Jual Kue Lapis Sambas, Umar Buktikan Laki-laki Bisa Patahkan Stereotip Gender
- 05 Mar 2026 13:04 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Membuat kua seperti kue lapis, yang selama ini dianggap sebagai “dunia perempuan”, kini mulai dijajaki oleh laki-laki yang ingin membuktikan bahwa usaha dan dedikasi tak mengenal gender. Di tengah geliat usaha kuliner lokal, laki-laki pun mulai mengambil peran untuk menjaga warisan rasa sekaligus membuka peluang ekonomi yang menjanjikan.
Owner Minimal Kopi Pontianak sekaligus pegiat kuliner lokal asal Sambas, Umar Ramadhan, mengatakan bahwa usaha kue tradisional tidak mengenal batasan gender. Ia melihat peluang ini bukan hanya sebagai strategi bisnis, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian kuliner daerah, yaitu kue lapis Sambas.
“Bagi saya, menjual kue lapis bukan soal gender. Semangat dan konsistensi lebih penting daripada siapa yang memulai usaha ini,” ujarnya dalam Obrolan Berkah Ramadhan Pro 2 RRI Sanggau, Selasa 3 Maret 2026.
Umar menjelaskan, pada awalnya tak sedikit masyarakat yang merasa heran melihat laki-laki terjun langsung menjual kue lapis. Namun seiring waktu, pandangan tersebut perlahan berubah menjadi apresiasi terhadap keberanian dan kesungguhan dalam menjalankan usaha.
“Tidak ada aturan bahwa kue lapis hanya untuk perempuan. Saya ingin menunjukkan bahwa laki-laki pun bisa menekuni usaha ini dengan sepenuh hati,” katanya.
Respons positif pelanggan kata Umar, menjadi bukti bahwa kualitas dan dedikasi jauh lebih penting dibandingkan stereotip yang berkembang di masyarakat. Baginya, keberanian memulai dan konsistensi menjaga cita rasa adalah kunci agar usaha tetap bertahan.
“Semoga contoh ini bisa menginspirasi siapa pun yang ingin membuka usaha kuliner tradisional. Jangan takut mencoba hanya karena alasan gender, karena yang penting adalah dedikasi dan rasa cinta terhadap produk,” ucapnya.
Umar berharap agar semakin banyak generasi muda berani terjun ke usaha kuliner tradisional tanpa rasa ragu. Ia mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap perubahan, sekaligus terus mendukung pelestarian kue lapis sebagai bagian dari identitas budaya yang patut dibanggakan.