Merajut Misteri, dan Seni di Museum Ullen Sentalu
- 20 Jun 2026 11:21 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Udara dingin Kaliurang berpadu dengan aroma tanah basah menyambut para pengunjung di gerbang Museum Ullen Sentalu. Tersembunyi di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, museum swasta ini kerap dinobatkan sebagai salah satu museum terbaik di Indonesia. Ullen Sentalu bukan sekadar ruang pameran; ia adalah kapsul waktu yang menyimpan rahasia, cinta, dan marwah dinasti Mataram Islam.
Ullen Sentalu sendiri merupakan sebuah singkatan dari falsafah Jawa kuno, "ulating blencong sejatine tataraning lumaku," yang berarti nyala lampu minyak (blencong) merupakan penuntun arah dalam melangkah dan berjalan. Falsafah ini cermin kuat dari bagaimana museum ini menuntun para tamunya menyusuri sejarah yang tidak sekadar dibaca, tetapi dirasakan.
Jurnalisme Tanpa Lensa: Aturan yang Menghidupkan Pancaindra
Di era digital ketika setiap sudut estetik harus didokumentasikan, Ullen Sentalu mengambil langkah radikal, "pengunjung dilarang keras mengambil foto atau video" di hampir seluruh area pameran dalam ruangan. Aturan ini bukan tanpa alasan, karena dengan tanpa distorasi layar gawai, pengunjung dipaksa untuk mendengar gesekan angin di antara dedaunan hutan lereng Merapi.
Lalu, melihat detail guratan kuas pada lukisan kuno dan lipatan kain batik berusia seabad, juga sambil meresapi narasi puitis yang disampaikan oleh seorang edukator (pemandu tur) yang menemani di sepanjang jalan.Di sini, setiap rombongan dipandu secara personal.
Alur sejarah tidak disajikan secara acak, melainkan dirajut dalam satu garis cerita yang runut, membuat tokoh-tokoh sejarah abad ke-19 seolah hidup kembali dan bercerita langsung di hadapan Anda.
Labirin Arsitektur Gotik-Jawa yang Magis
Secara visual, arsitektur Ullen Sentalu menabrak pakem museum tradisional. Bangunannya dirancang oleh arsitek religius yang memadukan struktur kolonial gotik Eropa yang megah dengan filosofi tata ruang arsitektur Jawa tradisional.
Dinding-dindingnya dibangun menggunakan bongkahan batu alam vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi. Pengunjung akan dibawa menyusuri koridor terbuka, jembatan di atas air, hingga labirin bawah tanah yang remang namun menenangkan. Vegetasi pakis, lumut, dan pohon-pohon tropis yang dibiarkan tumbuh liar di sela-sela bangunan kian mempertegas atmosfer mistis nan romantis.
Menjelajahi Ruang Ritus dan Cinta
Museum ini membagi petualangan batin pengunjung ke dalam beberapa zona utama yang memiliki narasi spesifik, diantaranya ruang bernama Goa Sela Vijaya, sebuah ruang bawah tanah yang memamerkan silsilah dan potret resmi para raja, permaisuri, dan pangeran dari empat pecahan Dinasti Mataram.
Kemudian, ada ruang Kampung Kambang, dengan struktur bangunan kayu unik di atas kolam air yang menyimpan mahakarya kain batik pesisiran dan pedalaman (Batik Keraton), dan ruang Putri Dambaan berisi dokumentasi foto pribadi Gusti Nurul, sosok putri keraton modern yang melegenda.

Romantisme di "Ruang Putri Dambaan"
Salah satu daya tarik emosional terbesar di museum ini adalah kisah Gusti Nurul (Gusti Raden Ayu Siti Noeroel Baranireshati Kusumawardhani) dari Mangkunegaran. Ia adalah representasi perempuan Jawa modern pada zamannya—seorang penunggang kuda yang andal, jago memanah, dan pandai menari hingga ke Belanda.
Di ruang ini, tersimpan surat-surat cinta dan puisi dari para tokoh bangsa yang terpikat oleh kecantikannya, termasuk Presiden Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, hingga Sutan Sjahrir. Kisah penolakan Gusti Nurul terhadap poligami menjadi narasi emosional yang sangat menginspirasi di dalam ruangan ini.
Relief Miring: Sebuah Kritik Budaya yang Getir
Sebelum tur berakhir, pengunjung akan dibawa ke area luar ruangan untuk melihat sebuah instalasi unik berupa replika relief Candi Borobudur yang diletakkan sengaja dalam posisi miring/hampir roboh, sebagai bentuk metafora visual yang getir, sebuah peringatan bahwa jika generasi muda terus abai terhadap kebudayaan asli Nusantara, maka fondasi peradaban bangsa ini lambat laun akan miring dan runtuh ditelan zaman.
Ritual Penutup: Meneguk Jamu Awet Muda
Petualangan melintasi lorong waktu ini ditutup dengan ritual yang manis di area Sasana Sekar Buwana. Setiap pengunjung akan disuguhi secangkir kecil Jamu Raras Pariwi. Jamu tradisional ini diracik dari resep rahasia para permaisuri keraton yang mengandung rempah-rempah alami penghangat tubuh. Konon, ramuan ini berkhasiat menjaga kesehatan sekaligus memberikan aura awet muda bagi siapa saja yang meminumnya dengan hati yang bersih.
Menembus Ullen Sentalu bukan sekadar urusan berwisata. Ia adalah perjalanan pulang untuk mengenali kembali filosofi adiluhung Jawa yang mulai luntur, dibungkus dengan keanggunan seni yang magis di bawah kaki Gunung Merapi. (NAS/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....