Menjahit Mimpi Asian Games 2026 dari Padepokan Voli di Sentul

  • 14 Agt 2026 15:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Bogor - Suasana pagi di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Bogor, terasa sibuk. Satu per satu pemain Timnas Voli Putra Indonesia mulai menjalani rutinitas yang dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi keseharian mereka, yaitu latihan, makan, istirahat, pemulihan, lalu kembali berlatih.

Tidak banyak waktu untuk bersantai. Setelah rangkaian pertandingan yang cukup padat, para pemain kini kembali dikumpulkan dalam pemusatan latihan untuk mempersiapkan diri menghadapi Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.

Namun, persiapan menuju ajang sebesar Asian Games ternyata bukan hanya soal bagaimana pemain memukul bola, melakukan blok, atau menyusun strategi di lapangan. Ada pekerjaan lain yang berjalan hampir tanpa terlihat: memastikan tubuh mereka tetap kuat, makanan tercukupi, cedera terkontrol, dan stamina perlahan kembali ke level terbaik.

Menu Makan Bergizi untuk Atlet

Di salah satu sudut padepokan, kesibukan itu terasa dari dapur. Dede, juru masak yang bertugas menyiapkan makanan untuk para pemain selama TC, setiap hari harus memastikan kebutuhan makan bagi 18 atlet terpenuhi.

Menu makan siang itu pun tidak main-main. Ada rawon daging sapi, ikan kembung goreng, telur asin, oseng sayuran, tempe tepung, semur ayam, hingga telur.

Menu tersebut bukan sekadar untuk mengenyangkan perut. Komposisinya juga disiapkan untuk menunjang kebutuhan pemain yang sedang menjalani latihan fisik cukup berat.

“Biasanya proteinnya yang banyak, jadi ada daging, ada ikan. Kalau pagi sarapan biasanya disiapkan telur rebus,” ujar Dede.

Para pemain mendapatkan jatah makan tiga kali sehari. Di sela-sela latihan, tim dapur juga menyiapkan makanan ringan, termasuk jus buah, yang menjadi salah satu pelengkap sebelum atau setelah aktivitas latihan.

Menu pun berganti setiap hari. Tetapi jika ada pemain yang sedang ingin menyantap makanan tertentu, dapur tetap terbuka untuk memenuhi permintaan mereka.

Sop iga, bebek goreng, hingga sate kambing, pernah menjadi menu favorit yang diminta para pemain. Bahkan ketika pertandingan sudah berlangsung di luar negeri nanti, kebutuhan makanan tetap menjadi perhatian.

“Kalau saat pertandingan tetap disiapkan makanannya,” kata Dede. Bedanya, saat pertandingan biasanya ada tambahan asupan seperti susu protein.

Rutinitas semacam itu menjadi bagian kecil dari persiapan panjang menuju Jepang. Sebab, di tengah jadwal latihan yang padat, tubuh pemain adalah aset utama yang harus dijaga.

Porsi Latihan Berat di Lapangan

Pelatih Timnas Voli Putra Indonesia, Reidel Toiran, mengatakan tim saat ini sengaja memaksimalkan waktu untuk mengembalikan kondisi fisik pemain, sebelum masuk lebih jauh ke latihan teknik dan permainan tim. Porsinya bahkan mencapai 80 persen fisik dan 20 persen teknik.

Latihan dimulai sejak pagi. Para pemain menjalani latihan fisik di gym, latihan aerobik, hingga berlatih di pasir untuk memperkuat tubuh.

Sore harinya, barulah mereka kembali ke lapangan untuk mengasah teknik. “Sekarang kita maksimalkan waktu dulu untuk memantapkan fisik para pemain, baru teknik,” ujar Toiran.

Program tersebut merupakan bagian dari evaluasi, setelah para pemain menjalani rangkaian kompetisi sebelumnya. Tim Indonesia sempat tampil apik di AVC Men’s Cup, tapi setelah itu performanya menurun ketika harus langsung melanjutkan perjalanan ke Filipina untuk mengikuti SEA V Cup.

Menurut Toiran, Indonesia sempat mencapai puncak performa di India. Setelah itu, kondisi pemain ikut terpengaruh oleh padatnya jadwal pertandingan dan perjalanan.

