Di Pinggir Jalan Ende, Suradi Menjahit Harapan
- 05 Mar 2026 21:05 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Di sudut jalan Kota Ende, Suradi duduk di bangku kecil dengan jarum dan benang di tangannya. Di tengah terik matahari dan suasana Ramadan, pria yang akrab disapa Mas Eko itu tetap menjahit sepatu dan sandal pelanggan. Dari tempat sederhana itu, ia menenun harapan untuk keluarganya yang jauh di kampung halaman.
Suradi telah menekuni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu sejak tahun 1995. Selama puluhan tahun, ia berpindah dari satu daerah ke daerah lain sebelum akhirnya menetap dan mencari nafkah di Kota Ende.
“Nama saya Suradi, biasa dipanggil Mas Eko. Saya bekerja sebagai tukang sol sepatu sudah cukup lumayan lama dari tahun 1995,” ujarnya saat diwawancarai RRI, Kamis, 5 Maret 2026.
Pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah ini memilih pekerjaan tersebut karena keterbatasan modal untuk membuka usaha lain. Baginya, menjual jasa memperbaiki sepatu adalah cara paling mungkin untuk tetap memperoleh penghasilan.
“Kalau kita orang tidak mampu, mau modal juga tidak ada, jadi alternatifnya ya jual jasa sebagai tukang sol sepatu ini,” katanya.
Selama bulan Ramadan, Suradi sedikit menyesuaikan waktu kerjanya. Ia biasanya beristirahat sejenak pada siang hari sebelum kembali melanjutkan pekerjaan setelah salat Dzuhur.
Bekerja sambil berpuasa bukan hal mudah baginya, terutama ketika harus menjahit sepatu atau sandal dengan bahan yang keras. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena masih mampu menjalani puasa dan bekerja seperti biasa.
“Kalau sudah siang itu jahitnya lemas, apalagi kalau sepatu atau sandal bahannya keras. Tapi alhamdulillah puasa tetap lancar,” ujarnya.
Saat ini Suradi tinggal sendiri di Ende. Sementara itu, istri dan tiga anaknya berada di kampung halaman di Sukoharjo sejak masa pandemi Covid-19. Sebagian besar penghasilan yang ia peroleh dari menjahit sepatu dikirimkan untuk kebutuhan keluarga.
“Dari penghasilan sebagai tukang sol sepatu sebagian besar buat keluarga. Saya di sini makan seadanya tidak apa-apa, yang penting keluarga tetap saya utamakan,” kata Suradi.
Bagi Suradi, keluarga adalah alasan utama ia terus bertahan menjalani pekerjaannya hingga kini. Di bawah terik matahari dan di tengah kesederhanaan hidup, ia tetap percaya setiap jahitan sepatu yang dikerjakannya membawa harapan untuk masa depan keluarganya.