Di Jejak Kartini, Perempuan Menjaga Nyala Kehidupan

  • 21 Apr 2026 19:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Psikolog Ratih Ibrahim menilai peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran strategis perempuan dalam kehidupan.

SUASANA hangat masih menggantung di udara sebuah ruang di Gedung DPR RI, siang di Selasa 21 April 2026. Seminar perempuan dalam rangka memperingati Hari Kartini baru saja usai.

Kursi-kursi mulai kosong, langkah-langkah kaki terdengar menjauh, dan percakapan perlahan mereda. Namun di sudut ruangan, Ratih Ibrahim masih duduk.

Menyisakan waktu di tengah padatnya agenda. Berbincang santai, seolah enggan melewatkan momen yang terasa begitu bermakna.

Dengan balutan busana bernuansa etnik dan kacamata yang membingkai wajahnya, Ratih yang seorang Psikolog Klinis ini memancarkan kesan tegas sekaligus hangat. Ia berbicara dengan nada lembut, namun setiap kalimatnya terasa berisi.

Seakan membawa gema panjang tentang peran perempuan yang tak pernah benar-benar selesai dibicarakan. Hari itu, di tanggal 21 April, ketika ingatan tentang Kartini kembali dihidupkan, Ratih mengajak untuk melihat perempuan dari sudut yang lebih dalam, bukan sekadar peran, melainkan kekuatan.

“Saya dilahirkan dengan cinta,” ujarnya pelan, disertai senyum yang tenang. “Jadi kehidupan itu memang sangat bergantung pada perempuan.”

Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi menyimpan makna yang luas. Ia mengingatkan bahwa di balik berbagai label dan posisi yang kerap dianggap subordinat, perempuan justru memegang peran fundamental dalam menjaga kehidupan itu sendiri.

Bagi Ratih, perempuan bukan hanya hadir di ruang domestik, melainkan menjadi titik awal lahirnya masa depan. Dari rahim perempuan, generasi baru dilahirkan.

Dari tangan dan hati perempuan, nilai-nilai pertama ditanamkan. “Dari perempuanlah pemimpin masa depan lahir dan dibesarkan,” ujarnya, kali ini dengan penekanan yang lebih dalam.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Ratih melihat perempuan Indonesia kini memiliki ruang yang semakin terbuka. Kesempatan untuk berkembang, berpendidikan, dan berkontribusi kian luas.

Namun di balik peluang itu, ada tantangan yang tak kalah besar. Tentang bagaimana menjaga keseimbangan, terutama kesehatan mental.

“Di era modern saat ini, kita juga tetap punya kekuatan dan kapasitas,” katanya. “Termasuk daya untuk bisa menjaga semua kewarasan, kesehatan, dan eksistensi.”

Nada suaranya menguat saat membicarakan hal ini. Seakan menegaskan bahwa perjuangan perempuan hari ini tidak hanya tentang kesetaraan di ruang publik, tetapi juga tentang ketahanan di dalam diri.

Sesekali, ekspresinya berubah serius ketika menyinggung soal pendidikan. Baginya, inilah kunci yang tak boleh ditawar.

Pendidikan bukan hanya membuka peluang, tetapi juga membebaskan. “Pendidikan adalah kunci kemerdekaan,” ucapnya mantap.

“Ini yang harus kita bangkitkan. Supaya bisa diakses oleh semua perempuan di Indonesia.”

Di sela percakapan, senyum Ratih kerap kembali hadir. Ringan, tetapi penuh arti.

Seolah ia percaya, di balik segala tantangan, perempuan Indonesia memiliki daya untuk terus bertumbuh. Optimisme itu juga ia tangkap dari semangat para peserta seminar hari itu.

Perempuan-perempuan dari berbagai latar. Yang datang dengan harapan dan pulang dengan nyala yang barangkali sedikit lebih terang.

Bagi Ratih, Hari Kartini bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat yang lembut sekaligus tegas, bahwa perjuangan perempuan belum usai.

Hanya bentuknya yang berubah. Menyesuaikan zaman, merambah ruang-ruang baru, dan hadir dalam cara-cara yang lebih beragam.

Di tengah dunia yang terus bergerak, perempuan tetap berdiri. Menjaga, merawat, dan menciptakan kehidupan.

Dan seperti siang yang perlahan beranjak sore itu, percakapan pun usai. Namun pesan yang tertinggal terasa tinggal lebih lama.

Bahwa menjadi perempuan adalah tentang kekuatan yang sering kali sunyi. Tetapi tak pernah benar-benar hilang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....