Burger TemCi, Dari Kleci Terlupa Menjadi Harapan Petani Desa

  • 05 Mei 2026 11:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Produk telah terjual lebih dari 700 porsi dan mendapat dukungan program kewirausahaan kampus.
  • Burger TemCi karya mahasiswa Universitas Sebelas Maret mengolah tempe dan kentang kleci menjadi produk bernilai tambah.
  • Inovasi ini bertujuan meningkatkan nilai jual komoditas lokal sekaligus mendukung kesejahteraan petani desa.

RRI.CO.ID, Surakarta - Aroma Burger TemCi mengalun lirih, membelai kenangan pada pangan desa sederhana. Sajian ini merajut kisah cinta mahasiswa terhadap tempe dan kentang kleci yang lama terabaikan.

Stan sederhana itu berdiri teduh di tengah riuh Campuspreneur Expo pada 1-2 April 2026. Pengunjung terpikat oleh konsep unik yang menyatukan rasa dan misi sosial.

Burger TemCi menjadi akronim dari tempe dan kentang kleci khas Boyolali yang sering dipandang sebelah mata. Produk ini lahir dari kegelisahan mahasiswi Agribisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Dinda Feta Falestri.

Seseorang yang sedang memegang Burger TemCi (Foto: Dokumentasi Kementerian Perdagangan)

Dinda menangkap realitas getir saat petani menjual kentang kleci dengan nilai rendah di pasar. Komoditas itu umumnya hanya direbus tanpa sentuhan inovasi bernilai tambah.

“Saya melihat langsung bagaimana biasanya petani menjual kentang di pasar dalam bentuk rebus saja sehingga nilai jualnya masih terbatas. Padahal kalau diolah, nilainya bisa lebih tinggi, dari situ kami ingin mencoba memanfaatkan sekaligus mendukung petani di sana,” ujar Dinda dalam keterangan yang diterima RRI, Senin, 4 Mei 2026.

Dinda menempuh riset mandiri untuk menemukan potensi tersembunyi dalam kentang kleci tersebut. Ia mendapati tekstur kentang tidak lembek dengan kadar air lebih rendah.

Kentang kleci menghadirkan rasa manis alami serta kandungan antioksidan yang menyehatkan tubuh. Komoditas ini juga berpotensi membantu mencegah anemia dan hipertensi.

Dinda merajut kolaborasi bersama Anggita dan tim mahasiswa lain dalam mengembangkan usaha ini. Mereka memadukan tempe sebagai protein dengan kentang kleci sebagai sumber karbohidrat seimbang.

Dalam enam bulan perjalanan, Burger TemCi telah terjual lebih dari 700 porsi ke konsumen. Pemasaran dilakukan melalui penitipan produk serta sistem pesanan dimuka atau pre-order.

Tim menghadapi tantangan waktu karena harus menyeimbangkan kuliah dengan proses produksi. Mereka menjaga kualitas rasa di tengah ritme akademik yang terus berlari.

Perjuangan tim mendapat apresiasi melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) di UNS. Mereka juga mengikuti seleksi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) untuk memperluas peluang usaha.

Program Campuspreneur dari Kementerian Perdagangan membuka ruang tumbuh bagi wirausaha muda kreatif. Kegiatan ini menghadirkan pembelajaran tentang pengembangan produk hingga jejaring bisnis.

“Harapannya, Burger TemCi bisa terus berjalan dan dikenal lebih luas. Melalui kegiatan Campuspreneur, kami juga bisa menambah jejaring dan bertemu dengan banyak wirausaha muda dari kampus lain yang usahanya keren-keren banget,” ucap Anggita.

Burger TemCi menjelma bukti bahwa bahan sederhana dapat bertransformasi menjadi karya bernilai tinggi. Inovasi ini menyalakan harapan baru bagi potensi lokal yang lama terpinggirkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....