Ainnun Nazwa Menembus Batas lewat Lintasan Panjang Prestasi
- 18 Mei 2026 16:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ainnun Nazwa masih mengingat langkah pertamanya di lintasan sekolah dasar.
- Prestasi demi prestasi mulai diraih Ainnun Nazwa sejak tingkat kecamatan hingga kabupaten.
- Ainnun menjuarai Athletics Championship Series dan invitasi atletik tingkat kabupaten.
RRI.CO.ID, Bandung - Ainnun Nazwa masih mengingat langkah pertamanya di lintasan sekolah dasar. Dari sana, kecintaannya terhadap olahraga mulai tumbuh perlahan.
Perempuan berusia 18 tahun ini mengenal atletik sejak usia sangat muda. Ia mengikuti nomor lari 400 meter dan estafet putri.
Prestasi demi prestasi mulai diraih sejak tingkat kecamatan hingga kabupaten. Namun, beberapa kekalahan pernah membuatnya pulang dengan rasa kecewa mendalam.
“Waktu kecil saya sering menang, tetapi pernah juga mengalami kegagalan menyakitkan. Itu membuat saya ingin terus berkembang,” ujar Ainnun kepada RRI.CO.ID, Senin, 18 Mei 2026.
Bagi perempuan asal Kabupaten Cirebon itu, olahraga bukan sekadar perlombaan mengejar medali dan penghargaan semata. Atletik menjadi tempat membangun mental, disiplin, dan keberanian menghadapi tekanan.

Pandemi Menghentikan Langkah Sementara
Saat memasuki SMP Negeri 1 Waled, perjalanan olahraganya mendadak terhenti cukup lama. Pandemi Covid-19 menghentikan berbagai kegiatan sekolah dan perlombaan olahraga.
Kondisi kesehatan juga membuat orang tuanya membatasi aktivitas perlombaan sementara waktu. Situasi itu sempat membuatnya kehilangan kesempatan bertanding bersama teman-temannya.
“Ketika teman lain mulai kembali bertanding, saya hanya bisa melihat dari jauh. Rasanya berat, tetapi saya mencoba bertahan,” ujarnya, seraya mengenang kembali.
Di tengah keterbatasan itu, Ainnun tidak membiarkan dirinya berhenti berkembang sepenuhnya. Ia mengalihkan fokus pada bidang akademik melalui OSN Matematika.
Kesempatan menjadi peserta Olimpiade Sains Nasional memberinya semangat baru di sekolah. Ia percaya kemampuan diri tidak hanya tumbuh melalui olahraga.
Memasuki SMA Negeri 1 Waled, semangatnya kembali tumbuh lebih besar dari sebelumnya. Lapangan atletik kembali menjadi tempatnya mengejar mimpi yang tertunda.
Ia aktif mengikuti ekstrakurikuler atletik dengan jadwal latihan semakin disiplin setiap hari. Tubuh lelah dan waktu terbatas menjadi tantangan yang harus dihadapi.
“Berlatih keras membuat saya belajar menghargai setiap proses panjang menuju kemenangan. Tidak ada hasil besar tanpa pengorbanan,” ucapnya.
Pada ajang O2SN tingkat Kabupaten, Ainnun meraih beberapa prestasi cabang atletik berbeda. Ia menjuarai nomor lompat jauh, lari 400 meter, dan lempar lembing.
Dari berbagai cabang yang diikuti, lompat jauh menjadi nomor paling disukainya. Ia merasa menemukan kemampuan terbaiknya pada nomor tersebut.
Selain olahraga, Ainnun juga aktif mengikuti lomba kriya tingkat Kabupaten Cirebon. Ia kembali membuktikan kemampuan akademik dan kreativitas berjalan beriringan.

Belajar Memimpin dan Bertahan
Saat duduk di kelas sebelas, Ainnun dipercaya memimpin ekstrakurikuler olahraga sekolahnya. Tanggung jawab itu membuat jadwal hariannya semakin padat dan melelahkan.
Ia harus membagi waktu antara latihan, belajar, dan membimbing anggota ekstrakurikuler lainnya. Namun, tekanan tersebut justru membentuk mentalnya semakin kuat.
“Menjadi ketua organisasi mengajarkan saya tentang tanggung jawab dan kedisiplinan hidup. Saya belajar tetap kuat dalam keadaan sibuk,” ujarnya.
Di tengah kesibukan itu, prestasinya tetap terus bertambah pada berbagai kejuaraan atletik daerah. Ainnun menjuarai Athletics Championship Series dan invitasi atletik tingkat kabupaten.
Ia kembali meraih prestasi bidang kriya pada Festival Lomba Seni tingkat kabupaten. Kemampuan olahraga dan seni berkembang bersama dalam perjalanan sekolahnya.

Menuju Mimpi Lebih Besar
Puncak perjuangannya hadir saat lolos seleksi POPDA XIV Jawa Barat mewakili daerahnya. Ia bertanding pada nomor lompat jauh dan estafet putri.
Hasil latihan panjang membawanya meraih juara tiga lompat jauh tingkat Jawa Barat. Ia juga meraih juara dua estafet 100x4 putri.
Ainnun kemudian mengikuti KEJURDA dan BK PORPROV 2025 dengan semangat besar. Meski belum juara, ia berhasil lolos limit menuju PORPROV 2026.
“Saya percaya kegagalan bukan alasan berhenti mengejar impian yang diinginkan. Setiap kekalahan harus menjadi pelajaran untuk bangkit kembali,” katanya.
Kini, Ainnun yang telah berusia 18 tahun diterima di Universitas Pendidikan Indonesia. Ia mengambil program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga untuk melanjutkan cita-citanya.
“Saya percaya kegagalan bukan alasan berhenti mengejar impian yang diinginkan. Setiap kekalahan harus menjadi pelajaran untuk bangkit kembali,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....