Perjalanan Reog Ponorogo hingga Diakui UNESCO
- 25 Jun 2026 15:33 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan- Rakyat indonesia mendapat kabar membanggakan lewat kekayaan budayanya. Pada Desember 2024 perhatian dunia tertuju pada Reog Ponorogo, seni pertunjukan tradisional asal Jawa Timur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.
Reog Ponorogo resmi diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Kabar ini tentu disambut hangat oleh masyarakat Indonesia karena menjadi bukti bahwa budaya lokal yang tumbuh dan berkembang di daerah mampu mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Bagi masyarakat Ponorogo, Reog bukan sekadar pertunjukan yang ditampilkan saat festival atau perayaan tertentu. Lebih dari itu, Reog adalah identitas daerah, kebanggaan masyarakat, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Di balik kemegahan kostum dan iringan musiknya, tersimpan cerita panjang, nilai kehidupan, serta filosofi yang tetap relevan hingga kini.
Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata tersaji fakta-fakta dari Reog Ponorogo, Warisan Budaya yang Tumbuh Bersama Masyarakat
Reog Ponorogo sudah berkembang bersama masyarakat sejak zaman dahulu kala. Kesenian ini memadukan unsur tari, musik gamelan, kostum khas, hingga cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Perpaduan tersebut menjadikan Reog bukan hanya tontonan yang memikat, tetapi juga sebuah karya budaya yang sarat makna.
Daya tarik utama Reog terletak pada Dadak Merak atau Singo Barong, topeng besar berbentuk kepala singa yang dihiasi bulu merak. Ukurannya yang megah serta cara membawanya dengan kekuatan rahang penari selalu berhasil memukau penonton. Tak heran jika Dadak Merak menjadi ikon paling melekat ketika masyarakat mendengar nama Reog Ponorogo.
Selain Singo Barong, hadir pula tokoh Warok simbol kebijaksanaan, keberanian, dan keteguhan hati. Ada juga Jathil yang menggambarkan semangat muda, ketangkasan, dan energi generasi penerus. Kehadiran berbagai tokoh ini menjadikan Reog bukan sekedar pertunjukan seni, melainkan juga untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.
Di balik setiap gerakan dan alur ceritanya, Reog mengajarkan arti kebersamaan, gotong royong, kerja keras, serta keberanian dalam menghadapi tantangan. Nilai-nilai inilah yang membuat Reog tetap relevan dan dicintai, meskipun zaman terus berubah.
Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan UNESCO
Pengakuan UNESCO tentu bukanlah hal yang didapat dalam sekejap. Perjalanan Reog Ponorogo menuju panggung dunia merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan banyak pihak: pemerintah daerah, komunitas seni, akademisi, hingga masyarakat yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Berbagai upaya dilakukan untuk mendokumentasikan sejarah, filosofi, bentuk pertunjukan, hingga peran Reog dalam kehidupan masyarakat. Semua dokumentasi itu kemudian disusun menjadi sebuah dossier lengkap sebagai syarat pengajuan kepada UNESCO.
Proses ini membutuhkan waktu, penelitian, serta komitmen yang tidak sedikit. Namun semua usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 3 Desember 2024, dalam Sidang ke-19 Komite Antar Pemerintah UNESCO di Asunción, Paraguay, Reog Ponorogo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding.
| Baca juga: Melihat Keindahan Alam Yogyakarta |
Kategori tersebut menunjukkan bahwa Reog merupakan tradisi budaya yang perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan khusus agar tetap lestari di tengah perubahan zaman. Pengakuan ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi dunia terhadap kekayaan budaya Indonesia yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Membawa Dampak Positif bagi Budaya dan Pariwisata
Masuknya Reog Ponorogo ke dalam daftar UNESCO membawa dampak positif yang besar. Dari sisi budaya, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengenal lebih jauh sejarah serta nilai-nilai yang terkandung dalam Reog. Kesadaran akan pentingnya menjaga budaya lokal pun semakin meningkat.
Bagi para pelaku seni dan komunitas budaya, pengakuan ini menjadi motivasi untuk terus melestarikan sekaligus mengembangkan Reog agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. Sanggar-sanggar seni di Ponorogo kini semakin aktif melakukan pembinaan dan regenerasi seniman muda, memastikan tradisi ini terus hidup.
Dari sisi pariwisata, pengakuan UNESCO memperkuat posisi Ponorogo sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya ingin menyaksikan pertunjukan Reog, tetapi juga tertarik mengenal sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang melestarikannya.
Salah satu program budaya yang berperan besar dalam mengenalkan Reog Ponorogo adalah Festival Nasional Reog Ponorogo. Festival ini rutin diselenggarakan setiap tahun dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Menariknya, Festival Nasional Reog Ponorogo kembali masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari total 125 event terpilih di seluruh Indonesia. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Reog tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga mampu menjadi penggerak sektor pariwisata daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....