Panggilan Pengabdian yang Tak Pernah Usai
- 07 Jun 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bagi Adnan Moereno, menjadi Paskibraka bukan sekadar mengibarkan bendera, tetapi juga kesiapan menjawab panggilan negara kapan saja.
- Sebagai purna Paskibraka DKI Jakarta angkatan 2024, Adnan tetap dipercaya menjalankan berbagai tugas kenegaraan penting.
- Sebuah foto dalam pemberitaan RRI.CO.ID menjadi kenangan berharga yang mengabadikan pengabdian Adnan dan rekan-rekannya.
"Selamat malam Kak Afriani Respati. Perkenalkan saya Adnan Moereno anggota PASKIBRAKA DKI JAKARTA yang bertugas sebagai penyambut tamu negara di upacara Hari Lahir Pancasila tahun 2026."
Pesan itu masuk ke akun Instagram penulis beberapa hari setelah Upacara Hari Lahir Pancasila. Di balik kalimat pembukanya, tersimpan sebuah kisah yang tak banyak diketahui.
Adnan bukan pejabat negara yang hadir dalam upacara tersebut pada pagi hari. Ia juga bukan anggota pasukan utama yang berdiri di lapangan upacara.
Pagi itu, Adnan bertugas bersama lima rekannya di salah satu pintu masuk Gedung Pancasila. Sementara empat anggota lainnya ditempatkan pada titik penyambutan berbeda di kawasan yang sama.
Pesan yang dikirim Adnan sebenarnya sederhana dan terdengar sangat personal. Ia mencari dokumentasi saat dirinya bersama sembilan rekannya menjalankan tugas sebagai penyambut tamu negara.
"Sebab tidak ada dokumentasi yang menyoroti kami saat bertugas," tulis Adnan melalui pesan singkat itu. Foto yang muncul dalam pemberitaan RRI.CO.ID menjadi kenangan berharga bagi mereka.
Di balik foto sederhana tersebut, tersimpan cerita tentang pengabdian dan kesiapsiagaan. Cerita itu datang dari seorang purna Paskibraka yang tetap menjawab panggilan negara.

Datang Ketika Negara Memanggil
Tak banyak orang mengetahui bagaimana penugasan itu sebenarnya dimulai sebelumnya. Bagi Adnan dan rekan-rekannya, semuanya berlangsung sangat cepat dan mendadak.
"Kami dari Paskibraka DKI dapat informasi terkait penugasan tersebut H-1 malam sebelum gladi," ujarnya. Kabar itu datang ketika sebagian besar orang sedang menutup aktivitas harian.
Saat informasi diterima, mereka bukan lagi anggota aktif Paskibraka yang bertugas. Seluruh petugas penyambut tamu merupakan purna Paskibraka DKI Jakarta angkatan 2024.
"Iya kak, sehubung untuk angkatan 2025 yang sedang bertugas di Balai Kota," katanya. Karena itulah, purna angkatan 2024 kembali dipercaya menjalankan tugas nasional.
Kesempatan tersebut diterima tanpa banyak pertanyaan maupun pertimbangan panjang sebelumnya. Mereka memahami bahwa tugas negara sering datang tanpa pemberitahuan jauh hari.
"Mengingat kegiatan tersebut merupakan dedikasi kami kepada negeri di akhir jenjang SMA," ujarnya. Kalimat itu menjelaskan alasan mereka menerima tugas tersebut dengan bangga.

Seragam yang Selalu Siap
Menjadi Paskibraka ternyata tidak berhenti ketika masa tugas resmi berakhir sepenuhnya. Ada kebiasaan-kebiasaan yang terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Salah satunya adalah kesiapan menerima panggilan tugas kapan pun diperlukan negara. Kebiasaan itu terbentuk dari berbagai penugasan yang sering datang mendadak.
"Kebetulan kami sudah terbiasa untuk mendapatkan last minute information," kata Adnan. Situasi seperti itu bukan sesuatu yang asing bagi dirinya dan rekan-rekannya.

Begitu panggilan datang, ada rutinitas yang langsung dilakukan tanpa banyak instruksi. Seragam diperiksa kembali, perlengkapan disiapkan, dan penampilan segera dirapikan.
"Sudah menjadi kebiasaan kami buat prepare seragam PDU," ujarnya. Bahkan potong rambut mendadak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan.
Persiapan itu sering kali dilakukan hanya dalam hitungan jam sebelum bertugas. Namun seluruh proses harus tetap berjalan rapi sesuai standar kepaskibrakaan.
"Stand by di venue acara sebelum matahari terbit," tulis Adnan. Kalimat itu menggambarkan disiplin yang terus mereka pegang hingga sekarang.

