Tak Perlu Iri, Saatnya Introspeksi Diri
- 24 Feb 2026 10:19 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Puasa selalu menghadirkan ruang hening untuk bercermin. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata ulang isi hati. Di tengah suasana Ramadan, ada satu sikap yang kerap luput kita sadari namun diam-diam menggerogoti ketenangan batin: rasa iri.
Kita sering menyaksikan orang lain tampak berhasil, mapan, atau hidupnya terlihat lebih tertata. Dalam hati muncul pertanyaan lirih, “Mengapa bukan saya?” Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan apa yang mereka lalui. Kita tidak tahu doa apa yang mereka panjatkan setiap malam, usaha apa yang mereka tempuh dalam diam, atau kesulitan apa yang telah mereka taklukkan sebelum sampai pada titik itu. Kita hanya melihat hasil akhirnya, bukan proses panjang yang tersembunyi.
Hakikat puasa bukan semata latihan fisik, melainkan pendidikan spiritual. Ia melatih kita mengendalikan diri, termasuk menahan gejolak iri yang dapat merusak nilai ibadah. Dalam ajaran Islam, dengki bukan sekadar perasaan biasa, melainkan penyakit hati yang bisa menghapus kebaikan dan merusak hubungan sosial. Amal yang banyak pun bisa kehilangan makna jika hati dipenuhi hasad.
Ramadan mengajarkan bahwa menjaga agama tidak cukup dengan ritual lahiriah, tetapi juga dengan membersihkan batin. Rezeki, keberhasilan, dan posisi seseorang adalah bagian dari ketetapan Allah yang sarat hikmah. Tidak ada pembagian yang keliru. Yang kerap keliru adalah cara kita menyikapinya.
Di era media sosial, rasa iri semakin mudah tumbuh. Kita melihat potret keberhasilan orang lain, pencapaian, dan kebahagiaan yang dipamerkan. Namun kita jarang melihat sisi rapuh, kegagalan, dan perjuangan yang tersembunyi di balik layar. Setiap orang membawa ujian masing-masing. Tidak ada hidup yang benar-benar tanpa beban.
Puasa seharusnya mengubah orientasi kita. Dari membandingkan menjadi memperbaiki. Dari mengeluh menjadi bersyukur. Dari iri menjadi introspeksi. Jika orang lain diberi keberhasilan, doakan agar ia semakin diberkahi. Jika kita belum sampai di sana, teruslah berikhtiar dan bersabar. Mungkin Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih tepat bagi kita.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling unggul di hadapan manusia, tetapi siapa yang paling tulus dan bertakwa di hadapan-Nya.
Ramadan adalah momentum terbaik untuk membersihkan hati. Tak perlu iri pada siapa pun. Kita tidak pernah tahu seberapa panjang doa yang telah mereka panjatkan. Dan boleh jadi, suatu saat nanti, orang lain justru belajar tentang kesabaran dan keikhlasan dari perjalanan hidup kita.
Selasa 24 Februari 2026.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM - Akademisi sekaligus Advokat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....