Riset Berdampak: Tantangan dan Peluang Perguruan Tinggi Membangun Bangsa

  • 29 Mei 2026 11:17 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Indonesia memiliki lebih dari 4.300 perguruan tinggi. Angka ini tampak besar. Namun, kualitas dan relevansi riset yang dihasilkan masih timpang. Banyak penelitian berhenti di laboratorium. Tidak sedikit yang hanya menjadi arsip di perpustakaan. Masyarakat tidak merasakan manfaatnya. Industri tidak mendapat inovasi yang siap pakai.

Padahal, negara membutuhkan riset yang berdampak. Bukan sekadar publikasi untuk kenaikan pangkat. Bukan proyek yang habis setelah laporan selesai. Indonesia ingin keluar dari jebakan pendapatan menengah. Target Indonesia Emas 2045 menuntut lompatan besar berbasis sains dan teknologi. Perguruan tinggi seharusnya menjadi garda terdepan. Tapi kenyataannya, jalan menuju riset berdampak masih penuh tantangan.

Tantangan yang Menghambat Riset Berdampak Masalah pertama adalah infrastruktur riset yang tidak merata. Minimnya fasilitas laboratorium berteknologi tinggi menghambat dosen dan mahasiswa melakukan penelitian mutakhir. Kampus di kawasan timur Indonesia sering kali tertinggal. Mereka tidak memiliki alat yang memadai. Akibatnya, potensi riset berbasis sumber daya lokal tidak tergali maksimal.

Masalah kedua adalah birokrasi riset yang kompleks. Peneliti menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mengurus izin dan pencairan dana. Kolaborasi internasional juga terbatas. Jejaring global sempit. Padahal, riset kelas dunia membutuhkan pertukaran pengetahuan lintas negara. Hambatan administratif ini membuat banyak peneliti asing enggan bekerja sama dengan kampus di Indonesia.

Ketiga, riset sering kali tidak terhubung dengan kebutuhan industri. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut fenomena ini sebagai “valley of death”. Ada jurang lebar antara hasil riset di kampus dengan produk yang bisa dikomersialkan. Peneliti membuat inovasi tanpa memahami pasar. Industri mengeluh karena riset tidak sesuai kebutuhan mereka. Kolaborasi akademik-industri masih lemah. Akibatnya, banyak produk riset yang secara ekonomi tidak layak.

Keempat, integritas ilmiah menjadi sorotan. Sebanyak 13 perguruan tinggi Indonesia masuk dalam daftar Research Integrity Risk Index 2024. Ini bukan persoalan niat buruk akademisi semata. Sistem penghargaan yang berorientasi pada kuantitas publikasi, bukan kualitas dan dampak, turut menyumbang masalah ini.

Terakhir, kualitas riset belum merata. Masih banyak sarjana yang menganggur. Lebih dari satu juta sarjana belum bekerja. Ini ironi. Sumber daya alam melimpah. Sumber daya manusia banyak. Tapi riset yang dihasilkan tidak mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Peluang di Tengah Keterbatasan Meskipun tantangan berat, ada angin segar. Pemerintah menunjukkan komitmen serius membangun ekosistem riset berdampak. Buktinya konkret.

Pada 2026, pemerintah mengalokasikan Rp1,7 triliun untuk 18.215 kegiatan riset dan pengembangan. Pendanaan ini disalurkan melalui sembilan program utama. Kesehatan mendapat porsi terbesar 27 persen. Ketahanan pangan menyusul 25 persen. Hilirisasi dan industrialisasi 16 persen. Digitalisasi, termasuk kecerdasan buatan dan semikonduktor, 15 persen.

Yang menarik, distribusi pendanaan riset ini cukup berimbang. Empat puluh persen penerima dari perguruan tinggi negeri. Enam puluh persen dari perguruan tinggi swasta. Ini menunjukkan upaya pemerataan akses. Pemerintah tidak hanya fokus pada PTN besar. PTS pun mendapat kesempatan.

Dana abadi penelitian LPDP mencapai Rp13,9 triliun. Sejak 2013, LPDP telah mendanai lebih dari 3.300 proyek riset. Total dananya mencapai Rp3 triliun. Setiap tahun, ada dana longgar sekitar Rp900 miliar dengan saldo lebih dari Rp2 triliun. Ini peluang besar. Sayangnya, akses pendanaan baru dinikmati sekitar 17.000 periset di seluruh Indonesia. Potensi masih besar untuk diperluas.

Program Bestari Saintek 2026 menyeleksi 122 tim riset terbaik dari 8.951 pendaftar. Mereka mendapatkan dana Rp57,5 miliar. Komposisi penerima cukup berimbang: 57,8 persen dari PTN dan 42,2 persen dari PTS. Fokus riset pada delapan sektor strategis. Pangan dan pertanian paling banyak dengan 45 tim. Sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan menyusul 30 tim. Ini sinyal positif. Pemerintah mendorong riset yang menyentuh masalah riil masyarakat.

Selain pendanaan, ada peta jalan yang jelas. Kementerian bersama BRIN menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional Edisi 2026. Prosesnya melibatkan 279 anggota tim. Terdiri dari 230 pakar perguruan tinggi, kementerian, dan industri. Ini bukan proyek birokrasi tertutup. Ada konsultasi publik. Transparansi diutamakan.

