Perubahan Iklim Picu Risiko Pernikahan Dini di Kalsel

  • 16 Jul 2026 20:43 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Perubahan iklim yang menyebabkan pola hujan tidak menentu di Kalimantan Selatan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian. Kondisi tersebut memicu gagal panen yang berujung pada meningkatnya tekanan ekonomi keluarga petani.

Situasi itu juga dinilai meningkatkan risiko pernikahan dini, khususnya pada anak perempuan di wilayah pedesaan. Hal tersebut disampaikan Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya, Muhammad Ardani, dalam acara WOOSH (Waktu Ngobrol Sore Hari) di RRI Pro2 Banjarmasin, Kamis, 16 Juli 2026.

Sementara itu, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya perubahan pola curah hujan serta peningkatan kejadian cuaca ekstrem. Dampaknya, produktivitas pertanian di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mengalami penurunan yang cukup signifikan.

"Gagal panen memang bukan penyebab tunggal pernikahan anak," ujar Ardani. "Namun, tekanan ekonomi yang menyertainya kerap mendorong keluarga mengambil jalan pintas dengan menikahkan anak perempuannya."

Lebih lanjut, Ardani menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan masih bergantung pada sektor pertanian berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Ketika panen gagal, banyak petani kesulitan membayar utang modal sehingga pendapatan keluarga menurun drastis.

Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat sebagian keluarga harus mengambil keputusan sulit demi mempertahankan keberlangsungan hidup. Dalam sejumlah kasus, anak perempuan menjadi pihak yang paling terdampak karena dianggap dapat mengurangi beban keluarga melalui pernikahan.

Data menunjukkan prevalensi perempuan usia 20–24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun sempat menurun dari 8,74 persen pada 2023 menjadi 7,80 persen pada 2024. Namun, angka tersebut kembali meningkat menjadi 8,38 persen pada 2025 dan masih berada di atas rata-rata nasional yang sebesar 5,90 persen.

"Anak-anak dan remaja perlu mendapat ruang untuk memahami risiko pernikahan dini sejak awal," kata Relawan Citra Mitra Remaja, Helmaria Safarina. "Dengan begitu, mereka memiliki keberanian untuk menyuarakan pilihan dan cita-citanya sendiri di tengah tekanan ekonomi keluarga."

Oleh karena itu, pernikahan dini dinilai tidak hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga kesehatan reproduksi serta kualitas generasi mendatang. Pemerintah daerah didorong memperkuat perlindungan sosial sekaligus memperluas akses program edukatif agar dampak perubahan iklim tidak semakin mempersempit masa depan anak perempuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....