Berburu Tiket, Wujudkan Mimpi Meiliana dan Bilqis Upacara di Istana

  • 17 Agt 2026 13:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Laeli Bilqis Rahmatika dan Meiliana Auranda mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka untuk pertama kalinya.
  • Bilqis, mahasiswi dari Universitas Diponegoro Semarang, harus menempuh perjalanan jauh dari kampung halamannya ke Jakarta untuk hadir pada acara bersejarah tersebut.
  • Kehadiran kedua mahasiswi tersebut menunjukkan antusiasme generasi muda dalam memperingati momen penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pagi itu, halaman Istana Merdeka terasa berbeda bagi Laeli Bilqis Rahmatika dan Meiliana Auranda. Keduanya datang dengan satu kesamaan, yakni untuk pertama kalinya mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI langsung di Istana.

Bagi Bilqis, perjalanan menuju Istana dimulai jauh dari Jakarta. Mahasiswi Universitas Diponegoro Semarang itu harus menempuh perjalanan dari kampung halamannya sebelum akhirnya tiba di Jakarta.

Kesempatan tersebut tidak datang begitu saja. Bilqis harus mengikuti berburu tiket secara daring untuk mendapatkan kesempatan hadir langsung dalam upacara kemerdekaan.

"Teman aku yang 20 HP saja enggak bisa war, enggak dapat, mungkin kayak beruntung, hoki-hokian saja. Aku iPad sama HP, yang dapat iPad," kata Bilqis kepada RRI.CO.ID di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.

Setelah berhasil mendapatkan tiket, persiapan pun dilakukan. Bilqis bahkan sudah menyewa pakaian adat sejak 6 Agustus 2026 untuk dikenakan saat menghadiri upacara.

Pakaian adat Padang dipilihnya untuk menambah kesan istimewa pada pengalaman pertama mengikuti upacara di Istana. Sebelum menuju Jakarta, Bilqis terlebih dahulu singgah di rumah kerabatnya di Depok pada 15 Agustus.

Dari Depok, perjalanan menuju Istana dilakukan sejak dini hari. Semua itu dijalani demi satu pengalaman yang menurutnya tidak akan mudah dilupakan.

"Satu kata kak. Asyik!" ujar Bilqis ketika menggambarkan suasana yang dirasakannya saat pertama kali tiba di Istana Merdeka.

Perasaan serupa juga dirasakan Meiliana Auranda. Perempuan asal Riau itu memang sudah tinggal dan bekerja di Jakarta, tetapi belum pernah sekalipun mengikuti upacara kemerdekaan di Istana.

Bagi Meiliana, mendapatkan tiket juga menjadi pengalaman tersendiri. Ia mengaku baru pertama kali mencoba mendapatkan tiket upacara dan hanya menggunakan satu perangkat.

"Kurang lebih dua hari, karena hari pertama aku enggak dapat banget. Dan itu pertama kalinya nyoba war, device-nya cuma satu-satunya. Jadi, coba lagi di hari kedua, alhamdulillah dapat," ujarnya.

Kesempatan pertama itu kemudian dipersiapkan dalam waktu sekitar satu pekan. Meiliana memilih mengenakan pakaian adat Batak Mandailing untuk menghadiri upacara.

Begitu memasuki kawasan Istana, rasa takjub langsung muncul. Bangunan dan suasana upacara kenegaraan yang selama ini hanya dilihat dari layar, kini berada tepat di depan mata.

"Sebagai Gen Z yang melihat suasana di Istana ini, menurut aku ini megah banget. Pertama kali speechless sih, ternyata akhirnya aku bisa ada di sini," kata Meiliana.

Keduanya memiliki ekspektasi berbeda sebelum datang. Bilqis sudah membayangkan suasana yang meriah, sementara Meiliana memilih datang tanpa ekspektasi khusus.

Namun, keduanya sama-sama menikmati pengalaman tersebut. Bilqis bahkan menyempatkan diri berfoto bersama teman-temannya sebelum rangkaian upacara dimulai.

Di balik pengalaman pertama mengikuti upacara di Istana, keduanya juga memiliki pandangan tentang arti kemerdekaan. Bagi Meiliana, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan.

Menurutnya, masyarakat juga harus merasakan kemerdekaan dari persoalan yang masih terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut korupsi dan kelaparan sebagai persoalan yang seharusnya tidak lagi dirasakan masyarakat.

"Makna merdeka adalah kita semua bisa merasakan merdeka dari korupsi. Merdeka dari kelaparan, dari hal-hal yang harusnya kita sudah tidak merasakan lagi," ucapnya.

Meiliana berharap cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur benar-benar dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Pandangan tersebut juga diamini Bilqis.

"Kalau kita sudah bisa hidup dengan tenang, itu termasuk juga sudah merdeka. Karena kita enggak mikirin ada penjajahan seperti tahun-tahun yang sebelumnya," ucap Bilqis melanjutkan.

Dari Tegal dan Riau, keduanya akhirnya bertemu dalam satu momentum yang sama di Istana Merdeka. Jarak, persiapan, dan perjuangan mendapatkan tiket seolah terbayar.

Apalagi ketika pertama kalinya mereka dapat merasakan langsung khidmatnya peringatan kemerdekaan di jantung pemerintahan. Bagi generasi muda seperti Bilqis dan Meiliana, kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan.

Kemerdekaan juga menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk hidup aman. Kesempatan untuk hidup sejahtera dan adil harus terus diperjuangkan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....