WALHI: Masyarakat Pesisir Gunungkidul Hadapi Ancaman Ganda
- 16 Jul 2026 16:35 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Masyarakat pesisir Kabupaten Gunungkidul dinilai menghadapi ancaman ganda menjelang musim kemarau. Di tengah potensi kekeringan akibat fenomena El Nino, ruang ekonomi warga dari pengelolaan kawasan pantai disebut semakin menyempit akibat ekspansi pariwisata.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Yogyakarta Gandar Mahojwala mengatakan bahwa pembangunan pariwisata di Gunungkidul kini bergeser dari konsep berbasis masyarakat menjadi pariwisata yang didominasi oleh investasi skala besar. Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya mengubah bentang alam karst, melainkan juga mengurangi akses masyarakat dalam mengelola kawasan pantai yang selama ini menjadi sumber penghasilan tambahan.
"Pariwisata yang awalnya berbasis masyarakat saat ini beralih menjadi pariwisata ekstraktif yang bukan memanfaatkan kontur lingkungan, tetapi justru mengubah bentang alam itu sendiri, dalam konteks ini adalah karst," ujarnya di Kantor WALHI Yogyakarta pada Rabu, 15 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat Gunungkidul bertumpu pada dua sumber penghidupan, yakni sektor pertanian dan pengelolaan kawasan pantai. Ketika hasil pertanian menurun saat musim kemarau, pendapatan dari wisata berbasis masyarakat menjadi penopang ekonomi utama, termasuk untuk membeli air bersih.
Menurut Gandar, kondisi tersebut berpotensi menjadi semakin berat karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena El Nino mulai terjadi pada Juli 2026 ini. Di sisi lain, serangan monyet ekor panjang yang semakin meluas juga menyebabkan banyak lahan pertanian tidak lagi produktif sehingga masyarakat berpotensi kehilangan dua sumber penghasilan sekaligus saat kemarau melanda.
Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah Fahmi Bastian mengungkapkan bahwa kecenderungan pembangunan di kawasan pesisir juga terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Menurutnya, kawasan pesisir banyak dipilih untuk pengembangan karena didukung oleh ketersediaan lahan serta infrastruktur logistik.
"Hampir keseluruhan kawasan industri besar berada di wilayah pesisir," katanya.
Fahmi menambahkan bahwa karakteristik kawasan pesisir yang rentan terhadap abrasi dan penurunan muka tanah perlu menjadi pertimbangan serius dalam setiap rencana pembangunan. Langkah ini dinilai penting agar proyek yang berjalan tidak meningkatkan kerentanan masyarakat yang menggantungkan hidup di wilayah tersebut. (Fatimah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....