Soe Hok Gie dan Dekapan Lembah Mandalawangi

  • 17 Nov 2024 13:47 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN,Bukittinggi: “Malam itu ketika dingin dan kebisuan Menyelimuti Mandalawangi, Kau datang kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua. Hidup adalah soal keberanian, Menghadapi yang tanda tanya Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah, dan hadapilah,” ucap Soe Hok Gie dalam puisinya yang berjudul Mandalawangi – Pangrango pada 1966.

Tak hanya menggambarkan tentang keindahan alam Mandalawangi di Gunung Pangrango, Jawa Barat, Pria berdarah Tionghoa - Indonesia ini berhasil membuat siapapun yang membaca puisinya terhipnotis memaknai semangat keberanian dalam menjalani hidup.

Sekilas tentang pria yang kerap disapa Gie, lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942, Ia merupakan mahasiswa di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia pada kurun waktu 1962-1969. Beliau juga merupakan seorang aktivis yang mengkritik situasi politik Indonesia. Mulai dari rezim Orde Lama, hingga sistem pemerintahan Orde Baru yang ia luapkan dalam catatan yang telah menjadi buku berjudul Catatan Seorang Demonstran.

Pemikirannya yang kritis menjadikan namanya mentereng di tengah kalangan pemuda dan pemudi terutama mahasiswa pada masa itu. Hingga pada suatu titik, Gie meninggal dunia sebelum genap berusia 27 tahun karena Acute Mountain Sickness (AMS), gangguan kesehatan yang kerap dialami pendaki di ketinggian karena kekurangan oksigen, ada juga isu yang beredar karena menghirup gas beracun di kawasan puncak Gunung Semeru, Jawa Timur pada 16 Desember 1969.

Di pelukan Mahameru (Puncak Semeru), Gie meninggalkan dunia bersama kolega pendakiannya dari Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), Idhan Lubis. Entah suatu kebetulan atau memang takdir, Gie juga pernah mengungkapkan pemikirannya tentang kematian.

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa – rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda,” demikian Soe Hok Gie toreh dalam buku hariannya.

Jenazah Gie dikebumikan di pemakaman Menteng Pulo, dan dipindahkan ke pemakaman Kebon Jahe Kober, Tanah Abang yang kini dikenal sebagai Museum Taman Prasasti karena pemindahan jenazah sebab makam yang terus bertambah. Menyikapi hal tersebut keluarga Soe Hok Gie menolak upaya tersebut dan lebih memilih mengkremasi jasad Gie, yang abunya ditebar di Lembah Mandalawangi.

Soe Hok Gie, pemuda Intelektual yang merdeka telah menyatu dalam dekapan Mandalawangi.

“Aku cinta padamu Pangrango. Karena aku cinta pada keberanian hidup,” tutup Gie dalam puisinya Mandalawangi – Pangrango.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....