KKN Berdampak Dorong Kemandirian Desa

  • 20 Jul 2026 11:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Paradigma Kuliah Kerja Nyata (KKN) di ranah perguruan tinggi kini mengalami transformasi besar. Mahasiswa tidak lagi sekadar datang sebagai tamu, melainkan hadir menjadi mitra strategis dan inisiator yang memberikan solusi nyata bagi kompleksitas persoalan di desa.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif "Purwokerto Menyapa" Pro 1 FM RRI Purwokerto, pada yang berlangsung beberapa hari lalu. Hadir sebagai narasumber, Ketua KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Purnadi, S.E., M.Si., dan Sekretaris LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Sri Wahyu Handayani, S.H., M.H.

Keduanya mengupas tuntas upaya universitas dalam melahirkan program pengabdian yang berkelanjutan di tengah krisis global pangan, ekonomi, dan lingkungan. Ketua KKN Berdampak UMP, Purnadi, menegaskan bahwa mahasiswa masa kini dituntut untuk menepis stigma lama KKN yang sekadar datang meminta dilayani.

Program yang diusung UMP berfokus pada ketahanan sosial, ekonomi, hingga pemanfaatan energi terbarukan di berbagai daerah hingga ranah internasional. "Kami melatih mahasiswa bahwa kita menerjunkan mereka itu tidak sebagai tamu di desa, tapi sebagai mitra desa, perguruan tinggi dituntut hadir sebagai solusi, tapi bukan sebagai pemecah masalah (instan), melainkan inisiator," kata Purnadi.

Purnadi menambahkan, guna menghindari program kerja yang berhenti di tengah jalan setelah mahasiswa pulang, UMP mewajibkan setiap rencana kerja didasarkan pada pelatihan riil bersama elemen lokal. "Kita melarang mahasiswa dalam membuat proker itu hanya sosialisasi, semua itu bentuknya harus pelatihan nyata, kita libatkan kelompok UMKM, Karang Taruna, hingga BUMDes agar ada output yang bisa mereka lanjutkan sendiri," jelas Purnadi.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris LPPM Unsoed, Dr. Sri Wahyu Handayani, memaparkan bahwa Unsoed pada periode Juli-Agustus 2026 ini menerjunkan mahasiswa ke sembilan kabupaten di Jawa Tengah hingga Belitung Timur serta KKN Internasional di empat negara. Unsoed membawa misi besar untuk mendukung program ketahanan dan literasi digital di tingkat desa.

"Syarat Anda melaksanakan program kerja KKN adalah pertama harus mendapatkan mitra sasaran yang jelas, mahasiswa di lokasi itu punya jam kerja, jadi enggak boleh ngendon di posko saja, mereka harus melakukan pendampingan intensif agar terlihat perbedaan before and after-nya," jelas Sri. Sri menambahkan pihak LPPM menerapkan strategi penempatan lokasi KKN yang ajek.

"Lokasi kegiatan KKN kami usahakan minimal tiga tahun atau tiga kali kegiatan KKN itu tidak berganti, ketika pembekalan, kami tanamkan bahwa mahasiswa itu bukan aktor yang mengerjakan (semuanya), tapi aktor intelektual," terang Sri. Sri menjelaskan diharapkan mitra sasaran dapat mengerjakan program yang dijalankan dengan didampingi mahasiswa, sehingga saat KKN selesai, masyarakat sudah pintar.

Menutup dialog, Sri mengutip falsafah mendalam dari proklamator Bung Hatta sebagai pemantik semangat bagi generasi muda pengabdi bangsa. "Indonesia itu tidak akan menyala hanya dengan satu obor di Jakarta, tetapi Indonesia akan terang dan menjadi Indonesia Emas karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di setiap desa di Indonesia," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....