Alek: Cara Sunyi Sebuah Kampung Mencintai Anak-anaknya

  • 23 Mei 2026 10:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Alek Umat di Sarolangun, Saat Bahagia Dipikul Bersama
  • Alek di Sarolangun

LANTUNAN selawat menggema pelan di bawah langit pagi di kampung Desa Pulau Melako Sarolangun. Bunyi rebana bertalu perlahan, mengalun seperti denyut yang menjaga langkah dua insan menuju gerbang hidup baru.

Di tengah iringan itu, Miftahul Ulum berjalan bersisian dengan Nurul Azmi. Keduanya melangkah tenang menyusuri jalan kampung dari rumah nenek menuju rumah pengantin.

Anak-anak berdiri di tepi jalan memandang dengan mata berbinar. Para orang tua menundukkan kepala lirih mengikuti selawat.

Sementara angin pagi menggoyangkan dedaunan di halaman rumah. Seolah alam pun ikut mengamini perjalanan mereka.

Prosesi itu disebut balarak. Bukan sekadar arak-arakan pengantin, melainkan perjalanan yang dipenuhi doa-doa kampung.

Langkah yang sederhana, tetapi sarat makna. Sebab di tanah Sarolangun, perkawinan tidak hanya menyatukan dua hati, melainkan juga mengikat kembali tali persaudaraan seluruh warga.

Di sini orang-orang menyebutnya Alek umat. Sebuah alek yang bukan milik satu keluarga semata, melainkan milik sekampung.

Hajatan yang sejak awal diserahkan kepada banyak tangan, banyak hati, dan banyak doa. Hari Rabu, pintu alek dibuka.

Hari itu seperti embun pertama yang jatuh ke daun-daun pagi. Perwakilan keluarga berdiri di hadapan lembaga adat desa, menyerahkan alek kepada qalbu dan bhathin kampung.

Sejak saat itu, pesta bukan lagi urusan tuan rumah. Ia telah menjadi amanah bersama.

Maka kampung pun bergerak seperti sungai yang menemukan arusnya. Lelaki-lelaki tua memanggul kayu di pundak mereka, sementara para pemuda menebas semak dan menyiapkan tiang-tiang balai.

Mereka mendirikan tagak balai dengan tawa yang bersahut-sahutan. Dengan suara parang yang beradu pada batang kayu, dengan napas yang tak pernah mengeluh.

Tak ada yang bertanya tentang upah. Karena dalam alek seperti ini, kebersamaan adalah kehormatan.

Kamis dapur-dapur mulai bernapas. Asap naik perlahan dari tungku, membubung ke langit desa seperti doa-doa yang diam-diam dipanjatkan para ibu.

Tangan-tangan perempuan mengiris bawang, mencuci beras, menumbuk rempah, sementara cerita-cerita lama mengalir di sela pekerjaan. Di kampung itu, masakan bukan sekadar hidangan, ia adalah kasih sayang yang dimasak perlahan.

Lalu datanglah Jumat pagi. Hari ketika matahari belum sepenuhnya tinggi, tetapi halaman rumah telah dipenuhi orang-orang.

Puluhan rantang dari warga desa

Para lelaki berkumpul untuk membantai sapi, bekerja bahu-membahu mempersiapkan jamuan alek. Pisau-pisau diasah, kayu dibelah, suara panggilan saling menyahut seperti nyanyian kerja yang diwariskan turun-temurun.

Di sudut lain, perempuan-perempuan menggiling bumbu. Aroma serai, kunyit, cabai, dan bawang memenuhi udara.

Seakan seluruh kampung sedang diracik menjadi satu rasa. Dan ketika malam Jumat turun perlahan, kehidupan kampung belum juga terlelap.

Para sumando menyalakan api di bawah kuali besar. Mereka memasak sup daging untuk anak-anak muda yang begadang mengukur kelapa.

Di bawah lampu-lampu temaram, para pemuda duduk melingkar, memarut dan mengukur kelapa sambil tertawa kecil menahan kantuk. Malam itu dingin, tetapi kuah sup yang mengepul membuat persaudaraan terasa hangat.

Imam Masjid Desa Pulau Pelako, Imam Kadarudin, menyebut tradisi alek sebagai warisan yang bukan hanya menjaga adat, tetapi juga menjaga hati masyarakat kampung agar tetap saling terhubung. “Dalam alek, orang belajar memikul beban bersama," ujar Imam.

"Yang muda belajar menghormati yang tua, dan yang tua menjaga yang muda. Karena itu alek bukan sekadar pesta, melainkan cara kampung merawat persaudaraan."

Orang tua mempelai pria

Begitulah alek hidup: dalam kerja yang ikhlas. Dalam lelah yang dipikul bersama, dalam kebersamaan yang tidak pernah meminta pujian. Dan Sabtu pun tiba.

Hari yang paling hening sekaligus paling syahdu. Pada prosesi tamat kaji, Miftahul Ulum duduk didampingi dua orang mudi, menamatkan bacaan Juz 30 Al-Qur’an.

Suara ayat-ayat suci mengalun perlahan di dalam rumah, lembut seperti angin yang melewati pucuk bambu. Seakan kampung ingin berkata: “Masuklah engkau ke gerbang rumah tangga dengan cahaya kitab di dadamu.”

Orang tua dari mempelai wanita

Imam Kadarudin mengatakan, tamat kaji menjadi pengingat bahwa rumah tangga dalam adat Melayu tidak hanya dibangun dengan cinta, tetapi juga dengan tuntunan agama.

“Selawat, tamat kaji, dan gotong royong itu saling terikat. Adat dan agama berjalan beriringan, supaya rumah tangga yang dibangun tidak hanya kuat di dunia, tetapi juga baik di hadapan Allah,” ujarnya lirih.

Setelah itu berlangsunglah balarak. Selawat kembali menggema.

Rebana kembali ditabuh. Dan langkah dua pengantin itu kembali diiringi wajah-wajah yang penuh harapan.

Tak ada kemegahan yang dibuat-buat. Namun justru dalam kesederhanaan itulah adat menemukan keabadiannya.

Karena alek di Sarolangun bukan sekadar pesta perkawinan. Ia adalah cara sebuah kampung mencintai anak-anaknya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....