Matahari yang Enggan Singgah: Potret Warga Bertahan di Sudut Padat Kampung Bandan

  • 20 Jul 2026 11:36 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di balik riuh dan gemerlapnya kawasan Ancol, Jakarta Utara, terselip sebuah kehidupan yang sarat akan ketegaran. Di sebuah gang sempit yang bersebelahan langsung dengan jalur perkeretaapian, hiduplah Ibu Hafiz (40), seorang ibu rumah tangga yang sudah satu dekade merantau dari Karawang bersama suami dan ketiga anaknya.

Keputusan untuk mengadu nasib di ibu kota diambil setelah mereka merasa peluang usaha dan lapangan pekerjaan di kampung halaman kian terbatas. Berbekal pengalaman sang suami sebagai sopir pribadi, mereka nekat menjemput rezeki di Jakarta dan akhirnya melabuhkan hidup di sebuah kontrakan berukuran sekitar $3 \times 4$ meter di kawasan Ancol.

"Dulu di kampung susah cari pendapatan. Karena suami punya pengalaman menyetir, akhirnya kami memilih ke sini," kenang Ibu Hafiz kepada RRI Jakarta, Senin 20 Juli 2026.

Untuk tempat tinggal sekecil itu, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp500.000 per bulan, harga yang sudah termasuk biaya listrik. Bangunan semi-permanen yang bertingkat di sekitar mereka pun bervariasi; hunian di lantai atas biasanya dihargai lebih murah, sekitar Rp300.000 hingga Rp350.000, karena kondisinya yang lebih panas dan berbahan kayu.

Kehidupan di dalam gang ini menuntut adaptasi yang luar biasa. Karena posisinya yang sangat padat dan tertutup, sinar matahari hampir tidak pernah masuk menyinari kediaman mereka. Warga sekitar bahkan kerap berkelakar bahwa wilayah tersebut adalah daerah 'tanpa siang' akibat minimnya sorot surya. Kelembapan tinggi dan pemandangan kali yang kotor di depan gang menjadi menu sehari-hari.

Meski begitu, Ibu Hafiz enggan larut dalam keluhan. Bagi dirinya, kehangatan antarwarga menjadi obat penawar yang mujarab. "Sukanya di sini, lingkungannya ramah-ramah, baik, dan rasa kekeluargaannya kental sekali. Itu yang bikin betah sampai 10 tahun," ujarnya tersenyum. Mengenai kondisi kesehatan anak-anaknya di lingkungan yang lembap, ia selalu bersyukur karena sejauh ini mereka tetap sehat, berkat komitmen untuk selalu menjaga kebersihan bersama.

Namun, tantangan terbesar keluarga ini adalah banjir. Sebagai kawasan yang akrab dengan genangan, banjir tahunan kerap menyambangi tempat tinggal mereka hingga setinggi lutut orang dewasa, bahkan sempat merusak barang elektronik seperti kulkas.

Saat ditanya mengenai harapannya kepada pemerintah, Ibu Hafiz tidak meminta sesuatu yang muluk-muluk seperti relokasi atau penataan besar. Harapannya sederhana, cerminan dari doa masyarakat kecil yang hanya ingin hidup tenang.

"Harapannya cuma satu, yang paling utama... jangan banjir lagi. Kalau banjir itu repot sekali," pungkasnya penuh harap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....