Beberapa Realita Peran Suami dalam Rumah Tangga
- 29 Apr 2026 08:49 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Dalam kehidupan rumah tangga, tidak sedikit peran yang harus dijalani dengan tekanan yang kerap kali hadir secara halus dan tidak disadari, terutama bagi laki-laki yang diposisikan sebagai kepala keluarga. Tuntutan sosial untuk senantiasa tampil kuat, tangguh, serta mampu menjadi tulang punggung utama keluarga sering kali berubah menjadi beban tersendiri yang dipikul dalam diam, tanpa selalu terlihat atau terucap secara langsung.
Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Institut Agama Islam Nasional) IAIN Pontianak, Dinda Izzati, menjelaskan bahwa peran suami sebagai pencari nafkah pada dasarnya bukanlah sebuah tekanan, melainkan bagian dari kewajiban fundamental yang melekat dalam institusi pernikahan. Pentingnya pemahaman yang proporsional terhadap peran tersebut, sehingga tidak dipersepsikan sebagai beban yang memberatkan, melainkan sebagai tanggung jawab yang dijalankan dengan kesadaran, kesiapan, dan komitmen dalam membangun keluarga.
"Mencari nafkah itu bukan tekanan, tapi kewajiban dasar seorang suami, kalau tidak siap dengan itu, sebaiknya dipikirkan kembali sebelum menikah," ungkap Dinda dalam Obrolan Pengarusutamaan Gender RRI Sanggau, Senin, 27 April 2026.
Menurutnya, tekanan dalam rumah tangga kerap muncul akibat adanya ekspektasi yang tidak realistis antara pasangan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pasangannya. Pemahaman yang kurang tepat mengenai pembagian peran dalam keluarga sering kali menjadi pemicu awal terjadinya gesekan yang dapat berkembang menjadi konflik.
Ia menyebut bahwa baik suami maupun istri perlu mampu menurunkan ego masing-masing dalam menjalani hubungan rumah tangga. Hal ini menjadi penting agar perbedaan pendapat atau konflik kecil tidak melebar menjadi persoalan besar yang berpotensi mengganggu keharmonisan dan stabilitas hubungan keluarga.
"Ego itu harus diturunkan dalam rumah tangga. Hal kecil tidak perlu dibesar-besarkan karena bisa memicu pertengkaran yang lebih besar," jelasnya.
Ketidakseimbangan dalam pembagian peran di dalam rumah tangga kata Dinda, dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap keharmonisan keluarga secara keseluruhan. Ketika salah satu pihak merasa memikul beban yang terlalu berat tanpa adanya dukungan dan keseimbangan dari pasangan, maka hubungan yang terjalin perlahan dapat menjadi tidak sehat, baik secara emosional maupun dalam dinamika kehidupan sehari-hari.
"Banyak ketimpangan terjadi karena pembagian peran tidak adil, seperti semua urusan rumah dibebankan ke istri. Itu harus diluruskan," katanya.
Oleh sebab itu di sarankan, komunikasi yang terbuka serta kesepakatan bersama menjadi kunci utama dalam membagi peran secara lebih adil dan proporsional dalam rumah tangga. Setiap pasangan, menurutnya, perlu memiliki kesadaran untuk saling memahami kondisi, kemampuan, serta keterbatasan satu sama lain agar tercipta kerja sama yang harmonis dalam menjalani kehidupan berkeluarga.
Dinda mengajak setiap pasangan untuk lebih terbuka dalam memahami serta menjalankan peran masing-masing dalam rumah tangga tanpa saling mendominasi. Keseimbangan, komunikasi yang sehat, serta empati yang tulus merupakan fondasi utama dalam menciptakan keluarga yang harmonis, kuat, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....