Karena itu, sebelum TC dimulai, para pemain terlebih dahulu diberikan waktu istirahat sekitar 10 hari hingga dua minggu. Kini, tubuh mereka kembali ditempa.

Bukan sekadar untuk menjadi lebih kuat, tetapi juga untuk memastikan siapa yang benar-benar siap dibawa ke Jepang. Dari 18 pemain yang mengikuti TC, nantinya hanya 12 nama yang akan masuk skuad Asian Games.

Pemilihannya tidak hanya berdasarkan kemampuan menyerang atau melakukan blok. Juru taktik asal Kuba itu juga mempertimbangkan teknik, chemistry, kondisi psikologis, hingga kemampuan memberikan kontribusi kepada tim, pada para pemain yang akan dipilihnya.

“Yang dicari adalah yang terbaik untuk tim kita,” kata Toiran.

Pentingnya Sport Injury Treatment

Di balik latihan keras itu, ada satu pekerjaan yang tidak kalah penting, yaitu menjaga pemain tetap sehat. Halim, fisioterapis Timnas Voli Putra Indonesia, mengatakan kondisi fisik pemain saat ini memang belum sepenuhnya kembali ke level optimal.

Setelah mengikuti AVC Men’s Cup dan SEA V Cup, kebugaran sebagian pemain mengalami penurunan, terutama dari sisi endurance atau daya tahan. Karena itu, selama sekitar dua pekan pertama TC, program fisik menjadi prioritas.

Selain latihan di gym, pemain juga menjalani latihan di pasir untuk meningkatkan daya tahan sekaligus kekuatan. Program pencegahan cedera juga diberikan, terutama kepada pemain yang memiliki riwayat cedera.

Dalam olahraga seperti voli, hampir seluruh bagian tubuh memiliki risiko mengalami cedera. Lutut, bahu, punggung bagian bawah, hingga jari-jari menjadi bagian yang paling sering mendapat perhatian.

“Kalau voli hampir semua bagian tubuh rawan cedera,” ujar Halim. Karena itu, setiap keluhan sekecil apa pun diminta segera disampaikan pemain.

Halim berpesan, jangan sampai rasa sakit yang awalnya ringan justru berkembang menjadi cedera yang membuat pemain harus menepi dalam waktu lama. Baginya, menjaga pemain tetap bugar bukan berarti membuat mereka terus berlatih tanpa batas.

Yang harus dijaga adalah keseimbangan antara beban latihan dan pemulihan. Ia terus memantau training load, atau beban latihan yang diberikan pelatih, agar sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing pemain.

Kalau beban latihan terlalu tinggi, sementara pemulihan tidak cukup, risiko overuse dan cedera akan meningkat. “Training load harus seimbang dengan recovery,” katanya.

Pemulihan pun menjadi bagian dari rutinitas. Setelah latihan atau pertandingan, pemain melakukan stretching.

Sesampainya di hotel atau penginapan, beberapa pemain menjalani ice bath, cryotherapy, massage, fisioterapi, hingga menggunakan recovery pump.

Untuk cedera ringan seperti otot kaku atau spasme, pemulihan bisa berlangsung cepat. Namun cedera yang sudah melibatkan inflamasi berat, robekan, atau bahkan putusnya jaringan, tentu membutuhkan waktu lebih panjang.

Saat ini, Halim menilai kondisi pemain sudah berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Targetnya, pada akhir Agustus kondisi fisik pemain bisa mencapai 90 hingga 95 persen.

Setelah itu, memasuki September, fokus akan bergeser ke tahap berikutnya, yaitu membangun chemistry dan mematangkan permainan tim. Sebab, fisik saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan.

Proses Menuju Kondisi Terbaik Dimulai dari Kebiasaan Sederhana

Farhan Halim, salah satu pemain senior Timnas Voli Putra Indonesia, sudah bergabung dengan tim nasional sejak 2021. Setelah bertahun-tahun menjalani kompetisi, ia tahu betul bahwa tubuh tidak bisa dipaksa bekerja tanpa jeda.

Menurut Farhan, makanan dan tidur menjadi dua hal yang paling berpengaruh terhadap proses pemulihan. “Kalau sering begadang juga tidak bagus, apalagi harus mulai latihan pagi,” ujarnya.

Asupan makanan, tidur yang cukup, dan suplemen menjadi bagian dari caranya menjaga kondisi tubuh. Pengalaman dari turnamen sebelumnya juga dibawa ke TC kali ini.

