Ironi Pupuk Bersubsidi di Sanggau
- 13 Des 2025 21:45 WIB
- Entikong
KBRN, Entikong: Menjadi petani di Kabupaten Sanggau nyatanya bukan pekerjaan yang mudah. Kesejahteraan petani di daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Daranante itu masih jauh di bawah rata-rata profesi lainnya. Para pahlawan ketahanan pangan ini juga dihadapkan dengan beban kerja yang kian berat, mulai dari cuaca tak menentu, serangan hama, hingga ketersediaan pupuk yang berpengaruh pada periuk dapur mereka.
Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Kabupaten Sanggau mencatat, dari 493 ribu jiwa penduduk kabupaten ini, 55.736 orang berprofesi sebagai petani. Dari jumlah itu, baru 33.000 petani yang dipastikan memperoleh subsidi pupuk. Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perikanan Kabupaten Sanggau, Yusmayani mengungkapkan, masih ada sekitar 20 ribuan petani yang belum memperoleh subsidi pupuk.
“Untuk update terbaru itu sekitar 55.736 petani yang terdaftar di dalam e-RDKK itu sekitar 33.000. Dari kuota pupuk yang diberikan sama pemerintah itu, ya tentunya belum bisa mencukupi. Yang sudah didaftarkan melalui e-RDKK itu permintaan mereka 6.997 ton. Sedangkan kita dialokasikan, ini untuk urea contohnya ya, 5.900-an,” ungkap Yusmayani, Sabtu (13/12/2025).
Pasokan pupuk yang kurang itu dibantah PT Pupuk Indonesia melalui distributornya. Manajer PT Kurnia Cipta Abadi, Kurniawan mengatakan, ketersediaan pupuk untuk wilayah Kabupaten Sanggau sejauh ini cukup. Cukupnya stok pupuk itu merupakan akumulasi pupuk subsidi dan non-subsidi. Hanya saja, menurut dia, banyak petani yang enggan menggunakan pupuk non-subsidi karena disparitas harga yang tinggi.
“Ya, selama ini sih saya belum pernah dengar kios ini kosong. Kalau kosong menjadi teguran nanti. Tiap Senin dan Kamis itu ada laporan, ada angka ketersediaan stok. Kalau untuk non-subsidi dengan subsidi, kisaran harga itu di angka Rp100.000-Rp200.000. Untuk harga terbaru, sesuai arahan dari Pak Prabowo, harga subsidi turun 20 persen. Untuk sekarang urea menjadi Rp90.000, NPK-nya Rp102.000, dan organik Rp25.600,” ucap Kurniawan.
Kurniawan mengungkapkan, musabab kekosongan stok pupuk di tingkat kios, tempat petani menebus pupuk, adalah proses distribusinya yang membutuhkan waktu. Beberapa armada pengangkut pupuk sering terkendala bahan bakar kendaraan yang kerap kosong di SPBU. Alhasil, armada itu harus menunggu hingga bahan bakar minyak tersedia untuk melanjutkan pengiriman pupuk.
Lantas, berapa lama kekosongan stok pupuk terjadi? Salah seorang petani di Desa Thang Raya, Yunarto menuturkan, kekosongan pupuk di tingkat kios biasanya terjadi hingga dua hari. Selama dua hari itu, petani hanya bisa menunggu jika waktu pemupukan sudah tiba.
“Ndak juga, ndak tetap ada. Petani kan banyak, ada informasinya. Dua hari, datang lagi. Mungkin penyalurannya yang lambat. Kadang-kadang waktu itu kan pencarian minyak juga, solar. Ndak selalu kan, ndak selalu,” ujarnya.
Pupuk bersubsidi memegang peran vital dalam sektor pertanian di Kabupaten Sanggau. Kendati harganya telah turun berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian, tidak semua petani dapat memperolehnya. Bahkan, petani yang telah tercatat dalam basis data pemerintah pun masih ada yang belum beruntung mendapatkannya.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pupuk di Kabupaten Sanggau, mulai dari digitalisasi distribusi hingga edukasi penggunaan pupuk organik. Namun, jalan menuju ketersediaan pupuk yang stabil belum sepenuhnya mulus. Lalu, sampai kapan ironi pupuk ini berlangsung?