalanan akademiknya. “Ini bukti bahwa anak desa terpencil pun bisa menembus perguruan tinggi ternama dunia,” ujarnya.

Pengalaman menghadapi larangan orang tua itu justru memperkuat semangatnya untuk berjuang dan menegaskan prioritas keluarga. Ia belajar bahwa sukses pribadi harus seimbang dengan tanggung jawab terhadap orang tua dan saudara.

Kisah ini menjadi teladan bagi generasi muda bahwa tantangan bukan penghalang, melainkan motivasi untuk terus maju. “Man jadda wa jadda, barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa dapat, siapa yang berjalan pasti akan nyampe,” katanya.

Kini, karier akademik dan kepemimpinannya mencerminkan perjalanan panjang penuh pengorbanan dan ketekunan. Dari siswa SD di desa terpencil hingga menjadi Menteri Agama, ia menapaki setiap jenjang dengan tekad luar biasa.

Rekomendasi Berita