Kisah Remaja Peduli Lingkungan, Berawal dari Resah, Berujung Kalpataru

  • 13 Jun 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perjalanan Marshela dimulai dari kegelisahannya melihat kondisi lingkungan di daerah tempat tinggalnya
  • Selain tantangan sumber daya manusia, faktor alam juga menjadi hambatan dalam program restorasi lahan
  • Penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan

RRI.CO.ID, Jakarta – Di usia 18 tahun, Marshela Wahyu Muntia telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal batas usia. Remaja asal Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu menjadi salah satu penerima Kalpataru Youth Award 2026.

Kalpataru adalah penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada generasi muda inspiratif. Dan di inisiasi langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Perjalanan Marshela dimulai dari kegelisahannya melihat kondisi lingkungan di daerah tempat tinggalnya. Sejak usia 15 tahun, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan lingkungan.

Namun, kepedulian itu tidak berhenti pada aktivitas seremonial semata. Tiga tahun lalu, saat berusia 16 tahun, Marshela mendirikan Warsa Kelana (Wadah Aksi Remaja Peduli Kelestarian Alam Nusantara).

“Komunitas bergerak yang menghimpun anak-anak muda di Sragen untuk terlibat langsung dalam upaya restorasi lahan kritis. Awalnya dari kesadaran sendir ikut kegiatan lingkungan dan saya berpikir anak muda juga bisa berperan dalam menjaga alam,” ujar Marshela, kepada rri.co.id ditulis, Sabtu, 13 Juni 2026.

Fokus utama Warsa Kelana adalah pemulihan lahan kritis yang banyak ditemukan di wilayah utara Bengawan Solo, khususnya Kabupaten Sragen. Bersama 25 hingga 50 sukarelawan, Marshela rutin melakukan penanaman pohon dan berbagai kegiatan pemulihan lahan.

Tak hanya menggerakkan komunitas, Marshela juga menghadirkan inovasi yang lahir dari persoalan di sekitarnya. Melihat banyaknya limbah peternakan sapi yang belum termanfaatkan, ia mengembangkan Pupuk Saphio.

Yang mana pupuk organik berbahan dasar limbah ternak yang digunakan untuk membantu meningkatkan kesuburan tanah. Menurutnya, persoalan lingkungan sering kali dapat diselesaikan dengan pendekatan sederhana apabila masyarakat mampu melihat potensi yang ada.

Dalam membangun kapasitasnya, Marshela tidak berjalan sendiri. Ia banyak belajar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sragen, mulai dari teknik pembibitan, penanaman, hingga pengolahan pupuk organik.

Selain itu, ia juga memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan digital untuk memperluas wawasan terkait konservasi lingkungan. Dedikasinya di bidang lingkungan bahkan telah mendapat pengakuan sebelumnya.

Pada 2024, Marshela meraih penghargaan Green Ambassador Nasional yang diselenggarakan Institut Hijau Indonesia. Dan di selenggarakan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mengajak anak muda untuk terlibat dalam gerakan lingkungan bukan perkara mudah. Marshela mengakui tantangan terbesar bukanlah mengunggah pesan-pesan kampanye di media sosial, melainkan membangkitkan kesadaran bergerak secara nyata.

“Tantangannya bukan membuat konten saja. Melainkan bagaimana membuat orang mau terlibat dan bergerak,” katanya.

Untuk itu, ia aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah di Sragen. Setelah memperkenalkan isu lingkungan dan berbagai program yang dijalankan, Warsa Kelana membuka rekrutmen sukarelawan bagi para pelajar yang tertarik berkontribusi.

Marshela juga memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi. Melalui situs pribadinya, ia menyediakan berbagai artikel dan materi kampanye lingkungan yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.

Selain tantangan sumber daya manusia, faktor alam juga menjadi hambatan dalam program restorasi lahan. Musim kemarau yang panjang di Sragen sering kali menyulitkan proses penanaman karena keterbatasan air.

Tim Warsa Kelana terlebih dahulu melakukan pemulihan kualitas tanah melalui pembuatan biopori dan pemupukan sebelum memasuki masa tanam. Upaya yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil.

Hingga saat ini, sekitar satu hektare lahan kritis berhasil direstorasi dan ditanami berbagai tanaman produktif seperti alpukat dan nangka. Sebagian tanaman alpukat yang ditanam di wilayah Gesi, Sragen, bahkan telah memasuki masa panen.

Bagi Marshela, penghargaan Kalpataru bukanlah akhir perjalanan. Justru penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Karena itu, generasi muda harus ikut menjaga lingkungan. Sebab kitalah yang akan menjadi penerus sekaligus penyelamat lingkungan di masa mendatang,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....