Penyebab Alergi Konsumsi Telur pada Anak-anak
- 13 Agt 2026 14:39 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Sanggau - Alergi telur merupakan salah satu jenis alergi makanan yang paling sering dijumpai, terutama pada bayi dan anak-anak. Kondisi ini timbul ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali protein yang terkandung di dalam telur sebagai zat berbahaya bagi tubuh. Sebagai bentuk perlindungan diri, sistem imun akan memicu serangkaian reaksi kimia yang kemudian menimbulkan berbagai gejala klinis pada tubuh pengonsumsinya.
Penyebab paling dominan dari alergi ini berasal dari protein yang terdapat pada bagian putih telur. Putih telur mengandung beberapa jenis protein spesifik, seperti ovalbumin, ovomucoid, dan ovotransferrin, yang sangat mudah memicu respons sistem kekebalan tubuh. Dari ketiga jenis tersebut, ovomucoid merupakan protein yang paling tahan terhadap panas proses memasak, sehingga tetap dapat memicu reaksi alergi meskipun telur telah diolah hingga matang.
Meskipun bagian putih telur lebih sering menjadi pemicu utama, bagian kuning telur juga memiliki potensi yang sama untuk menyebabkan alergi. Kuning telur mengandung protein seperti vitellin dan livetin yang dapat dikenali sebagai zat asing oleh tubuh. Dalam banyak kasus, pemisahan antara putih dan kuning telur saat memasak sulit dilakukan secara sempurna, sehingga seseorang yang sensitif terhadap salah satu bagian tetap berisiko mengalami reaksi alergi.
Mekanisme terjadinya reaksi alergi dimulai ketika seseorang yang sensitif mengonsumsi telur, lalu sistem kekebalan tubuhnya memproduksi antibodi khusus bernama Immunoglobulin E (IgE). Antibodi ini bertugas mengidentifikasi protein telur dan memicu pelepasan senyawa kimia bernama histamin dari sel-sel mast ke dalam aliran darah. Pelepasan histamin inilah yang akhirnya menyebabkan munculnya gejala seperti gatal-gatal, ruam merah, pembengkakan, hingga gangguan pencernaan dan pernapasan.
Faktor genetik atau riwayat keluarga memegang peranan sangat besar dalam meningkatkan risiko seseorang terkena alergi telur. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi, baik alergi makanan, asma, eksim (dermatitis atopik), maupun rhinitis alergi, maka anak memiliki kecenderungan biologis yang jauh lebih tinggi untuk mengembangkan sensitivitas serupa terhadap protein telur.
Usia dan tingkat kematangan saluran pencernaan juga menjadi faktor penyebab yang signifikan. Pada bayi dan balita, lapisan dinding usus serta sistem kekebalan tubuh belum berkembang dan matang secara sempurna, sehingga protein telur yang berukuran besar lebih mudah menembus usus dan memicu respons imun. Seiring bertambahnya usia, banyak anak yang secara alami mulai toleran terhadap protein telur karena sistem pencernaan mereka telah berkembang lebih kuat.
Memahami berbagai penyebab alergi telur sangat penting untuk menentukan langkah penanganan dan pencegahan yang tepat. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan menghindari konsumsi telur serta produk olahannya secara cermat melalui pembacaan label makanan. Jika reaksi alergi muncul secara berulang atau menunjukkan gejala yang berat, berkonsultasi dengan dokter spesialis alergi sangat dianjurkan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan rencana perawatan yang aman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....