Menanti Sekda Baru Kabupaten Fakfak: Tiga Nama, Satu Pilihan

  • 09 Sep 2026 07:31 WIB
  •  Fak Fak

RRI.CO.ID, Fakfak- Tiga nama kini berada di ujung proses seleksi terbuka (Selter) Sekretaris Daerah Kabupaten Fakfak. Abdul Razak Ibrahim Rengen, Arif Rumagesan dan Muhasim Namudat sama-sama memiliki pengalaman birokrasi dan modal kepemimpinan yang berbeda.

Satu kursi Sekda kini menjadi titik perhatian. Sebab, siapa pun yang terpilih nantinya akan memegang peran penting dalam menggerakkan mesin birokrasi Pemerintah Kabupaten Fakfak.

Abdul Razak Ibrahim Rengen, S.H., M.Si., saat ini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah. Ia memiliki pengalaman yang dekat dengan urusan perencanaan pembangunan, penyusunan program dan arah kebijakan daerah.

Arif Rumagesan, S.Sos., M.Si., merupakan Asisten I Setda Fakfak. Pengalamannya berada di lingkungan koordinasi pemerintahan menjadi salah satu modal dalam proses seleksi. Selain birokrasi, ia juga memiliki latar sosial-adat yang kuat di tengah karakter masyarakat Fakfak.

Sementara Muhasim Namudat, S.E., M.Si., menjabat Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Pengalamannya bersentuhan langsung dengan pelayanan publik, investasi dan perizinan menjadi modal tersendiri.

Tiga nama, tiga pengalaman, dan tiga karakter kepemimpinan. Abdul Razak membawa kekuatan di bidang perencanaan, Arif dengan pengalaman pemerintahan dan sosial-adat, sedangkan Muhasim dengan pengalaman pelayanan, investasi dan perizinan.

Namun kursi Sekda bukan sekadar soal siapa yang paling senior atau siapa yang memiliki pengalaman paling banyak. Jabatan ini membutuhkan kemampuan mengendalikan koordinasi antarpimpinan OPD, memastikan program berjalan, menjaga disiplin administrasi dan anggaran, sekaligus menerjemahkan kebijakan kepala daerah ke dalam kerja birokrasi.

Sekda juga dituntut mampu menjadi penghubung antara kepemimpinan politik daerah dan profesionalisme aparatur sipil negara. Karena itu, figur yang terpilih harus mampu bekerja dekat dengan kepala daerah tanpa kehilangan keberanian untuk memberikan pertimbangan berdasarkan aturan dan kepentingan pemerintahan.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting bagi Fakfak. Persoalan pembangunan, investasi, pelayanan publik hingga hubungan pemerintah dengan masyarakat adat membutuhkan birokrasi yang mampu bekerja cepat, tetapi tetap tertib dan terukur.

Di sinilah kekuatan masing-masing kandidat akan diuji. Pengalaman perencanaan harus mampu diterjemahkan menjadi kemampuan memimpin birokrasi. Modal sosial-adat harus dapat menjadi kekuatan komunikasi pemerintahan. Sementara pengalaman investasi dan pelayanan harus mampu diterjemahkan menjadi tata kelola yang efektif.

Karena itu, pertanyaan publik kini bukan hanya siapa yang paling dekat dengan kekuasaan, tetapi siapa yang paling siap ketika seluruh mesin birokrasi Fakfak berada di bawah koordinasinya.

Keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme Selter dan kewenangan pejabat yang berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selama keputusan resmi belum ditetapkan, ketiga nama tersebut masih memiliki peluang yang sama.

Satu hal yang pasti, kursi Sekda Fakfak terlalu strategis untuk sekadar dipandang sebagai pergantian jabatan. Figur yang terpilih nantinya akan menghadapi pekerjaan besar: memastikan birokrasi bergerak, program pemerintah berjalan dan pelayanan kepada masyarakat semakin baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....