Lampaui Jawa hingga Sulawesi, PMA di Malut Tembus Rp39,4 Triliun TW-II 2026

  • 17 Jul 2026 21:54 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Jakarta – Maluku Utara mencatatkan prestasi baru di sektor investasi nasional. Provinsi yang menjadi pusat pengembangan industri hilirisasi mineral itu berhasil menjadi daerah tujuan penanaman modal asing (PMA) terbesar di Indonesia pada triwulan II 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp39,5 triliun.

Capaian tersebut diungkapkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani usai melaporkan realisasi investasi nasional kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 16 Juli 2026.

Menurut Rosan, posisi Maluku Utara berada di atas sejumlah daerah dengan basis ekonomi besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur dalam realisasi investasi asing selama periode April–Juni 2026.

Secara nasional, realisasi investasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun, meningkat 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut telah memenuhi sekitar 25,1 persen dari target investasi nasional tahun 2026.

Rosan menjelaskan, tingginya arus investasi menunjukkan kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih sangat kuat. Komitmen investasi jangka panjang, terutama dari China, Jepang, Korea Selatan, dan negara mitra lainnya, terus mengalir seiring membaiknya iklim usaha dan kepastian regulasi yang diberikan pemerintah.

“Pemerintah terus menjaga dan meningkatkan iklim investasi melalui berbagai kebijakan yang memberikan kepastian, terutama dalam aspek perizinan dan kemudahan berusaha. Hal itu mendapat respons positif dari para investor,” ujar Rosan, dikutip rri.co.id, dari Setneg.go.id.

Selain mencatat pertumbuhan nilai investasi, realisasi pada triwulan II 2026 juga menyerap 742.293 tenaga kerja, meningkat 5,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Komposisi investasi pun relatif seimbang, dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 49,6 persen dan PMA sebesar 50,4 persen.

Rosan juga menyoroti pemerataan investasi yang mulai terlihat antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Menurutnya, kontribusi investasi di luar Pulau Jawa kini sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa, mencerminkan semakin berkembangnya potensi ekonomi di berbagai daerah, termasuk Maluku Utara.

Dari sisi sektoral, industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatan menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp81 triliun, diikuti sektor transportasi, pergudangan, telekomunikasi, pertambangan, jasa lainnya, serta perdagangan dan reparasi.

Sementara itu, dari sisi asal negara investor, Hong Kong untuk pertama kalinya dalam satu dekade menjadi penyumbang investasi terbesar ke Indonesia pada triwulan II 2026 dengan nilai sekitar US$5 miliar, disusul Singapura, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.

Dominasi Maluku Utara sebagai penerima PMA terbesar memperkuat posisi provinsi tersebut sebagai salah satu episentrum investasi nasional, khususnya di sektor hilirisasi mineral. Capaian ini sekaligus mencerminkan meningkatnya daya tarik kawasan timur Indonesia di mata investor global seiring upaya pemerintah memperluas pemerataan pembangunan ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....