Empat Tahun Pustu Terbengkalai, Warga Otoweri Kesulitan Berobat
- 07 Apr 2026 18:31 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Puskesmas Pembantu (Pustu) di Kampung Otoweri, Distrik Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dilaporkan terbengkalai dan tidak berfungsi hampir empat tahun terakhir. Kondisi ini memaksa warga harus menempuh perjalanan berat demi mendapatkan layanan kesehatan.
Bangunan Pustu yang berada di tepi jalan kampung tersebut sebenarnya tergolong besar dengan dua ruangan, masing-masing untuk tempat tinggal tenaga kesehatan dan ruang pelayanan. Namun, fasilitas itu kini tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Seorang warga Otoweri, Cha, mengungkapkan sejak ditinggalkan tenaga kesehatan, tidak ada lagi pelayanan medis yang tersedia di kampung tersebut.
“Pustu kami sudah lama ada, bangunannya bagus, tapi hampir empat tahun ini tidak ada pelayanan kesehatan,” ujarnya, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan, sebelumnya pernah ada tenaga kesehatan yang ditempatkan di Pustu Otoweri. Namun, mereka hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya pergi tanpa kejelasan.
“Biasanya alasan ke kota, tapi sampai berbulan-bulan tidak kembali, sehingga masyarakat juga tidak tahu keberadaan mereka,” katanya.
Padahal, pada masa awal beroperasi, Pustu tersebut cukup aktif melayani masyarakat, mulai dari pemeriksaan kesehatan dasar seperti tensi dan cek darah hingga pemberian obat. Saat itu terdapat dua tenaga kesehatan yang menetap di kampung, yakni seorang suster dan mantri.
Akibat tidak adanya pelayanan, warga kini harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menyusuri kali menggunakan perahu menuju fasilitas kesehatan terdekat di Distrik Bomberai. Dari sana, pasien kemudian dijemput ambulans untuk dibawa ke SP 1 Bomberai.
Cha yang juga merupakan kader kampung mengaku sering menghadapi situasi darurat, terutama saat mendampingi ibu hamil. Ia bahkan pernah mengalami kejadian sulit saat seorang ibu melahirkan dengan komplikasi serius.
“Waktu itu ari-arinya tertinggal, dari sore sampai subuh tidak keluar. Akhirnya kami harus jemput dokter malam hari dari Handak ke kampung,” ungkapnya.
Selain itu, kasus penyakit seperti muntaber pada anak-anak hingga pasien dengan riwayat jantung dan hipertensi juga menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebut, belum lama ini seorang warga meninggal dunia karena tidak sempat mendapatkan pertolongan awal seperti bantuan oksigen.
Meski demikian, warga menilai alasan tenaga kesehatan enggan bertugas di kampung tidak sepenuhnya tepat. Pasalnya, para guru justru mampu bertahan tinggal dan mengabdi di Otoweri, bahkan sambil menjalankan usaha sampingan seperti menangkap udang dan ikan.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengaktifkan kembali Pustu Otoweri dengan menempatkan tenaga kesehatan yang siap siaga melayani masyarakat. Keberadaan layanan kesehatan yang memadai dinilai sangat penting, terutama untuk penanganan dini kasus darurat di wilayah terpencil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....