Melepas Belenggu Keterbatasan Anak Berkebutuhan Khusus

  • 11 Des 2025 19:05 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: “Sebenarnya saya sedikit kecewa, karena sudah dua kali saya pernah daftar di sekolah berbeda, di situ sekolah tidak bisa menerima anak berkebutuhan khusus. Di sekolah inklusi inilah dia bisa diterima dan paslah sekolahnya dengan keadaan dia yang berkebutuhan,”.

Akhirnya bisa sekolah, itulah kalimat kelegaan Ina, salah seorang Ibu dari anak istimewa yang bersekolah di SD Negeri 1 Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Di tengah keterbatasannya sebagai ibu, wanita muda ini terus mengupayakan pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhan khusus.

Ina ingat betul bagaimana sulitnya mendidik anak istimewanya di tengah keterbatasan perbatasan. Sekolah luar biasa yang diharapkan dapat mendidik anaknya dengan baik, lokasinya jauh di ibu kota kabupaten.

"Karena di sekolah lain dia tidak bisa diterima dikarenakan tidak bisa mengajarnya gurunya. Kalau di sini kan pas dengan keadaan dia seperti itu dan dapat guru juga yang bisa mengajar dia, memahami dia. Biar dia bisa berkembang seperti anak pada umumnya, yang pasti bisa bergaul, bisa diterima, bermain bersama, tidak di-bully. Soalnya saya pernah melihat anak saya, dia mau bermain, cuman anak-anaknya itu enggak mau menerima, malah kayak diolok," ungkap Ina, Kamis (11/12/2025).

Selain Ina, ada pula Erda yang merasakan kegundahan yang sama. Memiliki anak istimewa dengan segala ceritanya membuat Erda kadang ingin berhenti. Namun nalurinya sebagai ibu membuat dia kembali bangkit. Sembari menahan tangis, Erda menceritakan kisahnya membesarkan anak istimewanya itu.

"Kalau saya pasti pengin anaknya itu sekolah. bisa mandiri, bisa berkembang juga seperti anak-anak lainnya. Ya, harapannya pengajarannya itu lebih baik lagilah. Kalau bisa mainan gitu, kalau bisa sih ya ditambah lah. Ya, permainan yang mengedukasi sih ya, biar lebih stimulasinya lebih bagus," ujar Erda.

SD Negeri 1 Balai Karangan merupakan satu-satunya sekolah umum di perbatasan Kabupaten Sanggau dengan luar negeri yang membuka kelas bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di sekolah ini, anak-anak berkebutuhan khusus bukan hanya dididik, tapi juga dipahami sikap dan keinginan yang tidak bisa mereka utarakan.

"Saya mengajar anak yang seperti ini sebenarnya punya tantangan sih bagi saya, cuman di balik itu saya punya kemauan untuk belajar juga dari mereka, ya. Karena saya yakin anak ini juga mau belajar gitu. Walaupun saya punya kekurangan untuk mengajar, tapi saya semampunya saya untuk mengajar mereka supaya mereka bisa memiliki pendidikan," ungkap Valencia Sirut Suberti, guru siswa berkebutuhan khusus di SD Negeri 1 Balai Karangan.

Dengan latar belakangnya sebagai pengajar siswa umum, awalnya Valencia merasa tertantang untuk berbagi ilmu dengan anak-anak istimewa yang dididiknya. Menjadi pengajar anak berkebutuhan khusus, Valencia menemukan hal baru dalam hidupnya. Bersama anak-anak istimewa ini, Valencia belajar menjadi insan Tuhan yang bisa menerima dengan hati.

"Di sini saya juga belajar dari banyak hal. Saya harus memahami sifatnya mereka, kebiasaannya mereka sehari-hari. Karena ketika kita memahami yang mereka mau, kita juga bisa masuk ke dunianya mereka. Misalnya, 'Oh, anak ini kalau diginikan dia marah.' 'Oh, anak ini kalau diginikan dia sendiri.' Kita harus memahami dunianya mereka juga, begitu,” ucapnya.

Sekolah inklusi bukan hanya tentang menerima siswa dengan kebutuhan khusus. Ini tentang menciptakan ruang di mana setiap anak dapat menjadi versi terbaik mereka. Dan, guru seperti Valencia menjadi jembatan yang menghubungkan keberagaman dengan kesempatan itu.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita