SIGAP PESISIR Diluncurkan, BPBD Makassar Target Pangkas Respons Darurat Pesisir

  • 17 Jul 2026 18:39 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar meluncurkan inovasi SIGAP PESISIR (Sistem Integrasi Gerakan Adaptif Pesisir) untuk mempercepat penanganan keadaan darurat di kawasan pesisir. Melalui sistem ini, waktu respons penanganan bencana ditargetkan turun dari rata-rata 90 menit menjadi hanya 15 menit. Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan inovasi tersebut dirancang untuk mengintegrasikan seluruh proses penanganan bencana, mulai dari pelaporan, koordinasi, pengambilan keputusan hingga pengerahan personel.

"SIGAP PESISIR dirancang untuk menyatukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu sistem kerja yang terintegrasi. Mulai dari pelaporan, koordinasi, pengambilan keputusan hingga pengerahan personel dilakukan secara lebih cepat, terukur dan efektif," kata Fadli, Jumat, 17 Juli 2026.

Menurutnya, kawasan pesisir Makassar memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir rob, gelombang ekstrem, abrasi pantai, cuaca buruk hingga kecelakaan di wilayah perairan. Karena itu, BPBD juga menyusun standar operasional prosedur (SOP) baru agar koordinasi lintas instansi dapat berlangsung lebih cepat tanpa hambatan birokrasi.

Selain mempercepat respons pemerintah, SIGAP PESISIR juga menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat pesisir melalui pelatihan penyelamatan dasar agar warga mampu melakukan tindakan awal sebelum tim penolong tiba di lokasi.

"Kami berharap SIGAP PESISIR dapat menjadi model penanganan kebencanaan berbasis kolaborasi yang nantinya dapat direplikasi oleh daerah pesisir lainnya," ujarnya.

Di sisi lain, BPBD Makassar juga memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui kerja sama dengan 23 perguruan tinggi di Kota Makassar. Program tersebut menargetkan mencetak sedikitnya 23.000 mahasiswa yang memiliki kemampuan dasar kebencanaan sebagai relawan terlatih.

Mahasiswa akan dibekali materi vertical rescue, water rescue, medical rescue, manajemen bencana, hingga pertolongan pertama. Pelatihan telah dimulai, termasuk melibatkan sekitar 500 mahasiswa Institut Kesehatan Pelamonia Makassar.

"Target kami sedikitnya ada 23 ribu mahasiswa yang memiliki kemampuan dasar kebencanaan sehingga menjadi sumber daya siap pakai ketika terjadi bencana," ujar Fadli.

BPBD juga terus mengantisipasi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino. Berdasarkan hasil asesmen sementara, sekitar 50 ribu jiwa di enam kecamatan berpotensi terdampak kekurangan air bersih. Fadli menjelaskan, pemerintah akan menentukan status penanganan melalui rapat koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan. Jika status tanggap darurat ditetapkan, BPBD akan menyalurkan bantuan air bersih melalui mobil tangki dan tandon air di wilayah terdampak.

Saat ini BPBD telah menyiapkan 57 unit tandon air dan akan menambah jumlahnya apabila diperlukan. Penanganan kekeringan dilakukan secara terpadu bersama BMKG, Basarnas, Perumda Air Minum (PDAM) Makassar, dan Dinas Pemadam Kebakaran untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....