Sangkar Kayu, Simfoni Harapan di Festival Burung Berkicau

  • 08 Mei 2026 09:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai festival burung berkicau sebagai penggerak ekonomi rakyat yang memberikan efek domino bagi peternak, pembuat pakan, hingga perajin sangkar lokal.
  • Nurhasanah Dewi selaku pengelola Kios Fortuna mengungkapkan adanya peningkatan tren hobi burung dalam tiga tahun terakhir yang memperluas jangkauan pasar hingga ke wilayah Batam dan Medan.
  • Pelaku usaha mengharapkan dukungan pemerintah dalam menjaga ekosistem hobi serta solusi terkait kendala tingginya pajak ekspor yang menghambat pemasaran produk sangkar kayu ke luar negeri.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sangkar kayu berpendar lembut di bawah cahaya Festival Lomba Burung Berkicau, seolah menyimpan napas harapan. Di antara riuh kicau dan sorak pengunjung, karya perajin lokal itu berdiri seperti puisi ekonomi rakyat yang hidup.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memperhatikan detail ukiran sangkar kayu di area Kementerian Perdagangan. Peristiwa itu terjadi di tengah Festival Lomba Burung Berkicau pada Minggu, 3 Mei 2026.

Di balik indahnya sangkar, Nurhasanah Dewi memandang setiap bambu sebagai cerita ketekunan perajin lokal. Ia mengelola Kios Fortuna di Pasar Pramuka, Jakarta, sebagai penghubung karya dari berbagai daerah.

Kios Fortuna menghadirkan sangkar dari Bandung, Semarang, hingga Sidoarjo dengan berbagai bentuk dan fungsi. Produk yang dijual mencakup sangkar mentahan hingga siap pakai untuk para pecinta burung.

Nurhasanah menegaskan bahwa setiap sangkar memiliki karakter khusus sesuai jenis burung peliharaan. Ia menjelaskan kebutuhan presisi desain agar burung merasa nyaman di dalamnya.

“Burung murai sangkarnya seperti ini, sedangkan cucak hijau berbeda. Ada standarnya masing-masing,” kata Nurhasanah dalam keterangannya yang diterima RRI di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Nurhasanah mencatat peningkatan minat masyarakat terhadap hobi burung dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan tersebut turut mendorong permintaan perlengkapan sangkar di berbagai wilayah.

Permintaan yang meningkat membuat Kios Fortuna menjangkau pelanggan hingga Batam dan Medan. Jaringan distribusi berkembang seiring tumbuhnya komunitas kicau mania nasional.

“Tiga tahun belakangan, minat terhadap burung semakin meningkat. Sekarang, dengan semakin banyaknya orang yang tertarik dengan pelestarian alam, tren burung kicau mania juga semakin semarak,” ujar Nurhasanah.

Nurhasanah berharap, pemerintah memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha ekosistem hobi dan perajin lokal. Ia menilai keberlanjutan ekonomi hobi membutuhkan perhatian pada seluruh rantai produksi.

“Saya berharap pemerintah memperhatikan pelestarian alam, perdagangan dan para perajinnya. Sehingga seluruh siklusnya dapat berjalan dengan lancar dan baik,” ujar Nurhasanah.

Meski pasar dalam negeri tumbuh, Nurhasanah menghadapi tantangan pajak ekspor yang tinggi. “Kesulitan kami saat ini kalau mau ke luar negeri, pajaknya terlalu tinggi,” ujar Nurhasanah.

Mendag menilai hobi burung berkicau sebagai penggerak ekonomi rakyat. Ia melihat efek domino yang tumbuh dari setiap kegiatan lomba burung.

“Kalau lomba burung kicau semakin ramai, maka dampaknya adalah peternak semakin banyak, begitu juga pengembangbiakan, pembuat sangkar, pabrik pakan. Kami ingin nilai ekonomi dari hobi burung dapat terus meningkat,” kata Budi.

Festival itu menegaskan bahwa di balik kicau juara, ada denyut ekonomi yang dipahat tangan perajin lokal. Sangkar-sangkar kayu itu menjadi saksi sunyi lahirnya harapan ekonomi rakyat yang terus tumbuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....