Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bin Habib Husein Al-Qadri
- 20 Jul 2026 10:28 WIB
- Pontianak
Pendiri Negeri di Pertemuan Tiga SungaiDisusun oleh:Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman NurBerdasarkan data jurnal penelitian sejarah, arsip Kesultanan Kadriyah, dan dokumen resmiDi ufuk Hadramaut bersemi cahaya,dari Trim Ar-Ridha mengalir ke Nusantara.Al-Habib Husein datang membawa agama,tiga belas tujuh puluh tiga, menginjak bumi Matan raya.Diangkat jadi Mufti, penasihat raja,menikah putri Mahkota Matan yang mulia.Nyai Tua Utin Kabanat namanya tercatat,dari rahimnya lahir pewaris yang berkah.Lima belas Rabiulawal, seribu seratus lima puluh satu,tahun seribu tujuh ratus tiga puluh sembilan Masehi nyata.Di tanah Matan lahir seorang putra,Syarif Abdurrahman, darah Nabi mengalir padanya.Silsilah mulia sampai Rasulullah SAW,lewat Ja'far Shadiq, Alawi yang terjaga.Ayah ulama, ibu bangsawan Tanjungpura,perpaduan ilmu dan martabat yang sempurna.Dewasa beliau menikahi Utin Cendramidi,putri Opu Daeng Manambung, Raja Mempawah yang diakui.Dua kerajaan bersatu dalam ikatan suci,pondasi awal peradaban yang abadi.Tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu tiba,ayah tercinta pulang ke haribaan Ilahi di Mempawah.Tiga bulan berlalu, beliau bermufakat bersama saudara,mencari tanah baru, menyongsong takdir yang sudah ditetapkan.Empat belas perahu kakap berlayar beriring,pengikut Bugis dan setia ikut serta dalam perjalanan.Menyusuri Sungai Peniti menuju Kapuas yang tenang,membelah riak, membawa harapan dan iman.Singgah sejenak di Kelapa Tinggi Segedong,beliau merasa tempat itu belum menjadi tujuan.Lanjut berlayar, menemukan pulau di tengah arus,Batu Layang namanya — kelak tempat beliau bersemayam abadi.Di sana terdengar suara menakutkan malam hari,rombongan diganggu makhluk yang konon bergentayang.Beliau perintahkan tembakan meriam berkumandang,mengusir gangguan, menancapkan tonggak ketabahan.Dari peristiwa itulah nama kota tercipta,Pontianak — tercatat dalam legenda dan jurnal cerita.Tak gentar, beliau terus mengarungi air,menuju titik di mana tiga sungai bersatu padu.Rabu pagi, menjelang fajar menyingsing terang,dua puluh tiga Oktober, tujuh belas tujuh puluh satu tercatat.Empat belas Rajab, seribu seratus delapan puluh lima Hijriah,tiba di muara Kapuas Besar, Kapuas Kecil, dan Landak.Di sanalah tongkat pertama ditancapkan ke bumi,delapan hari menebas hutan belantara yang sunyi.Mendirikan balai, rumah, dan tempat tinggal,menanam benih peradaban yang takkan pernah pudar.Bukan sekadar membuka lahan dan rimba,melainkan membangun negara yang berlandas syariat.Masjid Jami' didirikan sebagai cahaya iman,Istana Kadriyah menjulang menjadi lambang pemerintahan.Lalu tahun tujuh belas tujuh puluh delapan tiba,delapan Syaban seribu seratus sembilan puluh dua Hijriah.Dihadiri Raja Muda Riau, raja Mempawah, Landak, Kubu, dan Matan,beliau dinobatkan menjadi Sultan Pertama Pontianak.Gelar penuh terukir dalam prasasti sejarah:Sultan Syarif Abdurrahman Ibnu Al-Habib Alkadrie.Tahun berikutnya, tujuh belas tujuh puluh sembilan,perjanjian dengan VOC terjalin demi keamanan wilayah.Tiga puluh tujuh tahun beliau memimpin dengan adil,dari seribu tujuh ratus tujuh puluh satu sampai seribu delapan ratus delapan.Masjid dijadikan pusat dakwah dan pendidikan,ulama Machmud Sarwani menulis kitab Taffahtunnafsi tuntunan.Jalur niaga dibuka lebar ke seantero Nusantara,perahu dagang datang dari Riau, Banjar, Jawa, dan