Komentar Nonaktif Jadi Ciri Konten Informasi Menyesatkan

  • 13 Mar 2026 13:10 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap konten media sosial yang sengaja menonaktifkan kolom komentar karena berpotensi mengandung informasi yang tidak akurat. Penutupan jalur interaksi ini dianggap sebagai upaya mempersempit ruang bagi publik untuk menyaring informasi melalui sudut pandang pembanding lainnya.

Hal tersebut ditegaskan dalam Obrolan SPADA bersama Petrick Yohanis Meok (Duta Rupiah Flobamorata 2024) RRI Pro2 Ende, Senin, 2 Maret 2026, bertopik: "Yuk, Kenalan dengan Rupiah". Petrick menjelaskan bahwa tanpa adanya kolom diskusi, penyerapan informasi menjadi timpang karena masyarakat dipaksa menerima narasi tunggal secara sepihak.

Kondisi tersebut membuat jalur pertimbangan publik menjadi sangat terbatas dan rentan terjebak dalam persepsi yang keliru akibat video manipulatif. Sebagai lulusan Pendidikan Kewarganegaraan, Petrick menekankan bahwa transparansi dalam ruang digital merupakan bagian penting dari proses edukasi masyarakat yang sehat.

Pengalaman terjun langsung ke sekolah-sekolah saat menjalani masa magang sebagai calon pendidik memberikan gambaran nyata tentang urgensi literasi digital bagi siswa. Petrick mengaku sering memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membekali generasi muda dengan kemampuan membedakan konten yang kredibel dan yang menyesatkan.

Meski kurikulum pendidikan formal telah mencakup etika bermedia sosial, pendekatan secara personal melalui interaksi langsung dinilai jauh lebih efektif. Hal ini bertujuan agar para pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketajaman insting dalam mengonsumsi informasi daring.

Kesadaran akan pentingnya literasi digital ini terus digaungkan oleh para calon guru sebagai garda terdepan dalam membentuk karakter warga negara. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan informasi yang diterima masyarakat bukan sekadar potongan konten tanpa kejelasan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah mengedukasi rekan sejawat hingga lingkungan sekolah menjadi prioritas Petrick untuk menciptakan komunitas digital yang lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi. Melalui pemahaman yang kuat, diharapkan masyarakat mampu mengenali ciri-ciri berita hoaks melalui detail teknis seperti pembatasan interaksi di media sosial.

Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan praktisi komunikasi digital diharapkan dapat terus menekan angka penyebaran informasi palsu di wilayah Nusa Tenggara Timur. Mari bersama-sama menjadi pengguna internet yang cerdas dengan tidak membiarkan diri terjebak dalam narasi tertutup yang merugikan kepentingan publik.

Rekomendasi Berita