Ditengah Gempuran Gadget, Teladan Keluarga Nabi Ibrahim Dinilai Relevan

  • 21 Mei 2026 12:54 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Di tengah meningkatnya konflik rumah tangga serta semakin renggangnya hubungan emosional antara orang tua dan anak di era modern, sosok Nabi Ibrahim dinilai tetap relevan sebagai teladan dalam membangun keluarga yang harmonis, kokoh, dan penuh keberkahan. Nilai tauhid yang kuat, keteladanan dalam sikap dan perilaku, serta pendekatan emosional yang hangat kepada keluarga disebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan rumah tangga di tengah derasnya tantangan kehidupan dan pengaruh zaman digital saat ini.

Penyuluh Agama Islam Kecamatan Parindu, Ageng Setia Perdana, menilai banyak keluarga pada masa sekarang lebih dibangun di atas kepentingan materi, gengsi, dan pencapaian duniawi, namun minim komunikasi hangat serta nilai-nilai spiritual di dalam kehidupan rumah tangga. Kondisi tersebut, perlahan membuat hubungan antaranggota keluarga menjadi rapuh, mudah renggang, dan rentan dipengaruhi berbagai arus negatif dari lingkungan luar maupun derasnya pengaruh media sosial.

“Rumah Nabi Ibrahim itu sederhana tetapi penuh cahaya. Rahasianya karena dibangun dengan iman, kasih sayang dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” ungkap Ageng dalam Obrolan Mutiara Pagi RRI Sanggau, Kamis 21 Mei 2026.

Ia mencontohkan, Nabi Ibrahim memberikan teladan bagaimana seorang orang tua seharusnya membangun komunikasi yang lembut, penuh kasih sayang, serta menghadirkan kedekatan emosional dengan anak-anaknya. Menurutnya, pendekatan yang menyentuh hati dan dibarengi keteladanan nyata jauh lebih efektif dalam membentuk karakter anak dibanding sekadar memberi perintah, nasihat, atau tuntutan tanpa contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika ada perintah menyembelih Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tidak langsung memaksa. Beliau berdiskusi, membangun pendekatan emosional dan menghargai perasaan anaknya,” ujarnya.

Kondisi saat ini menurut Ageng, menunjukkan banyak orang tua yang terlalu disibukkan oleh urusan mencari nafkah dan tuntutan ekonomi, hingga tanpa disadari mulai mengabaikan peran penting sebagai imam sekaligus sahabat bagi anak-anaknya di dalam rumah. Padahal, anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan materi semata, tetapi juga sangat memerlukan perhatian yang tulus, komunikasi yang hangat, nasihat yang membimbing, serta keteladanan nyata dari lingkungan keluarga.

“Anak itu tidak cukup hanya diberi uang jajan dan fasilitas. Mereka juga butuh pelukan, perhatian, komunikasi, dan contoh baik dari orang tua,” katanya.

Secara khusus, Ageng mengajak masyarakat agar kembali memperkuat fondasi rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai agama, disertai dengan tumbuhnya kasih sayang, saling pengertian, serta komunikasi yang harmonis di dalam keluarga. Keluarga di Indonesia diharapkan dapat meneladani keteguhan dan ketulusan keluarga Nabi Ibrahim, sehingga mampu melahirkan generasi yang kokoh dalam iman, berakhlak mulia, serta tangguh secara mental dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....