Laptop Perdana Hadir untuk Siswa Prasejahtera Sekolah Rakyat

  • 12 Des 2025 05:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Bagi banyak siswa prasejahtera di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur, laptop pertama mereka menjadi awal perubahan besar. Perangkat itu membuka dunia belajar digital yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya.

Arif duduk paling ujung di kelas 7, memperhatikan layar laptop yang menyala di depannya. Itu bukan sekadar laptop pertama dalam hidupnya, tetapi juga benda yang dulu tidak pernah ia bayangkan bisa ia miliki.

Anak berusia 13 tahun itu menarik napas perlahan, mencoba menghilangkan rasa gemetar yang masih tertinggal sejak pertama kali ia menyentuh perangkat itu. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, hari-hari Arif tidak pernah berdekatan dengan teknologi.

Ia pernah bersekolah di Rawamangun, namun fasilitasnya terbatas dan ia tak punya kesempatan belajar digital. Kondisi keluarga juga membuatnya sempat putus sekolah di kelas tiga.

“Orang tua saya nggak punya uang. Jadi saya berhenti sekolah dulu,” katanya tanpa ragu saat ditemui RRI di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur pekan ini.

Muhammad Arifin Pratama (13) mengikuti pelajaran Desain Grafis di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur, Rabu (10/12/2025) (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Arif tumbuh sebagai anak yang menyukai gambar. Buku tulisnya dipenuhi coretan pemandangan, bentuk-bentuk geometris, hingga sketsa sederhana yang ia buat diam-diam.

Tapi di sekolah lamanya, bakat itu hanya menjadi kegiatan sampingan. “Dari kecil saya suka gambar, tapi sekolah dulu tidak ada fasilitasnya,” ucapnya.

Ketika orang tuanya memutuskan memasukkannya ke Sekolah Rakyat Marga Guna, Arif sempat menolak. Ia mengira sekolah itu seperti pesantren yang mengekang kebebasannya.

Arif kini menggunakan waktu luangnya untuk membuat gambar baru di laptop. Ia bahkan sanggup menyelesaikan sebuah sketsa pemandangan dalam tiga hari berturut-turut.

"Saya mulai mengerjakan dari pukul tujuh malam hingga tengah malam. Saya suka banget gambar, nggak bosen,” katanya, penuh antusias.

Pelajaran desain grafis juga mengubah cara Arif memandang masa depan. Ia mulai memupuk sebuah cita-cita yang sebelumnya tak berani ia sebutkan.

“Saya mau jadi guru seni rupa. Semoga tercapai,” ucapnya, mantap.

Kini, ketika Arif membuka laptopnya setiap pagi, ia tidak lagi merasakan takut. Namun sekarang yang ada justru rasa penasaran dan keyakinan baru.

Dari layar kecil itu, ia melihat masa depan yang tidak lagi samar masa depan yang perlahan terbuka berkat sebuah laptop pertama di sekolah rakyat.

Para siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur mengikuti pelajaran Desain Grafis, Rabu (10/12/2025) (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Namun bayangannya berubah sejak hari pertama orientasi. Ia menerima seragam baru, sepatu, dan fasilitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, termasuk satu laptop pribadi.

“Saya baru pertama kali megang laptop pas masuk sini. Gemeter karena takut rusak,” kata Arif sambil menirukan tangannya yang bergetar.

Sampai-sampai laptop itu sempat ia simpan di lemari. "Karena saya tidak berani menyentuhnya," ucapnya.

Perlahan, rasa takut itu hilang setelah ia mengikuti pelajaran desain grafis yang diajarkan setiap pekan. Di sinilah ia menemukan cara baru untuk mengekspresikan hobinya.

Ia mulai menggambar bentuk-bentuk sederhana, mengikuti instruksi guru, lalu mencetak hasilnya untuk diberikan kepada orang tuanya. “Saya senang karena bisa gambar lalu diprint dan dikasih ke orang tua,” katanya, dengan senyum malu-malu.

Kepala sekolah, Rekut Sutrasto mengatakan, desain grafis dipilih karena sekolah memiliki guru yang ahli serta fasilitas laptop yang memadai. “Gurunya ada, alatnya ada jadi kami kembangkan kompetensi ini untuk anak-anak,” kata Rekut.

Menurutnya, program ini penting untuk memberi bekal digital kepada anak-anak prasejahtera. Di mana banyak di antaranya belum pernah memegang laptop sebelum masuk sekolah.

“Kami ingin anak mendapat bekal digital supaya mereka bisa bersaing nanti. Selain itu juga sebagai bekal ilmu pengetahuan untuk mereka," ujarnya.

Setiap siswa kini memegang satu laptop untuk belajar berbagai mata pelajaran. Tantangan terbesar adalah membiasakan anak menggunakan teknologi secara benar dan bertahap.

“Kami ajarkan perlahan supaya penggunaan digitalnya tetap bijak. Kami ajarkan secara bertahap,” ucap Rekut.

Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta Timur, Rekut Sutrasto memberikan pengantar materi Desain Grafis kepada para siswa, Rabu (10/12/2025). (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Meski begitu, perkembangan anak-anak sangat terlihat. Semangat belajar meningkat, tugas menjadi lebih kreatif, dan karya digital sederhana mulai muncul.

“Anak-anak sudah bisa membuat logo dan desain dasar. Itu perkembangan yang menjanjikan,” ucapnya.

Di luar kelas, Sekolah Rakyat juga memastikan kesehatan anak-anak terjaga. Berat badan mereka dipantau setiap bulan, dan tenaga kesehatan selalu siap menangani keluhan.

“Anak-anak naik dua kilo setiap bulan. Itu tanda kesehatannya terjaga,” kata Rekut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....