HARAPAN para kakek dan nenek ingin menimang cucu yang lucu, akan semakin jauh dari harapan. Para lansia terancam kesepian di usia senja, tanpa hiburan dengan kehadiran bayi-bayi mungil dari anaknya. Indikasinya sudah terlihat sekarang, para muda ogah menikah, setidaknya lama menunda hingga akhirnya malas menikah karena telanjur tua.
Banyak Negara menanggung beban dana pensiun dan kesehatan yang terus membengkak, seiring meningkatnya harapan hidup warganya. Jumlah lansia naik pesat, sebaliknya kelahiran bayi merosot.
Akibatnya negara cemas kehabisan angkatan kerja, bahkan kelangsungan generasinya. Mereka tumbuh negatif karena negara dihuni lebih banyak lansia yang makin panjang usianya.
Produktivitas angkatan kerja terkikis, contoh paling nyata ranah pertanian dan perkebunan, yang kekurangan anak muda. Desa hanya dihuni kaum tua, anak muda pergi ke kota bekerja di industri atau sekadar pekerja serabutan.
Indonesia pun sejak 2013 sudah mengalami turunnya angka pernikahan, mencapai titik terendah dalam satu dekade pada 2023 (sekitar 1,4 juta pernikahan), turun hampir 29 persen dalam 10 tahun terakhir.
Data 2023 tercatat hanya 1,4 juta pernikahan. Lalu 2024 turun lagi lebih dari 632 ribu pernikahan. Fenomena serupa terjadi di Jepang (turun 21,1 persen), China (turun 20 persen), dan bahkan Korea Selatan tertinggi karena anjlok 40 persen.
Korsel pegang rekor angka kelahiran terendah di dunia, dengan tingkat kesuburan (total fertility rate/TFR) yang terus merosot, bahkan sempat menyentuh angka sekitar 0,72 pada awal 2024. Faktor utamanya adalah tingginya biaya hidup, budaya kerja kompetitif, dan keengganan generasi muda untuk menikah.
Proyeksi Penduduk Dunia PBB pada 2025 pun mencatat negeri kecil seperti Andorra, terletak di Pegunungan Pyrenees hanya memiliki populasi anak 12 ribu, atau 14,5 persen dari 83 ribu total penduduknya.
Andorra merupakan contoh bahwa negara kecil juga tak luput dari tren penuaan demografi. Puerto Riko juga hanya memiliki 469 ribu anak dari 3,2 juta penduduk, atau sekitar 14,5 persen. Mereka mengalami eksodus besar-besaran anak muda ke daratan Amerika Serikat, memperparah penurunan populasi usia produktif.
Kawasan Asia Timur seperti Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura juga kekurangan bayi dan anak-anak. Dari 5,9 juta penduduk Singapura, hanya 844 ribu atau 14,4 persen yang berusia di bawah 18 tahun.
Serupa dengan negara maju Asia lainnya, rendahnya angka kelahiran di Singapura dipengaruhi gaya hidup urban, biaya pengasuhan anak, dan tekanan karier di kalangan muda.
Hong Kong dengan hanya 12,6 persen penduduk berusia di bawah 18 tahun, jumlah anak-anaknya paling sedikit di dunia. Dari total 7,4 juta penduduk, hanya sekitar 932 ribu yang berusia di bawah 18 tahun.
Menikah itu Ribet
Syahdan, menikah tak lagi pilihan favorit generasi muda modern. Mereka nyaman dengan individualitas, kebebasan mengejar strata tinggi pendidikan, jenjang karier, kemerdekaan privasi, dan memilih cara hidupnya yang disukai.
Jalan sukses ini selain makan waktu panjang, juga menghadirkan stress dan tekanan lingkungan di tempat mereka eksis. Biaya hidup yang tinggi, mekanisasi industri, keterbatasan ruang kota, dan tekanan pekerjaan juga menyumbang krisis kelahiran ini.
| Baca juga: Anak Bawang Penjebol Gawang |
Menikah dipersepsi ribet, banyak yang harus diurus. Ongkos rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan, dan akomodasi di kota besar kian melangit. Tak terkejar gaji mereka.
