Kawasan Prasejarah Bellae Berpotensi Menjadi Destinasi Wisata Edukasi Unggulan
- 14 Jul 2026 06:12 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kawasan Prasejarah Bellae di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi dan wisata minat khusus. Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, kawasan ini juga menawarkan bentang alam karst yang masih alami serta peninggalan kehidupan manusia prasejarah yang hingga kini terus diteliti oleh para arkeolog. Hal tersebut dikatakan Rafika Hayati, S.ST.Par., M.Par - Dosen Prodi Pariwisata FIB Unhas dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Minggu, 12 Juli 2026.
Rafika menjelaskan bahwa dirinya baru memulai penelitian di Kawasan Prasejarah Bellae Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Namun, berdasarkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Kebudayaan bersama para peneliti arkeologi, kawasan tersebut diketahui memiliki sedikitnya 27 situs gua prasejarah.
Menurutnya, jumlah tersebut kemungkinan masih akan bertambah karena diduga masih terdapat sejumlah gua maupun tinggalan arkeologi yang belum dapat dijangkau akibat medan yang sulit diakses atau berada di lokasi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, penelitian di kawasan tersebut masih terus berlangsung.
"Sebagian besar gua yang telah ditemukan lokasinya saling berdekatan. Kawasan karst ini juga dikelilingi oleh aktivitas masyarakat, seperti area persawahan dan pohon lontar yang dimanfaatkan untuk menghasilkan nira. Lanskapnya sangat indah sehingga memiliki daya tarik yang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata," ujarnya.
Ia menambahkan, Kawasan Prasejarah Bellae Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan menyimpan beragam peninggalan bersejarah, mulai dari lukisan dinding gua hingga berbagai artefak kehidupan manusia prasejarah. Tidak hanya itu, para peneliti juga menemukan sisa makanan, alat berburu, serta berbagai peralatan rumah tangga yang menjadi bukti kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Menariknya, sejumlah tradisi masyarakat setempat hingga kini masih memperlihatkan jejak budaya yang diwariskan sejak masa prasejarah. Salah satunya adalah kebiasaan membuat cap telapak tangan pada rumah yang baru dibangun menggunakan kapur atau cat, yang dinilai memiliki kemiripan dengan tradisi lukisan tangan yang ditemukan di dinding-dinding gua.
Saat melakukan penelitian lapangan bersama tim Program Studi Pariwisata Unhas dan Departemen Arkeologi Unhas, mereka mengunjungi beberapa gua yang berada di tengah kawasan persawahan masyarakat. Akses menuju lokasi cukup sempit dan menantang sehingga memerlukan perjalanan kaki melewati jalur alami.
Di salah satu gua tersebut, tim menemukan lukisan telapak tangan yang masih terlihat jelas pada bagian atas dinding gua. Selain itu, di sekitar mulut gua juga ditemukan tumpukan cangkang keong yang diduga merupakan sisa makanan manusia prasejarah, beserta sejumlah artefak lainnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia prasejarah telah memiliki pola permukiman yang cukup tertata. Mereka diduga telah membedakan area tempat tinggal, area memasak, hingga lokasi pembuangan sisa makanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah telah memiliki sistem kehidupan yang terorganisasi dengan baik.
Menurutnya, anggapan bahwa manusia prasejarah hidup tanpa keteraturan tidak sepenuhnya benar. Berbagai bukti arkeologis justru memperlihatkan bahwa banyak pola kehidupan yang diterapkan masyarakat saat ini telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, pungkas Rafika.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....