Pejuang Jasa Angkut Barang Terminal Tanjung Priok
- 18 Mar 2025 05:18 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Bulan Ramadhan banyak mengisahkan para pekerja keras yang giat mencari jalan untuk memenuhi panggilan-Nya. Meski didera haus, diterpa dahaga, para pekerja tidak lelah untuk mencari ridho-Nya.
Adalah Suganda pria kelahiran bumi Pasundan Cirebon 65 tahun lalu, di usia yang sudah menua menjalankan garis hidup sebagai Porter/pembawa jasa barang di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Beratnya beban yang dipikul Pak Suganda membuahkan makna di bulan penuh berkah. Tidak ada keluh kesah, puji syukur selalu dirasa dengan lapang dada. Ia menjelaskan di bulan puasa meski berat beban yang ia pikul ia tetap melakukan ibadah puasa, namun jika tidak sanggup lantaran usia sudah tidak mampu menahan dahaga, ia terpaksa tidak menjalankan nya.
"Kadang puasa, kadang tidak karena sudah tidak kuat memikul beban akhirnya kita tidak bisa membohongi usia, " ujar Pak Ganda.
Meski hidup puluhan tahun di Jakarta Utara, Pak Ganda masih hidup ngontrak dengan kesederhanaannya. Ia mengalami banyak pristiwa sejak tinggal di Tanjung Priok, salah satunya pristiwa Amir Bikki, kasus yang hingga kini masih misteri.
"Kalo percaya pada waktu itu saya jalan dari Sindang, sampai PTDI di Priok, selama 3 bulan wilayah itu diawasi tentara, " cerita Pak Ganda.
Yah, Tanjung Priok, mengingatkan banyak problema tentang hidup perjuangan kaum urban di Ibu Kota. Jika mendengar nya, terbersit diingatan tentang banyak kasus kriminal yang dilakukan kaum urban untuk bertaruh nasib.
Meski hidup dan bekerja di wilayah keras Terminal Tanjung Priok, Pak Ganda tidak mengikuti arus, ia bekerja dengan semangat mencari nafkah demi mencukupi keluarga dan biaya anak-anak nya bersekolah.
Pak Ganda mengingat masa lalunya. Awalnya ia berwiraswasta sebagai pedagang buku, namun sejak corona melanda, buku-buku sudah tidak lagi dilirik pembeli, terlebih zaman telah beralih, dunia digital lebih digemari. Sejak itulah Pak Ganda beralih profesi sebagai buruh pengangkat barang di Terminal Tanjung Priok.
"Tidak ada lagi pekerjaan, terpaksa jadi buruh Terminal," ujar Pak Ganda.
Tidak banyak hasil yang ia dapat untuk menawarkan jasa tenaganya bagi para penumpang Terminal Tanjung Priok, menurutnya hanya cukup untuk makan, namun ia tetap mensyukuri karunia yang telah ditetapkan-Nya.
"Jadi Porter itu tidak menentu, kadang 40 ribu, kadang 50 ribu, itu kerja dari pagi sampai sore, " ujar Pak Ganda.
Suka duka tak terkira yang telah di alami sebagai buruh terminal, Pak Ganda tetap tekun membantu mengantarkan barang para penumpang yang ingin diantar menuju bus yang akan dituju para penumpang.
"Namanya porter, istilahnya jasa angkut barang, ada yang mau diangkut kita antar, " kata Pak Ganda.
Hidup memang penuh perjuangan meski berada di tempat keras, jalan hidup harus tetap bermakna agar dapat bermanfaat bagi keluarga dan sesama.
Profesi jasa Porter menjadi penting terutama saat bulan puasa, dimana manusia tidak lagi diukur oleh materi semata namun kekuatan fisik juga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....