Tembawang dan Kekuatan Adat dalam Menjaga Hutan

  • 22 Agt 2026 22:02 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Sanggau - Di tengah ancaman kerusakan hutan dan perubahan fungsi kawasan, masyarakat adat memiliki kekuatan lokal yang telah diwariskan jauh sebelum berbagai aturan pengelolaan hutan hadir. Nilai adat tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga dapat menjadi benteng untuk menjaga kawasan, sumber kehidupan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya.

Koordinator Provinsi Forest Program V Sanggau, P.S. Riyanto DS, mengatakan hubungan masyarakat adat dengan hutan sangat erat karena kawasan tersebut menjadi bagian dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat. Ia menilai semakin kuat nilai adat dipahami dan dijalankan, semakin besar pula peluang masyarakat menjaga wilayah yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

“Kalau ditanya seberapa penting, itu sama pentingnya dengan jati diri saya. Jadi adat itu ya jati diri, kalau sudah tidak beradat, tidak punya jati diri,” ujar P.S. Riyanto dalam Obrolan Green Radio RRI Sanggau, Sabtu, 22 Agustus 2026.

P.S. Riyanto menjelaskan kedekatan masyarakat dengan hutan dapat terlihat melalui keberadaan tembawang yang merupakan kawasan warisan leluhur dan telah menjadi milik bersama secara turun-temurun. Menurutnya, kawasan tersebut bukan sekadar hamparan pepohonan, tetapi menyimpan hubungan kekerabatan, sejarah, serta identitas masyarakat yang perlu terus dijaga.

“Kalau alamnya sudah mulai hilang, biasanya kualitas adatnya pun menurun. Jadi nilai-nilai adat ini penting untuk menjaga sekaligus menghargai areal mereka sendiri, menjaga kedaulatan mereka sendiri,” ungkapnya.

Ia mengatakan melemahnya nilai adat dapat menjadi persoalan ketika kawasan yang sebelumnya dijaga bersama mulai dibuka secara individual tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Karena itu, Forest Program V berupaya melibatkan pemimpin adat dalam berbagai diskusi bersama kelompok perhutanan sosial agar nilai dan aturan adat dapat kembali menjadi bagian dari pengelolaan kawasan.

“Jadi mereka bisa menyampaikan kebijakan-kebijakan mereka juga dalam adat itu terkait dengan program sosial. Ini menjadi salah satu langkah konkret yang coba diupayakan, berhasil tidak berhasilnya kita tidak tahu, belum bisa saya ukur, tapi kita berupaya supaya kesadaran pemimpin adatnya punya kesadaran bahwa program ini mereka juga,” kata P.S. Riyanto.

P.S. Riyanto menilai pengelolaan kawasan akan semakin kuat apabila masyarakat, pemimpin adat, dan pemerintah dapat membangun komunikasi serta kesepahaman mengenai tanggung jawab menjaga hutan. Ia berharap nilai adat terus diperkuat sebagai identitas sekaligus kekuatan masyarakat untuk melindungi kawasan, sumber air, sumber pangan, dan ruang hidup bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....