Menjaga Empati di antara Bencana dan Berita

  • 23 Des 2025 21:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Aceh Tamiang: Penugasan liputan bencana selalu datang tanpa aba-aba. Ia tidak memberi ruang tawar, hanya waktu singkat untuk menyiapkan mental sebelum kaki benar-benar melangkah.

Bagi jurnalis, kalimat “berangkat sekarang” bukan sekadar perintah kerja. Ia berarti memastikan diri siap melihat kehilangan, sekaligus meyakinkan orang-orang di rumah bahwa semua akan baik-baik saja.

Banjir bandang dan longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra datang dengan kekuatan penuh. Air membawa lumpur, batu, dan batang kayu dan batang pohon, menyapu rumah warga tanpa sisa.

Seribu lebih korban jiwa dilaporkan meninggal dunia, ratusan lainnya hilang terseret arus. Harta benda lenyap seketika. Lahan pertanian rusak, ternak mati, peralatan kerja yang selama ini menjadi sandaran hidup tak lagi bisa diselamatkan.

Aktivitas ekonomi lumpuh. Jalan terputus, pasar berhenti, dan banyak keluarga kehilangan rumah sekaligus penghidupan.

Dalam situasi seperti itu, informasi menjadi kebutuhan yang sama mendesaknya dengan bantuan. Di titik inilah Joko Saputra, Ryan Suryadi, dan Dodik Setyo yang merupakan tiga jurnalis RRI, ditugaskan ke lokasi berbeda.

Mereka berangkat dengan beban yang nyaris serupa: ada keluarga yang ditinggalkan, ada kecemasan yang disimpan rapat agar tidak ikut terbawa ke lapangan. Dalam liputan bencana, keberangkatan selalu memiliki dua arah sekaligus: menuju lokasi, dan menjauh sementara dari rumah.

Perjalanan menuju wilayah terdampak bukan sekadar soal jarak. Medan sulit, sinyal komunikasi terputus, dan informasi yang datang setengah-setengah menjadi bagian dari rutinitas.

Setiap langkah mendekat ke lokasi bencana, berarti semakin dekat pada cerita-cerita yang tidak semua orang sanggup mendengarnya. Ada tanya, tetapi susah terucap.

Di Aceh Tamiang, Joko Saputra berhadapan langsung dengan wajah paling rapuh dari bencana. Di antara tenda darurat dan puing-puing rumah, ia menyaksikan duka yang nyaris tak bersuara, misalnya ketika melihat ibu dan anak yang selamat dari amukan banjir.

“Dia itu menangis, tapi tidak ada lagi air mata yang mau dikeluarkan. Sampai dia mengatakan, biarlah harta saya sudah habis, tapi anak saya masih ada,” kata Joko, mengingat momen itu.

Tidak semua duka bisa atau layak direkam. Joko masih mengingat ketika hendak melakukan wawancara, seorang korban menolaknya dengan jujur.

“Mas, enggak usahlah kami diwawancarai. Kami butuh makan.”

Di titik itu, Joko mengambil keputusan sederhana tapi penting. “Saya mulai menyimpan alat rekam,” ucap Joko, sambil meyakinkan diri bahwa etika jurnalistik bukan teori, melainkan pilihan nyata di lapangan.

Beban Joko tidak berhenti di sana. Ia menjalankan penugasan di tengah kabar besar dari rumah.

“Kebetulan istri baru melahirkan, tetapi profesionalisme harus tetap dijalankan. Di balik kerja kita ada doa keluarga,” katanya.

Kalimat itu diucapkan tanpa dramatisasi. Seperti halnya banyak keputusan lain yang harus diambil jurnalis lapangan.

Tim liputan Pusat Pemberitaan RRI Pro 3 saat mendarat di Bandara Silangit untuk melaporkan peristiwa bencana banjir dan longsor (Foto: RRI)

Ryan Suryadi mengalami situasi berbeda di Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara. Longsor terjadi di banyak titik, meninggalkan kerusakan yang sulit dibayangkan dari kejauhan.

Kesan pertamanya masih melekat. “Saya di situ kayak, wah banyak istigfar. Kok bisa longsor sampai segininya dan titiknya banyak,” katanya.

Ryan melihat langsung bagaimana warga bereaksi dalam situasi darurat. “Ada kendaraan ditinggal pemiliknya karena memilih jalan kaki untuk bertemu keluarga,” ujar Ryan.

Di tengah situasi itu, Ryan menyadari setiap pertanyaan memiliki risiko. “Saya ingin tanya, tapi harus pakai hati, ada etika jurnalistik yang harus dipegang.” Memang, tidak semua cerita harus ditarik keluar dengan paksa.

Jurnalis RRI Padang, Dodik Setyo, turut melaporkan peristiwa banjir di Sumbar (Foto: RRI/Dodik Setyo)

Dodik Setyo pun menerima kepanikan warga sejak awal kejadian. Suara-suara itu datang lewat sambungan telepon dan pesan singkat.

“Air datang cepat, Pak. Kami harus bagaimana?” Dodik juga menyaksikan bagaimana kehilangan berubah menjadi penantian tanpa kepastian.

“Ada anak perempuan yang mondar-mandir di tepian sungai. Siapa tahu hari ini orang tuanya ditemukan,” ucapnya.

Dalam situasi seperti itu, Dodik memilih menahan diri dari spekulasi dan emosi berlebihan. Ia percaya ketenangan jurnalis berpengaruh pada ketenangan publik.

“Masyarakat terdampak harus tangguh, relawan jangan putus asa, dan jurnalis juga harus tangguh. Jangan ikut terbawa emosi,” ia menerangkan.

Ketiganya memahami satu hal yang sama, menjadi saksi bukan berarti menjadi pusat cerita. Mereka datang untuk melihat, mendengar, dan menyampaikan, tanpa mengambil alih duka.

Ada kalanya alat rekam disimpan, kamera diturunkan, dan keheningan dipilih sebagai bentuk penghormatan.Ketika penugasan selesai dan mereka kembali, bencana mungkin tak lagi menjadi berita utama.

Namun bagi mereka yang menyaksikannya dari dekat, cerita itu tidak pernah benar-benar usai. Ia tinggal di kepala, di dada, dan di keheningan setelah laporan dikirim, sebagai pengingat di balik setiap berita, ada jurnalis yang bekerja sambil menahan diri agar tetap menjadi manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....