Martina Bertahan di Rumah Bocor, Menjaga Masa Depan Cucu
- 04 Mar 2026 22:18 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Hujan selalu menjadi penanda kecemasan bagi Martina Iman (56), seorang ibu rumah tangga yang menjalani hari-harinya dengan ketegaran di tengah keterbatasan hidup. Setiap kali hujan turun, air dari atap seng rumahnya yang usang hampir pasti merembes masuk ke dalam rumah kecilnya di Kampung Wae Solong, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
Rumah berukuran sekitar 7 x 8 meter itu berdinding papan yang mulai lapuk dengan bagian bawah setengah tembok dari batu bata yang retak dimakan usia. Atap sengnya berlubang dan kerap bocor, sementara lantainya masih berupa tanah. Di bagian belakang, dapur kecil berdinding bambu yang mulai dimakan rayap berdiri berdampingan dengan fasilitas WC yang sangat sederhana.
“Kalau hujan, kami sering basah. Sengnya banyak yang bocor,” ujar Martina lirih sambil menatap ke arah atap rumahnya.
Kesulitan hidup Martina semakin berat sejak suaminya, Herman Ngaa (58), terserang stroke tiga tahun lalu. Pria yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga kini hanya bisa terbaring dan sesekali duduk di tempat tidurnya dengan kondisi sebagian tubuh dan kedua kakinya tak lagi dapat digerakkan.
Sejak saat itu Martina harus mengambil alih peran sebagai pencari nafkah sekaligus perawat bagi suaminya dan pengasuh tiga cucunya.
Sebagai petani dan buruh tani, Martina mengandalkan tenaga seadanya untuk bekerja di kebun orang dengan upah harian sekitar Rp50.000. Penghasilan tersebut menjadi satu-satunya tumpuan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Martina mengaku pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai kesejahteraan sosial. Namun dalam beberapa waktu terakhir bantuan tersebut tidak lagi diterimanya.
Keterbatasan ekonomi juga membuat pengobatan suaminya terhenti. Ia hanya sekali membawa Herman berobat ke puskesmas karena biaya untuk berobat ke rumah sakit tidak mampu dijangkau.
“Saya ingin suami sembuh, ingin bawa ke rumah sakit. Tapi saya tidak punya biaya,” tuturnya pelan sambil mengusap air mata.
Di tengah himpitan hidup, Martina tetap menyimpan satu keyakinan bahwa pendidikan cucu-cucunya tidak boleh terputus.
Serin (13) kini duduk di bangku SMP, sementara Fio (10) dan Felisa (9) masih bersekolah di tingkat SD. Meski sering kesulitan membeli perlengkapan sekolah, Martina terus berusaha agar mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Pendidikan itu yang paling penting. Supaya suatu hari mereka bisa punya hidup yang lebih baik,” katanya.
Namun hingga kini keluarga Martina belum tersentuh bantuan rumah layak huni maupun program pemberdayaan ekonomi. Di balik data pembangunan, masih ada keluarga seperti Martina yang bertahan dalam keterbatasan.
Ia hanya berharap suatu hari ada perhatian dari pemerintah daerah, lembaga sosial, maupun para dermawan agar suaminya bisa mendapatkan perawatan yang layak, rumahnya tidak lagi bocor saat hujan, dan cucu-cucunya dapat terus mengejar masa depan melalui pendidikan.
Di bawah atap bocor itu, Martina tetap berdiri. Bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia tidak memiliki pilihan selain terus bertahan.