Studi Kasus Keberhasilan Riset Berdampak Riset berdampak bukan sekadar wacana. Beberapa kampus telah membuktikan. Mereka berhasil menembus “valley of death”.

Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penyimpanan Energi Listrik Universitas Sebelas Maret mengembangkan teknologi baterai dalam negeri. Tim peneliti memanfaatkan sumber daya lokal. Nikel, karbon, dan sodium dari tanah air sendiri. Mereka tidak hanya mengembangkan baterai lithium. Ada pula baterai berbasis sodium dan karbon yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Ini bukti bahwa teknologi tinggi bisa lahir dari kekayaan lokal.

UNS juga sukses mengembangkan Cur-Ko Smart. Suplemen herbal yang terbukti membantu mengontrol badai sitokin pada pasien COVID-19. Kini produk ini bekerja sama dengan industri farmasi Sidomuncul. Yang lebih penting, riset ini menjawab masalah besar: lebih dari 90 persen bahan baku obat Indonesia masih impor. Tim peneliti membuktikan bahwa kekayaan hayati Indonesia bisa menjadi solusi.

Cerita sukses lain datang dari Universitas Brawijaya. Kampus ini mengembangkan Pamugas Firewall untuk keamanan digital. Ada pula Boumi, produk kecantikan dari serabut jagung. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi menyebut telah bekerja sama dengan 13 perusahaan. Ini kolaborasi nyata. Bukan sekadar nota kesepahaman di atas kertas.

Kolaborasi: Kunci Utama Masa Depan Riset berdampak tidak bisa dilakukan sendiri oleh kampus. Dibutuhkan sinergi tiga pihak: akademisi, pemerintah, dan industri. Para ahli menyebutnya model triple helix.

Menteri Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperluas kolaborasi dengan industri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Termasuk pelaku UMKM. Kolaborasi ini bukan sekadar membuka akses pasar. Tapi juga memastikan riset sesuai kebutuhan nyata. Industri mendapatkan inovasi. Masyarakat merasakan manfaat langsung.

Penguatan sinergi ini menjadi strategi utama percepatan hilirisasi riset. Integrasi antara sains, teknologi, dan kebutuhan pasar diharapkan menciptakan industri baru yang kompetitif dan berkelanjutan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Industri tidak bisa hanya menunggu. Kampus harus proaktif menjembatani.

BRIN membangun Rumah Inovasi Indonesia untuk percepatan hilirisasi. Melalui pengelolaan kekayaan intelektual, inkubasi teknologi dan bisnis, hingga pelibatan modal ventura. Langkah ini perlu diapresiasi. Tapi eksekusi di lapangan akan menentukan hasil.

Rekomendasi Solusi Sistematis Agar riset berdampak menjadi kenyataan, diperlukan perubahan sistematis. Pertama, pemerintah perlu terus meningkatkan pendanaan riset. Dana abadi penelitian Rp13,9 triliun harus dioptimalkan. Jangkauan akses pendanaan perlu diperluas. Bukan hanya untuk peneliti di PTN besar. PTS dan kampus di daerah juga harus terakomodasi.

Kedua, sederhanakan birokrasi riset. Peneliti tidak boleh menghabiskan waktu untuk urusan administrasi yang berbelit. Sistem online yang terintegrasi bisa menjadi solusi. Fleksibilitas pelaporan seperti yang ditawarkan LPDP perlu diperluas.

Ketiga, ubah sistem penghargaan. Selama ini, dosen dinilai dari jumlah publikasi. Bukan dari dampak risetnya. Menteri berencana merombak kebijakan yang mengalihkan fokus dari angka publikasi ke mutu dan dampak penelitian. Ini langkah tepat. Perlu dipercepat implementasinya.

Keempat, perkuat kolaborasi lintas sektor. Pemerintah perlu menyediakan platform yang mempertemukan peneliti dengan industri. Matching fund bisa terus diperbesar. Insentif bagi industri yang mau berkolaborasi riset dengan kampus perlu diberikan.

Kelima, bangun kesadaran kolektif. Membangun universitas riset bukan kemewahan. Ini kebutuhan strategis. Bonus demografi Indonesia akan menjadi peluang emas hanya jika kita mampu menyiapkan sumber daya manusia berorientasi riset dan inovasi.

Kesimpulan Indonesia di persimpangan. Negara bisa terus menghasilkan riset yang berhenti di rak perpustakaan. Atau memilih transformasi. Riset yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri. Tantangannya nyata: infrastruktur terbatas, birokrasi rumit, kolaborasi lemah, integritas dipertanyakan. Namun peluang juga terbuka lebar. Pendanaan meningkat. Peta jalan disusun. Contoh keberhasilan mulai bermunculan.

Perguruan tinggi harus berani berubah. Tidak cukup hanya menjadi pusat pengajaran. Kampus harus menjadi motor inovasi. Mitra strategis pemerintah dan industri. Pemerintah di sisi lain wajib konsisten mendukung. Kebijakan yang berpihak pada riset berdampak perlu terus diperkuat. Sinergi triple helix bukan sekadar jargon. Ini keniscayaan untuk membangun bangsa melalui riset yang benar-benar berdampak.

(Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh apridar@usk.ac.id).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....