Fuly Pala Tomandin Fakfak Catat Harga Tertinggi Nasional
- 04 Mar 2026 02:42 WIB
- Fak Fak
RRI.CO.ID, Fakfak - Kabar menggembirakan datang dari sentra perkebunan pala di Fakfak. Harga fuly pala (bunga pala) varietas Tomandin kini menembus angka Rp250.000 per kilogram, menjadi salah satu harga tertinggi dalam beberapa waktu terakhir di tingkat produsen.
Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki daya saing tinggi di pasar nasional. Komoditas ini diburu pembeli antar pulau hingga luar negeri yang beroperasi melalui kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Permintaan yang stabil membuat harga jual relatif kokoh dibandingkan pala dari sejumlah daerah lain.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, saat melakukan inspeksi ke sejumlah pedagang grosir antar pulau menjelaskan, harga Rp250.000 per kilogram menempatkan fuly Pala Tomandin Fakfak sebagai salah satu harga pembelian tertinggi di tingkat produsen saat ini.
“Harga ini bisa dicapai dengan persyaratan tertentu, seperti fuly diperoleh dari pala tua atau matang petik, dilepas utuh dari bijinya tanpa menggunakan alat, sehingga kualitasnya tetap terjaga,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan sentra pala seperti Maluku Utara, Aceh Selatan, maupun beberapa wilayah di Sulawesi Utara, harga di daerah tersebut umumnya berada pada kisaran lebih rendah dan sangat bergantung pada volume produksi. Saat pasokan melimpah, harga bahkan bisa turun di bawah Rp200.000 per kilogram.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat Fakfak mampu mencatat harga lebih tinggi. Pertama, kualitas dan ciri khas aroma. Fuly pala Fakfak dikenal memiliki warna merah cerah, serat utuh, serta aroma kuat dengan kandungan minyak atsiri yang baik. Kedua, ketersediaan yang terbatas karena fuly merupakan bagian bunga pala yang jumlahnya tidak sebanyak biji, sementara kebutuhan industri cukup tinggi. Ketiga, permintaan stabil dari luar daerah yang menilai kualitas pala Fakfak konsisten.
Selain itu, tata kelola dan pengawasan mutu yang semakin baik turut memperkuat posisi tawar petani. Produk yang keluar dari Fakfak kini lebih selektif melalui proses uji kualitas dan pengemasan rapi sehingga kepercayaan pasar tetap terjaga.
“Kami terus mengedukasi pelaku usaha dan pekebun agar menunggu waktu panen yang tepat, mengikuti kalender musim, serta tidak menjual pala dalam kondisi mentah. Nilai ekonominya sangat jauh berbeda jika diolah hingga kering dan berkualitas,” tegasnya.
Ia mengakui, sejumlah buyer dari Jakarta dan Surabaya kerap menghubungi langsung untuk menanyakan ketersediaan dan produktivitas fuly pala Fakfak. Bahkan, para pembeli menyatakan kesiapannya mengikuti harga yang berlaku di Fakfak selama kualitas terjamin.
Momentum harga tinggi ini dinilai sebagai titik balik perubahan pola usaha petani. Penguatan pascapanen menjadi kunci hilirisasi komoditas pala, mulai dari pemisahan biji dan fuly, proses pengeringan tepat, sortasi mutu, hingga pengemasan standar.
Dengan pengolahan yang benar, petani tidak lagi sekadar produsen bahan baku, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha bernilai tambah.
Dinas Perkebunan Fakfak, lanjutnya, siap mendukung melalui pendampingan teknis, peningkatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar petani mandiri dalam pengolahan dan pemasaran.
“Kalau kita ingin Pala Tomandin Fakfak tetap berjaya dan memberi manfaat besar bagi kesejahteraan keluarga petani, maka kuncinya ada pada mutu, kualitas, dan keberanian untuk mengolah sendiri,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....