Hutan Bukan Cuma Kayu, Ini Potensinya

  • 22 Agt 2026 22:00 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Hutan ternyata menyimpan jauh lebih banyak kekayaan daripada sekadar kayu yang dapat ditebang dan dimanfaatkan. Dari sumber air, buah-buahan, madu kelulut, gula aren, rebung, lada hingga berbagai komoditas pangan, masyarakat di kawasan hutan memiliki beragam peluang untuk mengembangkan sumber ekonomi tanpa harus merusak ekosistemnya.

Koordinator Provinsi Forest Program V Sanggau, P.S. Riyanto DS, mengatakan berbagai hasil hutan tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan masyarakat apabila dikelola dengan kreatif dan berkelanjutan. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga mengolah komoditas, menjaga kualitas, membangun pasar, dan memastikan usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.

“Yang paling mudah dan murah, apalagi dengan tren sekarang air minum itu sudah pakai galon, itu yang paling mudah sekali dan murah sebenarnya untuk menjadi profit secara terus-menerus. Air kita sebenarnya yang dari gunung yang asli, tinggal masalah bagaimana memfilternya dan seterusnya,” ujar P.S. Riyanto dalam Obrolan Green Radio RRI Sanggau, Sabtu, 22 Agustus 2026.

P.S. Riyanto menjelaskan sumber air menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan karena masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya alam yang tersedia di kawasan mereka. Selain itu, buah-buahan seperti durian dan langsat juga memiliki peluang untuk dikembangkan, terutama melalui pengolahan sehingga hasil panen musiman tidak hanya dijual dalam bentuk segar dengan harga yang mudah turun ketika produksi melimpah.

“Produk seperti gula aren, permintaannya sebenarnya tinggi. Karet juga salah satu yang bisa menjadi ekonomi bagi masyarakat, karet itu disadari dulu, pertahankan, jangan digunduli, apalagi kalau ditebang hanya untuk bangun sawit,” ungkapnya.

Ia mengatakan sejumlah produk seperti dodol, kopi, madu kelulut, rebung, lada dan berbagai komoditas lainnya telah menjadi bagian dari proses pendampingan yang dilakukan kepada kelompok masyarakat. Namun, keberhasilan setiap usaha tidak selalu dapat dicapai dalam satu kali percobaan karena kelompok masih harus belajar mengenai produksi, peralatan, pengemasan, pemasaran hingga pengelolaan keuangan.

“Jadi kalau produk-produknya seperti ini kita jalankan, tetap kita masih proses pembelajaran, belum ada yang seratus persen berhasil. Yang kita angkat sekarang yaitu dodol, madu kelulut, rebung, dan lada, karena komoditasnya komoditas kerakyatan,” kata P.S. Riyanto.

P.S. Riyanto menegaskan pemanfaatan hasil hutan harus tetap berpegang pada prinsip kelestarian agar manfaat ekonominya dapat dirasakan dalam waktu panjang. Ia berharap masyarakat semakin berani mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya dengan melihat hutan sebagai sumber pangan, air, bahan baku, dan penghidupan yang harus dijaga bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....