Pendidikan Inklusif Jadi Fokus MPLS Sekolah Rakyat di Kota Semarang

  • 16 Jul 2026 13:58 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang menggabungkan pengenalan lingkungan sekolah dengan masa pengenalan lingkungan asrama untuk memberikan pengalaman pendidikan berasrama yang komprehensif.
  • Sekolah menekankan penanaman nilai empati, gotong royong, cinta lingkungan, dan kerja sama sebagai fondasi utama untuk membangun kekompakan dan karakter siswa dalam menempuh pendidikan.
  • Program ini menerapkan pendidikan inklusif dengan menyediakan pendampingan guru shadow, pelatihan tenaga pendidik, serta kolaborasi dengan psikolog untuk memastikan anak berkebutuhan khusus mendapat layanan pendidikan yang setara.
  • Keberhasilan MPLS diukur dari kemampuan siswa beradaptasi dengan lingkungan, memiliki semangat belajar yang tinggi, dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

RRI.CO.ID, Semarang - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Kota Semarang tahun ajaran 2026/2027 tidak hanya memperkenalkan lingkungan belajar, tetapi juga membekali peserta didik dengan kehidupan berasrama. Melalui pendekatan tersebut, sekolah menekankan pendidikan yang inklusif, penguatan karakter, serta kemandirian sejak hari pertama siswa mengikuti kegiatan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Kota Semarang, Ridho Irwanto, mengatakan pelaksanaan MPLS di sekolah rakyat memiliki perbedaan dibandingkan sekolah reguler karena dipadukan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Asrama (MPLA). "Kalau MPLS di sekolah negeri kan lebih ke kegiatan di sekolah, kalau MPLS di sekolah rakyat kan kita juga melaksanakan masa pengenalan lingkungan di asrama," ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Kamis, 16 Juli 2026.

Selama MPLS, peserta didik mengikuti berbagai kegiatan ramah anak, mulai dari permainan edukatif, mendongeng, sosialisasi kesehatan, edukasi antiperundungan, hingga pengenalan fasilitas sekolah dan asrama. Kegiatan tersebut juga dirancang secara bertahap sesuai jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA agar materi yang diterima sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Ia menuturkan sekolah menanamkan nilai empati, gotong royong, cinta lingkungan, dan kerja sama. Hal ini menjadi bekal utama siswa selama menempuh pendidikan berasrama.

"Yang ditanamkan pasti empati ya, saling peduli dengan sesama, karena anak-anak ini kan menjadi satu keluarga, di sini mengembangkan karakter kita saling gotong-royong, kerja sama, dan cinta lingkungan. Kekompakan akan kita bangun, itu menjadi fondasi utama anak-anak, biar berjuang bersama untuk meraih cita-citanya," katanya.

Selain penguatan karakter, Sekolah Rakyat juga menerapkan pendidikan inklusif dengan memberikan pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus melalui guru shadow, pelatihan bagi tenaga pendidik, serta kerja sama dengan psikolog dan lembaga terkait. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang setara tanpa membedakan latar belakang maupun kemampuan.

Program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui sistem pendidikan berasrama. Menurut Ridho, keberhasilan MPLS ditandai dengan kemampuan siswa beradaptasi terhadap lingkungan sekolah dan asrama, memiliki semangat belajar, serta tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....