Pelukan Ibu dan Ikhtiar Imunisasi di Tanah Rencong
- 24 Mei 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fatimah mengaku dukungan penuh suami membuatnya mantap memberikan imunisasi lengkap kepada ketiga anaknya
- Tenaga kesehatan di Banda Aceh masih menghadapi penolakan warga akibat hoaks soal keamanan dan kehalalan vaksin
- Wamenkes Dante Saksono mengusulkan layanan imunisasi akhir pekan agar para ayah dapat terlibat langsung
DI tengah riuh suara balita dan denting sendok obat di Posyandu Sejahtera, Banda Aceh, Jumat, 22 Mei 2026, Fatimah memeluk putri bungsunya, Humaira Azzahra. Pelukan dengan dekap yang nyaris tak memberi jarak.
Bayi berusia 15 bulan itu bersandar tenang di bahunya, seolah belum memahami bahwa di ruang sederhana itulah seorang ibu sedang menabung harapan paling panjang. Kesehatan, ketahanan, dan masa depan anaknya dari ancaman penyakit yang tak selalu tampak mata.
Bagi Fatimah, imunisasi bukan sekadar suntikan rutin yang tercatat di buku kesehatan. Ia adalah ikhtiar sunyi seorang ibu yang ingin memastikan buah hatinya tumbuh kuat di tengah derasnya kecemasan, keraguan, dan berbagai bisik ketakutan tentang vaksin yang masih hidup di sekelilingnya.
"Saya pertama dukungan dari suami ya. Suami saya ini sangat peduli dengan vaksin, dari anak pertama, anak kedua, sampai anak ketiga," ujarnya dengan penuh syukur.
Bagi Fatimah, peran sang suami Rusli sangatlah penting dalam setiap pengambilan keputusan keluarga termasuk soal imunisasi dasar. Ia mengaku awalnya juga memiliki keraguan besar namun Rusli terus meyakinkannya akan manfaat jangka panjang vaksin tersebut.
Hingga kini Humaira telah menerima imunisasi lengkap mengikuti jejak dua kakaknya yang sudah duduk di bangku sekolah menengah. Kedisiplinan ini lahir karena Rusli mampu memberikan pemahaman yang logis mengenai perbedaan daya tahan tubuh anak yang divaksin.
"Beliau melihat kondisi anak-anaknya berbeda ya dengan anak yang tidak divaksin. Mungkin dari kekebalan tubuhnya, ataupun dari kesehatannya ya," kata Fatimah.
Di sudut lain Posyandu, Bidan Desa Indah Sari menceritakan kisahnya yang harus beradu dengan waktu melakukan aksi jemput bola. Ia mendatangi rumah ibu yang baru melahirkan guna memastikan bayi mendapatkan imunisasi dasar meski orang tua absen ke posyandu.

Indah mengakui bahwa isu hoaks mengenai status halal dan haramnya vaksin masih menjadi tembok penghalang yang sangat tebal. Padahal ia selalu berusaha meyakinkan warga bahwa seluruh vaksin tersebut sudah teruji aman dan dinyatakan halal oleh MUI.
Tantangan batin terasa paling berat bagi Indah ketika ia menemui penolakan fisik berupa pintu rumah yang sengaja ditutup warga. Meski mendengar ada orang di dalam rumah, ia sering kali tidak dibukakan pintu karena minimnya pengetahuan mereka tentang imunisasi.
"Kami tidak berani memberikan imunisasi tanpa izin. Baik dari pihak ibu maupun suami, karena tetap harus menghargai privasi mereka," ucapnya dengan pelan.
Harapan baru kemudian muncul dari Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono yang mengusulkan pelayanan imunisasi pada hari Sabtu atau Minggu. Strategi ini diambil guna meningkatkan cakupan vaksinasi anak yang masih rendah karena faktor ketiadaan izin dari pihak ayah di wilayah Aceh.
Dante menilai bahwa keputusan besar mengenai imunisasi anak sangat bergantung pada kehadiran serta izin dari pihak laki-laki di dalam keluarga. Kesibukan bekerja membuat para ayah sering kali tidak berada di rumah saat petugas kesehatan datang untuk berkunjung memberikan layanan.

“Di Aceh ini yang memutuskan bapaknya, bapaknya bekerja kadang-kadang yang memberi keputusan tidak ada, sehingga anaknya tidak diimunisasi,” kata Dante menjelaskan.
Pemerintah berencana melakukan modifikasi jadwal pelayanan kesehatan agar para ayah dapat terlibat langsung dalam mendampingi buah hati mereka. “Nanti akan kita buat modifikasi bagaimana misalnya imunisasi pada saat hari Sabtu atau hari libur sehingga bapaknya ikut,” ucapnya.
Di Aceh, perjuangan imunisasi rupanya bukan hanya soal layanan kesehatan, melainkan juga tentang meyakinkan hati. Membuka pintu yang tertutup, dan menghadirkan kepercayaan di tengah keluarga.
Para bidan berjalan dari rumah ke rumah, mengetuk dengan sabar. Sementara para ibu menyimpan harapan agar anak-anak mereka tumbuh tanpa dibayangi penyakit yang seharusnya bisa dicegah.
Usulan pelayanan imunisasi di hari libur menjadi lebih dari sekadar perubahan jadwal. Ia adalah upaya merangkul para ayah agar turut hadir dalam keputusan penting bagi masa depan anak-anak mereka.
Sebab di balik setiap vaksin yang diberikan, ada cinta yang bekerja diam-diam. Cinta seorang ibu yang menjaga, seorang ayah yang mengizinkan, dan tenaga kesehatan yang tak lelah percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....