Jejak Abadi Jalur Sutra: Pesona Magis Bukhara dan Khiva di Uzbekistan

  • 28 Apr 2026 17:16 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Uzbekistan terus memperkokoh posisinya sebagai destinasi wisata sejarah utama di Asia Tengah, dengan Bukhara dan Khiva sebagai permata mahkotanya. Kedua kota ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan museum hidup yang menyimpan ribuan tahun sejarah peradaban Islam dan kejayaan Jalur Sutra.

Wisatawan dari berbagai belahan dunia kini semakin membanjiri situs-situs warisan dunia UNESCO ini untuk merasakan atmosfer abad pertengahan yang masih terjaga autentik. Di Bukhara, waktu seolah berhenti berputar.

Kota yang berusia lebih dari 2.000 tahun ini pernah menjadi pusat pembelajaran sains dan teologi Islam yang paling berpengaruh di dunia. Berjalan melewati kompleks Po-i-Kalyan, pengunjung akan disambut oleh Menara Kalyan yang megah, sebuah struktur yang begitu memukau hingga konon membuat Jengkhis Khan terpana dan membiarkannya tetap berdiri saat kota-kota lain dihancurkan.

Selain arsitekturnya, Bukhara dikenal dengan denyut nadi perdagangannya yang tak pernah padam di bawah kubah-kubah pasar tradisional atau Toqi. Di sini, pengrajin lokal masih mempraktikkan seni kuno, mulai dari pembuatan pisau tradisional, tenun sutra atlas, hingga sulaman emas yang rumit.

Beralih ke arah barat menuju gurun Kyzylkum, berdirilah Khiva, sebuah kota benteng yang tampak seperti set film fantasi. Pusat sejarahnya, Itchan Kala, dikelilingi oleh tembok bata lumpur raksasa yang masih kokoh berdiri.

Khiva sering disebut sebagai "museum di bawah langit terbuka". Karena, kepadatan monumen bersejarahnya yang sangat tinggi dalam satu kawasan yang relatif kecil dan tertata rapi.

Salah satu ikon yang paling mencolok di Khiva adalah Kalta Minor, sebuah menara pendek berwarna biru toska yang tertutup keramik mengkilap. Meskipun pembangunannya tidak pernah selesai, menara ini tetap menjadi simbol ambisi arsitektural masa lalu.

Keajaiban Bukhara dan Khiva tidak hanya terletak pada batu dan bata, tetapi juga pada upaya konservasi yang dilakukan pemerintah Uzbekistan. Modernisasi infrastruktur, seperti kereta cepat Afrosiyob, kini memudahkan akses menuju kota-kota terpencil ini tanpa menghilangkan esensi sejarahnya.

Sebagai penutup, perjalanan menuju Bukhara dan Khiva adalah sebuah ziarah budaya yang mendalam. Pengunjung tidak hanya pulang membawa foto-foto indah, tetapi juga pemahaman baru tentang bagaimana ilmu pengetahuan, perdagangan, dan seni pernah bersatu di jantung Asia Tengah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....