Salah satu evaluasi yang menurut Farhan penting adalah konsistensi. Bukan hanya dalam satu aspek permainan, tetapi dalam banyak hal, mulai dari servis hingga blok.

Selain kemampuan teknis, pengalaman bertanding juga membuat pemain belajar menghadapi tekanan. Hal itu menjadi bekal penting karena level pertandingan yang akan dihadapi di Asian Games tentu berbeda.

“Yang pasti mental juga dibawa. Kesiapan harus lebih matang, apalagi nanti Asian Games,” kata Farhan.

Di tengah pemain-pemain yang sudah lama mengenakan seragam Merah Putih, ada wajah baru yang sedang berusaha menemukan tempatnya. Raihan Rizky Attorif adalah salah satu pemain debutan yang mengikuti TC di Sentul.

Panggilan pertama ke tim nasional menghadirkan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga dan bersyukur, tetapi juga nervous ketika harus berlatih bersama pemain-pemain senior.

Rasa canggung itu perlahan berkurang karena para senior justru menjadi orang pertama yang merangkulnya. “Seniornya benar-benar ngerangkul banget,” katanya.

Bagi Raihan, atmosfer membela tim nasional memang terasa berbeda dibandingkan saat bermain untuk klub. Ada tekanan yang lebih besar, karena kali ini yang dibawa bukan sekadar nama klub, melainkan nama Indonesia.

Vibes di lapangan pun terasa berbeda. Motivasi meningkat, sekaligus ada tuntutan untuk membuktikan diri.

Salah satu hal yang banyak membantunya beradaptasi adalah berbagi pengalaman dengan para pemain senior. Mereka tidak hanya membantu memahami sistem permainan, tetapi juga memberikan tips mengenai cara menjaga kondisi tubuh selama menjalani TC yang berat.

Sebab, bagi pemain muda, tantangan terbesar bukan hanya mengikuti latihan. Recovery juga menjadi ujian tersendiri.

Dan Raihan tahu, ada satu tujuan yang ingin ia capai dari semua proses tersebut. “Sudah pasti pengen masuk squad,” katanya.

Jalan Menuju Jepang

Di Asian Games nanti, lawan yang menunggu bukanlah tim sembarangan. Indonesia tergabung di Pul B, bersama dengan Iran, Thailand dan Kirgizstan.

Toiran menyebut Iran sebagai salah satu lawan terberat karena berada di jajaran tim papan atas dunia. Namun, Indonesia tidak datang hanya untuk menjadi peserta.

Tim pelatih menyiapkan berbagai skenario permainan untuk menghadapi situasi berbeda. "Kami siapkan plan A,B, C," kata Toiran.

Target yang dibebankan kepada tim juga cukup tinggi. Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) menargetkan Indonesia bisa menembus semifinal atau meraih medali perunggu.

Toiran sadar Indonesia masih belum berada di level teratas Asia. Tetapi itu bukan alasan untuk minder.

“Kita memang belum top di Asia, tapi kita berani,” ujarnya. Keberanian itu pula yang sedang dibangun di Sentul.

Di padepokan, proses menuju Asian Games masih panjang. Pagi dimulai dengan latihan fisik, sore dilanjutkan dengan teknik. Di sela-selanya ada makanan bergizi, stretching, recovery, dan istirahat.

Dapur terus mengepul. Para fisioterapis terus memantau kondisi tubuh pemain.

Pelatih terus mengevaluasi. Sementara 18 pemain masih berjuang untuk mendapatkan satu dari 12 tempat yang tersedia.

Bahkan hal-hal yang terlihat sederhana, seperti tidur tepat waktu, menghabiskan makanan, menyampaikan rasa sakit pada fisioterapis, atau melakukan stretching setelah latihan, menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju Jepang.

Di tempat inilah persaingan untuk masuk skuad Asian Games berlangsung. Bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ruang makan, ruang pemulihan, gym, hingga kamar istirahat.

Setiap keringat yang jatuh di padepokan hari ini membawa satu harapan yang sama. Ketika waktunya tiba di Aichi-Nagoya, 12 pemain terbaik Indonesia sudah berada dalam kondisi siap untuk memberikan yang terbaik bagi Merah Putih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....