Oase Menatap Puing: Curahan Hati Jemaah Setia JIC di Tengah Ketidakpastian Renovas
- 17 Jul 2026 19:18 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Bayangan malam itu masih melekat erat di ingatan Ibu Diana (49). Sebagai warga yang tinggal tak jauh dari kompleks Jakarta Islamic Center (JIC), tempat tersebut sudah seperti rumah kedua baginya. Sebelum si jago merah meluluhlantakkan kubah megah itu, Ibu Diana kerap menghabiskan waktu di sana—mencari ketenangan, beristirahat, atau sekadar merebahkan diri melepas penat di area masjid yang adem dan religius.
Namun, sebuah sore mengubah segalanya. Ibu Diana mengenang momen mencekam saat ia baru saja kembali dari rumah menuju area JIC. Dari kejauhan, matanya menangkap kepulan asap dan percikan api.
"Sempat sampai pulang ke depan itu, ada percikan api itu. Pertama kan kecil-kecil, terus jadi besar," kenang Ibu Diana dengan suara yang sesekali bergetar. Jum'at 17 Juli 2026.
Dalam kepanikan yang luar biasa, ia menyaksikan api menjalar begitu cepat. Di depan gerbang, ia berteriak histeris meminta pertolongan, sementara tubuhnya tak kuasa menahan rasa takut.
"Saya teriak-teriak di depan gerbang itu kan, 'Tolong, tolong!'. Karena memang sudah besar banget api-nya, jadi gemetar sayanya. Enggak bisa ngomong apa-apa lagi, cuma minta tolong," tuturnya mengingat momen dramatis tersebut.
Di saat yang sama, para pegawai JIC bahu-bahu menyelamatkan aset-aset berharga, mulai dari kitab suci Al-Qur'an hingga dokumen penting lainnya.
Kini, hampir empat tahun telah berlalu sejak peristiwa kelam itu. Namun, pemandangan JIC tak banyak berubah. Bangunan ikonik yang menjadi kebanggaan warga Jakarta Utara itu masih berselimut puing-puing sisa kebakaran, berdiri membisu dalam kondisi terbengkalai.
Bagi Ibu Diana, melihat kondisi ini mendatangkan kesedihan yang mendalam. JIC yang dulu fungsional, kini terasa sunyi. Jemaah yang ingin mendirikan salat terpaksa dialihkan ke gedung hall. Banyak warga luar daerah yang datang bahkan tidak mengetahui bahwa masjid megah ini telah terbakar karena fasad luarnya yang menipu mata.
"Sedih aja sih, jadi terbengkalai gitu. Sayang, sebagus ini tidak dimanfaatkan," keluhnya.
Rasa heran kerap menghampirinya. Mengapa proses perbaikan memakan waktu yang teramat lama? Setiap kali rasa penasaran itu membuncah, ia sering bertanya kepada petugas keamanan setempat, namun jawaban yang didapat selalu sama: belum ada instruksi dari atasan.
Meski tertutup puing dan ketidakpastian, harapan Ibu Diana tidak pernah padam. Di matanya, JIC adalah tempat yang sangat strategis dan penuh manfaat. Ia mendambakan tempat ibadah ini bisa dibangun dan dipulihkan kembali seperti sedia kala.
"Pengennya saya sih ya seperti semula lah, bisa buat tempat ibadah orang-orang. Kalau ini dibenerin kan kayaknya enak, ramai lagi untuk orang berjamaah. Jadi enggak usah jauh-jauh," harapnya menutup pembicaraan.
Sebuah asa sederhana dari seorang warga yang merindukan kembali kehangatan dan kenyamanan di rumah ibadah kebanggaannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....