Lolos dari Hukuman Mati, Kini Mengajar Harapan di Tanah Rantau

  • 30 Mei 2026 05:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kisah perjuangan Mohammad Amin Nasiry, guru asal Afghanistan yang menjadi target Taliban karena mengajar Bahasa Inggris.
  • Selama 26 bulan di detensi imigrasi Indonesia, ia tetap bertahan dengan mengajar, belajar, dan membantu sesama pengungsi.

TAK banyak orang yang bisa selamat dari hukuman mati, lalu memulai hidup baru di negeri asing dengan harapan yang tetap membara. Kisah itu nyata dalam diri Mohammad Amin Nasiri, seorang pengungsi asal Afghanistan yang kini menjalani hidup di Indonesia.

Ia lahir di distrik Qarabagh, Provinsi Ghazni, Afghanistan. Sejak muda, ia memilih jalan berbeda dari pemuda-pemuda di sekitarnya, yakni bidang pendidikan.

Di balik kegiatannya sebagai guru Bahasa Inggris di Afghanistan, ada sosok ayah yang menjadi alasan utamanya. Ayahnya adalah seorang petani, namun memiliki mimpi yang besar.

Nahas, setelah kehilangan kakeknya, beban keluarga jatuh ke pundak sang Ayah. Ia harus menghidupi empat keluarga sekaligus, membuatnya tak punya pilihan selain mengubur mimpinya.

Ia berjanji bahwa anaknya, Amin, harus memiliki masa depan yang lebih baik darinya. Sang Ayah berharap Amin bisa menjadi sosok yang lebih besar bagi masyarakatnya.

Dorongan itulah yang membuat Amin memilih jalan pendidikan, meski penuh risiko. “Aku menjadi guru di tempat di mana perlengkapan tulis-menulis yang paling dasar pun langka,” ucap Amin Nasiry kepada RRI.CO.ID, Selasa, 26 Mei 2026.

Di tengah situasi Afghanistan yang dilanda konflik, Amin tetap berusaha mengajar dan membantu masyarakatnya. Namun, profesinya itu justru membuatnya menjadi target Taliban.

“Taliban beberapa kali mengancam, mengatakan bahwa aku tidak boleh mengajarkan Bahasa Inggris di negara Islam. Tapi aku begitu terobsesi dengan impian ayahku sampai hampir tidak memedulikan apa pun,” ujarnya.

Peristiwa yang mengubah total kehidupan Amin Nasiry dimulai pada Oktober 2015. Kala itu, Amin tengah dalam perjalanan menuju tempat mengajar, bersiap menanamkan ilmu baru ke muridnya.

“Mereka menculikku saat aku sedang menuju kursus Bahasa Inggris, kurasa itu sekitar Iduladha, kalau bukan tepat pada hari itu,” tutur Amin. Ia dibawa ke lokasi tak dikenal, lalu divonis mati.

“Aku pikir semuanya sudah berakhir, tidak ada lagi mimpi, tidak ada lagi keluarga,” kenangnya. Namun, takdir Tuhan ternyata berkata lain.

Dalam perjalanan menuju lokasi eksekusi, sebuah mobil polisi mencurigai kendaraan yang membawanya. Kontak senjata antara kedua pihak pun tak terelakkan.

Di tengah kekacauan itu, Amin melihat satu-satunya peluang hidup dan melarikan diri dengan segenap tenaga. Berhasil lolos, ia bersembunyi dan akhirnya pergi dari Afghanistan.

Perjalanan panjang nan melelahkan itu membawanya melewati India dan Malaysia, hingga tiba di Indonesia pada Oktober 2015. Ia dipindahkan ke Pusat Detensi Imigrasi di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, selama 26 bulan.

Mohammad Amin Nasiri saat berada di Pusat Detensi Imigrasi Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada tahun 2016 (Foto: RRI/Hana Syarif)

“Seorang reporter datang untuk mewawancaraiku, aku masih syok, kupikir aku sudah wafat dan berada di surga. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, semuanya terasa begitu hijau seperti surga dan orang-orang sangat baik kepadaku,” katanya.

Kemudian, ia dibebaskan dan dipindahkan ke Bhadra Community House di Tanjungpinang pada Januari 2018. Di tengah keterbatasan tersebut, Amin memilih untuk mengajar sesama pengungsi dan menjadi penerjemah sukarela.