Berdiri Menyambut Sejarah
Hari itu kawasan Gedung Pancasila dipenuhi berbagai unsur yang terlibat dalam upacara. Dari petugas protokol hingga pasukan upacara, semuanya bergerak dalam ritme yang sama.
Di tengah suasana tersebut, Adnan dan rekan-rekannya menjalankan tugas di bagian depan. Mereka menjadi wajah pertama yang menyambut para tamu negara.
"Kami sangat kagum dengan banyaknya personil yang akan mengikuti parade," ujarnya. Pengalaman itu menghadirkan kesan mendalam bagi seluruh petugas yang terlibat.
Bagi Adnan, kesempatan tersebut juga mempertemukannya dengan banyak sosok inspiratif lainnya. Salah satunya adalah para anggota Paskibraka Nasional yang bertugas tahun ini.
"Merupakan suatu kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan Paskibraka Nasional 2025," katanya. Momen itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan sepanjang hidupnya.
Di tengah kesibukan dan ketatnya rangkaian protokoler kenegaraan yang berlangsung, rasa bangga tetap terasa begitu kuat dalam dirinya. "Tidak ada ungkapan yang bisa mendeskripsikan rasa bangga dan senangnya," ujar Adnan.
Lebih dari Sekadar Pengibar Bendera
Pengalaman Adnan dalam tugas kenegaraan ternyata tidak dimulai pada Hari Lahir Pancasila tahun ini. Jauh sebelumnya, ia telah beberapa kali terlibat dalam kegiatan penting tingkat nasional.
Sebagai anggota Paskibraka DKI Jakarta, Adnan terbiasa menjalankan berbagai tugas di luar upacara kemerdekaan. Penugasan itu membawanya hadir dalam sejumlah agenda kenegaraan yang jarang diketahui publik.
"Kebetulan kami sebagai Paskibraka Provinsi DKI memiliki satu acara tahunan yang cukup special pada tanggal 1 Oktober," ujarnya. Kegiatan tersebut merupakan Upacara Hari Kesaktian Pancasila yang digelar setiap tahun di kawasan Lubang Buaya.


Saat masih aktif bertugas pada 2024, Adnan turut merasakan atmosfer upacara bersejarah tersebut. Ketika itu, pemerintahan masih dipimpin Presiden Joko Widodo menjelang akhir masa jabatannya.
Upacara berlangsung dengan dihadiri para menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Nama Prabowo Subianto juga hadir sebagai Presiden terpilih periode 2024-2029.
"Di Lubang Buaya dan dihadiri oleh menteri-menteri dan RI 1 juga," kata Adnan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang membekas selama dirinya menjadi anggota Paskibraka.
Berbagai penugasan itu membuat Adnan memahami makna pengabdian dari sudut berbeda. Tugas seorang Paskibraka ternyata tidak berhenti pada prosesi pengibaran bendera semata.
Pengalaman lain bahkan datang secara mendadak ketika dirinya masih mengikuti pelajaran di sekolah. Sebuah panggilan telepon dari senior mengubah aktivitas hariannya saat itu.


"Saya pribadi pernah mendapat pengalaman unik untuk menjadi gordon penyambut Presiden Turki," ujarnya. Tanpa banyak waktu untuk bersiap, ia harus segera menuju Bandara Halim Perdanakusuma.
Dari Lubang Buaya hingga penyambutan kepala negara sahabat, Adnan merasakan beragam bentuk pengabdian. Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan luasnya peran yang dijalankan seorang Paskibraka.
"Kalau diingat-ingat tugas-tugas saya saat menjadi PASKIBRAKA itu lebih dari sekedar pasukan saat mengibarkan bendera," katanya. Menurut Adnan, mereka juga aktif mengisi berbagai kegiatan pemerintahan yang berlangsung sepanjang tahun.
Warisan yang Terus Dilanjutkan
Kini Adnan telah menyelesaikan pendidikan menengah atas dan memasuki fase baru. Ia sedang menyiapkan langkah berikutnya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
"Saya baru saja lulus SMA dan sedang mempersiapkan dokumen dokumen," tulisnya. Dokumen tersebut dipersiapkan untuk keperluan visa pelajar menuju Tiongkok.
Meski demikian, dunia kepaskibrakaan belum benar-benar ditinggalkannya sampai saat ini. Adnan masih aktif membantu proses pembinaan generasi berikutnya.

"Kebetulan saya ngelatih capaska sebagai instruktur di Paskibraka Provinsi DKI Jakarta," ujarnya. Pengalaman yang pernah diterimanya kini diteruskan kepada calon anggota baru.
Bagi Adnan, menjadi Paskibraka bukan hanya pengalaman semasa sekolah menengah dahulu. Nilai pengabdian dan kedisiplinan terus hidup dalam setiap langkah kehidupannya.

Sebuah Foto dan Sebuah Kenangan
Pada akhirnya, semua cerita itu bermula dari sebuah pesan sederhana di Instagram. Sebuah pesan yang dikirim karena keinginan mencari dokumentasi saat bertugas.
Foto yang ditemukan Adnan mungkin hanya satu potongan kecil dari peristiwa besar. Namun bagi dirinya dan rekan-rekan, gambar itu menyimpan makna yang berbeda.
"Sudah sangat cukup untuk menjadi kenangan kami," tulis Adnan. Kalimat itu menunjukkan betapa berharganya sebuah dokumentasi bagi para petugas muda.
Di balik kemegahan upacara kenegaraan, terdapat sosok-sosok yang bekerja tanpa sorotan. Mereka datang ketika dipanggil, menjalankan tugas, lalu kembali melanjutkan kehidupan.
Namun kisah Adnan Rizky Moereno menunjukkan satu hal yang tetap bertahan hingga kini. Bahwa bagi seorang Paskibraka, panggilan untuk mengabdi memang tak pernah benar-benar usai.

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....