Guna merangsang kelahiran bayi, berbagai insentif dan bonus pun ditawarkan kepada anak muda agar menikah dan punya anak. Negara sediakan insentif tunai, kelonggaran cuti bagi ibu hamil, subsidi penuh perawatan anak, dan jaminan pendidikan.
Defisit kelahiran rupanya hanya terjadi di belahan makmur Eropa atau Asia. Tidak ada negara Afrika, Asia Selatan, atau Amerika Latin yang mengalami masalah ini. Nigeria, India, Argentina, dan Brasil memiliki populasi angkatan muda yang cukup.
Lebih dari setengah penduduk Nigeria berusia di bawah 18 tahun. Ledakan jumlah populasi muda dapat menjadi bonus demografi jika diselaraskan dengan lapangan kerja yang memadai.
Indonesia juga termasuk yang memiliki potensi besar bonus demografi, karena proporsi penduduk produktif relatif tinggi. Pada 2025 sekitar 30-33 persen penduduk Indonesia adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun, atau sekitar lebih dari 90 juta jiwa dari total penduduk.
Tumbuh Bisnis Baru
Angka Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pernikahan nasional terus menurun sejak 2013. Faktor penyebab penurunan ini antara lain perubahan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pada 2019 yang menaikkan usia pernikahan dari 16 tahun menjadi 19 tahun.
Megapolitan Jakarta paling nyata. Jumlah pernikahan yang tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) menurun dari 47.226 pasangan pada 2022, menjadi 44.252 pasangan pada 2023, dan terus turun menjadi 40.472 pasangan pada 2024.
| Baca juga: Megastar, Si Peremuk Gawang |
Boleh jadi hal serupa juga dialami kota-kota besar Surabaya, Medan, Bandung, Makassar. Di sana banyak wanita meniti karier dan bertahan tetap lajang. Para orang tua mereka, meski awalnya gundah, toh terpaksa berdamai dengan jalan hidup anak-anaknya.
Kita juga semakin terbiasa menemukan wanita usia hingga 30 tahun memilih kejar karier dan menunda menikah. Begitu pun para pria bertahan hingga dirinya mapan ekonomi. Jika mereka menikah, terpaksa tinggal di rumah orang tua, sewa kos, kontrak garasi, atau apartemen murah. Biaya hidup urban dan harga rumah tapak kian tak terjangkau.
Era digital juga punya andil besar. Berbagai aplikasi menghadirkan kemudahan dan kepraktisan. Media sosial menebar kecemasan tentang banyaknya konflik, kekerasan dan tragedi yang membatalkan keharmonisan rumah tangga.
Bercerai sudah dianggap biasa. Menjanda atau menduda juga tak mengapa. Lembaga perkawinan sepi calon mempelai. Bisnis perhelatan pesta kian sepi, rumah sakit ibu dan anak akan menyusut, dan kelengkapan bayi kurang peminat.
Bisnis baru yang akan tumbuh adalah apartemen, sewa atau kontrak rumah, restoran, layanan kecantikan, dan tempat-tempat pelesiran yang memanjakan privasi. Asuransi pribadi, mobil tipe mungil dan kompak, diperkirakan bisa terdongkrak.
Merespons kondisi ini, Kementerian Agama meluncurkan program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) untuk membangun kesadaran pentingnya kesiapan memasuki jenjang pernikahan.
Program "GAS Nikah" atau Gerakan Sadar Pencatatan Nikah juga diluncurkan untuk mendorong pernikahan resmi yang tercatat. Bisa jadi negara juga siapkan insentif menarik. Tetapi kaum muda cenderung memilih jalan hidupnya sendiri. Sebuah gaya hidup global yang merembes dan kian meluas.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....