“Di bawah pengawasan IOM (International Organization for Migration), aku belajar psikologi, ekonomi, dan musik. Aku juga mengikuti ujian GED, mengajar Bahasa Inggris dan komputer,” ucapnya.

Ia melakukan semua itu agar tidak terus memikirkan keluarganya. Amin juga memilih untuk tidak menghubungi mereka demi menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan keluarganya.

Mohammad Amin Nasiri saat mengikuti kelas melukis di Pusat Detensi Imigrasi Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada tahun 2017 (Foto: RRI/Hana Syarif)

Dengan semua yang telah ia lalui, kerinduan terbesar Amin sesungguhnya sangat sederhana, yakni bertemu keluarganya. “Keinginan terbesar dan paling tulusku adalah bertemu keluargaku, memeluk ayah, mencium ibu, mengatakan betapa aku merindukan dan mencintai mereka,” ujarnya.

Baginya pun, Indonesia menjadi tempat di mana ia kembali menemukan rasa kemanusiaan. Ia bahkan masih mengingat malam ketika kisah para pengungsi di Batam mulai tersebar luas.

Banyak warga datang membawa makanan dan pakaian untuk membantu mereka. Namun, ada satu momen kecil yang paling membekas di lubuk hatinya.

“Ada seorang perempuan muda yang terus berkata, ‘Jangan sedih, jangan sedih,’ sambil mencoba menenangkanku. Padahal dia sendiri menangis,” tuturnya.

Mohammad Amin Nasiri (ketiga dari kiri) meluncurkan buku bersama murid-muridnya di Pusat Detensi Imigrasi Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada tahun 2020 (Foto: RRI/Hana Syarif)

Selama berada di Indonesia, Amin mengaku banyak belajar dari masyarakat Indonesia yang menurutnya ramah, sabar, dan penuh rasa syukur. “Orang Indonesia tahu bagaimana menikmati apa yang mereka miliki dan sangat menghormati satu sama lain,” ujarnya.

Menurut Amin, keberagaman Indonesia menjadi salah satu hal yang paling menginspirasinya. Meski memiliki ribuan bahasa dan suku yang berbeda, ia menyebut masyarakat Indonesia tetap memandang diri mereka sebagai satu keluarga besar.

“Bahkan setelah tinggal di sini selama 11 tahun, aku masih terus belajar dari orang Indonesia. Mereka tidak pernah berhenti membuatku kagum,” tuturnya.

Kini, harapan terbesar Amin adalah mendapatkan kesempatan untuk memulai hidup baru di Kanada melalui program pendanaan bagi pengungsi. “Aku ingin memberikan kontribusi positif, aku juga yakin aku dapat mewujudkan impianku di waktu dan tempat yang tepat,” ucap Amin penuh keyakinan.

Mohammad Amin Nasiri ketika mengikuti festival musik di salah satu pusat perbelanjaan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada tahun 2018 (Foto: RRI/Hana Syarif)

Di balik kisah pribadinya, Amin juga menyoroti realitas yang lebih luas, yakni nasib ribuan pengungsi lain di Indonesia. Menurutnya, Indonesia saat ini menampung lebih dari 12 ribu pengungsi, dengan lebih dari 60 persen berasal dari Afghanistan.

Banyak dari mereka telah hidup dalam kondisi “menggantung” selama lebih dari satu dekade. Terutama setelah perubahan kebijakan imigrasi Australia yang mempersempit peluang penempatan ulang.

Situasi tersebut, kata Amin, memicu berbagai krisis yang saling berkaitan. Menurutnya, masalah kesehatan mental menjadi salah satu yang paling serius.

Banyak pengungsi mengalami depresi kronis, gangguan kecemasan, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tekanan hidup juga berdampak pada hubungan keluarga.

Perpisahan dengan anggota keluarga, ditambah kondisi ekonomi yang sulit, memicu keretakan emosional yang mendalam. Banyak dari mereka tidak dapat bersekolah secara formal, sehingga kehilangan kesempatan memperoleh ijazah.

Dalam aspek hukum dan sosial, para pengungsi juga menghadapi sejumlah kebuntuan. Mereka tidak memiliki jalur menuju status tinggal tetap, minim hak sipil, serta terus hidup dalam bayang-bayang penangkapan atau deportasi.

Meski demikian, Amin tetap teguh menyimpan harapan. Suatu hari, dirinya dan para pengungsi lain dapat menemukan tempat yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....