Semenanjung.Melayu, Arab, Bugis, Dayak, Tionghoa hidup berdampingan,dirajut persaudaraan di bawah naungan Sultan yang bijaksana.Hingga Senin pagi, dua puluh delapan Februari,seribu delapan ratus delapan tahun Masehari.Satu Muharram seribu dua ratus dua puluh tiga Hijriah,beliau berpulang, menutup kisah perjuangan yang nyata.Di Batu Layang, tepi Kapuas yang mengalir tenang,jasad mulia bersemayam dalam makam yang terjaga.Garis lurus tercipta dari timur ke barat sejajar:Istana — Masjid — Makam, tiga saksi abadi sejarah.Di sana pula kelak bersandar keturunannya,Sultan Hamid II yang merancang Garuda Pancasila bangsa.Jasa-jasa beliau takkan terhapus oleh zaman,tercatat dalam jurnal, arsip, dan ingatan masyarakat.Wahai Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang mulia,bukan sekadar pendiri kota di tepi sungai Kalimantan.Engkau penulis awal babad peradaban Nusantara,cahaya yang terang hingga ke ujung masa.Pantun Penutup PersembahanTiga sungai bertemu airnya jernih berkilau,Perahu berlayar membawa muatan berkat.Jasa Sultan tercatat dalam jurnal nyata,Abadi namanya di hati sepanjang masa.Di Batu Layang pohon rindang tumbuh subur,Angin berhembus membawa salam hormat.Semoga syair ini menjadi tanda syukur,Dari kami yang daif kepada Yang Mulia yang amat sangat dihormati.DAFTAR SUMBER JURNAL & REFERENSI AKADEMIK(Setiap data dalam syair diambil dari sumber terverifikasi berikut)1. Efendi, Zakaria (2021). Sejarah Dakwah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri: Islamisasi di Pontianak. Jurnal LKA IAIN Pontianak, Vol.19 No.2.Data: asal usul Habib Husein dari Hadramaut, nama ibu Nyai Tua putri Matan, peran istri Utin Cendramidi, pendirian 23 Oktober 1771, fungsi masjid sebagai pusat pendidikan.2. Jurnal Raheema IAIN Pontianak (2026). Utin Cendramidi dalam Pendirian Kerajaan Pontianak Melalui Politik Keluarga.Data: pernikahan dengan putri Raja Mempawah Opu Daeng Manambung, dukungan Panembahan Adi Jaya, penobatan Sultan dihadiri raja-raja sekitar.3. Alfan Firmanto. Jejak Sejarah Kesultanan Pontianak: Kajian Prasasti Makam Batu Layang.Data: tanggal wafat 28 Februari 1808 M / 1 Muharram 1223 H, kompleks pemakaman, keselarasan tanggal dengan nisan asli.4. Jurnal Tarikhuna Ma'had Aly Jakarta. Kebijakan Ekonomi Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (1771–1808).Data: pembangunan jalur perdagangan internasional, masa pemerintahan 37 tahun, kemakmuran pelabuhan Pontianak.5. Jurnal Innovative Social Science (2021). Perkembangan Pendidikan Islam Masa Sultan Syarif Abdurrahman.Data: peran Mufti Syeikh Machmud Sarwani, kitab Taffahtunnafsi, sistem pendidikan berbasis masjid.6. ResearchGate: PGRI Pontianak (2021). Penggunaan Biografi Sultan Syarif Abdurrahman Sebagai Sumber Pembelajaran.Data: 14 perahu Kakap, rute Sungai Peniti → Kapuas, singgah di Segedong, legenda pengusiran hantu asal nama Pontianak.7. Zenodo (2023). Hagiografi Sultan Syarif Abdurrahman: Pendekatan Folklor.Data: tradisi lisan masyarakat, tembakan meriam, asal-usul nama kota yang tercatat secara akademik.8. Dokumen Resmi Pemerintah Kota Pontianak & RRI Pontianak (2023). Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.Data: pendirian di pertemuan TIGA SUNGAI (Kapuas Besar, Kapuas Kecil, Landak), penobatan Sultan tahun 1778 M / 1192 H, lokasi Istana Kadriyah dan Masjid Jami' di Dalam Bugis.

Baca juga: Sultan Hamid II sebagai Perancang Garuda Pancasila Berdasarkan Kajian Turiman
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....