Valentine Ajarkan Cinta Diri, Memaafkan, Menguatkan Sesama

  • 13 Feb 2026 16:31 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Hari Valentine selama ini identik dengan cokelat, bunga, dan pasangan kekasih. Namun di balik perayaan yang kerap bernuansa romantis itu, tersimpan makna kasih yang jauh lebih luas tentang cinta yang membebaskan, memaafkan, dan menguatkan diri sendiri maupun sesama.

Hal itu disampaikan Sr. Herdiana Randut, SSpS, dalam refleksinya tentang makna Valentine. Ia menjelaskan, perayaan tersebut berakar dari kisah Santo Valentinus, seorang imam Katolik pada abad ketiga di Roma yang memperjuangkan hak kaum muda untuk menikah.

Saat itu, laki-laki lajang dilarang menikah karena diwajibkan menjadi tentara. Valentinus menolak aturan tersebut dan diam-diam menikahkan pasangan muda.

Akibat tindakannya, ia ditangkap dan dihukum mati. Dari sanalah nama Valentine kemudian dikenal sebagai simbol cinta dan pengorbanan.

“Valentine itu sebenarnya bukan sekadar romantis. Akarnya adalah kasih yang tulus dan berani memperjuangkan cinta,” ujar Sr. Herdiana kepada RRI, Jumat, 13 Februari 2026.

Menurutnya, makna Valentine kini telah berkembang. Jika dulu hanya dirayakan pasangan kekasih, kini seharusnya menjadi momen bagi semua orang untuk mengekspresikan kasih sayang, kepada orang tua, saudara, sahabat, dan lingkungan sekitar.

Ia menilai, semua agama pada dasarnya mengajarkan cinta kasih. Karena itu, Valentine dapat dimaknai sebagai waktu refleksi untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, termasuk memaafkan luka atau konflik yang belum selesai.

“Kasih sayang itu membebaskan. Ketika kita mengampuni dan memaafkan, kita merdeka dari luka batin dan trauma,” katanya.

Sr. Herdiana juga menyoroti tekanan sosial yang kerap dialami anak muda, terutama terkait tuntutan menikah pada usia tertentu. Tekanan dari lingkungan maupun keluarga sering kali memicu rasa tertekan dan tidak percaya diri.

Padahal, kebahagiaan sejatinya tidak ditentukan oleh pasangan atau orang lain di sekitar kita. Sumber kebahagiaan yang paling kuat justru tumbuh dari dalam diri, dari cara kita menerima, memahami, dan menghargai diri sendiri.

“Yang paling tahu diri kita adalah diri kita sendiri. Kalau kita mampu mengelola emosi dan menerima proses hidup, kita tetap bisa bahagia tanpa tekanan orang lain,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat memaknai Valentine dalam tiga hal. Pertama, mengekspresikan cinta secara sederhana, seperti mengucapkan terima kasih atau “aku sayang kamu” kepada orang tua dan keluarga.

Kedua, memperbarui relasi sosial dengan lebih terbuka, ramah, dan peduli terhadap tetangga maupun sesama. Ketiga, melakukan refleksi diri untuk menumbuhkan kasih, tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain.

“Kalau kita hanya mencintai diri sendiri tanpa peduli sesama, itu egois. Cinta harus dibagikan,” ucapnya.

Khusus bagi perempuan, ibu tunggal, atau mereka yang sedang berjuang sendirian, Sr. Herdiana berpesan agar tidak menyerah pada tantangan hidup. Ia mengibaratkan persoalan hidup seperti musim yang datang dan pergi.

“Jangan lari dari tantangan. Justru di situlah kita ditempa menjadi kuat,” katanya.

Ia juga menyarankan agar rasa sepi maupun tekanan batin tidak dipendam sendirian, tetapi disalurkan ke kegiatan-kegiatan positif. Misalnya dengan berbagi cerita, membantu orang lain, menekuni hobi, atau bergabung dalam komunitas sosial yang memberi dukungan.

“Kesepian itu manusiawi. Yang penting bagaimana kita menyalurkannya ke energi yang baik,” katanya.

Rekomendasi Berita