Dari 50 ke 500 Porsi: Ketika Kafe Menjadi Mesin Penggerak UMKM di Bogor

  • 06 Mei 2026 06:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dari 50 ke 500 Porsi: Ketika Kafe Menjadi Mesin Penggerak UMKM di Bogor

DI tengah rimbunnya pepohonan pinus dan udara sejuk Kabupaten Bogor, sebuah kafe berdiri dengan konsep yang tidak biasa. Bukan sekadar tempat menikmati kopi, ruang ini tumbuh menjadi ekosistem baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas.

Di salah satu sudut kafe, aroma bakso hangat menyeruak. Penjualnya, yang sebelumnya hanya mampu menjual 30 hingga 50 porsi per hari.

Kini menghadapi antrean pelanggan yang tak putus. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari 500 porsi.

"Dulu segini saja sudah Alhamdulillah. Sekarang malah sering kewalahan," ujarnya sambil tersenyum.

Kisah itu bukan satu-satunya.

Kafe ini dibangun dengan satu tujuan utama: menciptakan ruang kolaborasi bagi UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Para pelaku usaha yang sebelumnya berjalan sendiri, kini berada dalam satu ekosistem yang mendukung.

"Pelaku UMKM di kafe ini mendapat dukungan penuh. Mulai dari lokasi strategis, standar pelayanan, hingga akses ke pasar yang lebih luas," kata Founder Warisan Kopi, Jenderal (Purn) Moeldoko, pada Grand Launching kafe yang berlokasi di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang itu, Selasa, 5 Mei 2026.

Konsep ini, menurut dia, berangkat dari kegelisahan sederhana: potensi UMKM Indonesia sebenarnya besar. Namun, potensi tersebut sering terkendala oleh keterbatasan akses dan ruang berkembang.

"Produk mereka bagus. Tapi sering kali tidak punya tempat yang tepat untuk tumbuh," ujar mantan Panglima TNI itu.

Founder PT Warisan Kopi Indonesia, Jenderal (Purn) Moeldoko (keempat dari kanan) bersama antara lain Bupati Bogor, Rudy Susmanto (ketiga dari kiri), dan Co-founder sekaligus desainer Warisan Kopi, Hendry Long (kedua dari kiri) saat Grand Launching kafe yang berlokasi di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Selasa, 5 Mei 2026 (Foto: Warisan Kopi)

Di tempat ini, perubahan itu mulai terlihat nyata.

Peningkatan omzet menjadi indikator paling kasat mata. Namun lebih dari itu, terjadi perubahan pola pikir. Pelaku UMKM mulai memahami pentingnya kualitas, konsistensi, dan pengalaman pelanggan.

Mereka tidak lagi sekadar berjualan. Mereka membangun usaha.

Menariknya, pengembangan kawasan ini tidak mengorbankan lingkungan. Tidak satu pun pohon ditebang selama proses pembangunan. Pepohonan pinus yang menjulang justru menjadi bagian dari identitas tempat ini.

"Lingkungan seperti ini tidak bisa kita beli dengan uang. Jadi, harus kita jaga," ucap Kepala Staf Kepresidenan (KSP) di era Presiden Jokowi itu, menegaskan.

Pendekatan tersebut menjadi nilai tambah tersendiri. Suasana alami yang dipertahankan membuat pengunjung tidak hanya datang untuk makan atau minum, tetapi juga untuk bekerja dan mencari inspirasi.

"Kami dari awal sepakat, jangan sampai pembangunan ini menghilangkan apa yang justru jadi kekuatannya," kata Hendry Long, Co-founder PT Warisan Kopi Indonesia, sekaligus desainer kafe tersebut.

Fenomena Work From Café (WFC) pun diakomodasi. Fasilitas konektivitas dan ruang kerja disiapkan untuk menjawab kebutuhan gaya hidup baru masyarakat.

Sejak dibuka, antusiasme publik cukup tinggi. Pada soft opening 20 April 2026 lalu, jumlah pengunjung bahkan sempat mencapai 4.000 orang dalam satu waktu, menyebabkan antrean panjang dan kepadatan di berbagai titik.

Namun, seiring waktu, pengelolaan kawasan terus dibenahi.

Dampak ekonomi juga terasa bagi masyarakat sekitar. Dari total 98 tenaga kerja yang terserap, sebanyak 62 di antaranya merupakan warga lokal. Area parkir pun dikelola bersama masyarakat dengan tarif yang telah ditentukan.

Bagi pemerintah daerah, inisiatif seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana sektor swasta dapat berperan dalam penguatan ekonomi lokal. Terlebih, proses pembangunan yang relatif cepat, kurang dari satu tahun, dan didukung oleh kemudahan perizinan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto, yang turut hadir dalam peresmian, menilai model seperti ini bisa menjadi alternatif pengembangan ekonomi berbasis kolaborasi. "Ini contoh bagaimana sektor swasta bisa bergerak cepat, tapi tetap memberi manfaat ke masyarakat," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kemudahan perizinan dalam mendorong investasi lokal. Proyek ini, menurutnya, bisa selesai dalam waktu kurang dari satu tahun karena proses yang dipercepat.

Kini, Warisan Kopi tidak hanya dikenal sebagai destinasi baru di Bogor, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi UMKM. Sebuah tempat di mana angka penjualan meningkat, peluang terbuka, dan harapan diperluas.

Dari 50 porsi menjadi 500—bagi sebagian orang, itu sekadar statistik. Namun, bagi pelaku UMKM di sini, itu adalah bukti bahwa ketika diberi ruang yang tepat, usaha kecil pun mampu melompat jauh lebih besar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....